Doa Vs Law of Attraction

+6

Oleh Suci Raharjo

Masih dengan Mas Bejo ditantangan menulis Ramadhan Writing Challange Bang Lutfi, kali ini Tema ke 3 lumayan serius, “DOA atau HARAPAN”. Menerima tema itu aku langsung teringat salah satu tulisan dan Buku ke 2 ku yang berjudul “The Secret Of Life”, dimana didalamnya terdapat beberapa Bab yang membahas secara khusus tentang doa. Tanpa fikir panjang aku coba menuangkan kembali tulisan-tulisan tersebut didalam tulisan ku kali ini. Tanpa ada sedikitpun niat mengajari atau menggurui, hanya sekedar ingin berbagai saja apa yang telah aku tuangkan dalam buku tersebut. Karena apalah saya ini yang baru belajar Agama dan Kehidupan kemarin sore.

Kata Doa diambil dari Bahasa Arab yang secara etimologi (bahasa) bererti “seruan, panggilan, ajakan atau permintaan”. Jika ditinjau dari segi terminologi (pengertian syara’), doa adalah “memohon kepada Allah SWT dengan meminta kebaikan dari sisiNya dengan penuh ketulusan hati dan penuh pengharapan”. Dalam sebuah tulisan ilmiah yang ditulis oleh Muhammad Nurudin yang berjudul “The Law Of Attraction dan Doa Dalam Islam”. Ustadz M. Syafii Antonio mengilustrasikan dalam sebuah skema bagaimana keterhubungan manusia dan intevensi / akselerasi Allah SWA (dari berdoa) dalam mempengaruhitercapainya tujuan hidup manusia.

Kekuatan Allah Tuhan Semesta Alam adalah satu-satunya yang mampu mempengaruhi bahkan menentukan segala aspek yang berkenaan dengan kehidupan manusia. Maka sebenarnya ketika manusia memanjatkan doa, sesungguhnya ia sedang memohon intervensi Allah untuk mewujudkan keinginan, harapan, atau cita-cita yang sedang diusahakan. Dengan demikian berdoa (attract: menarik) merupakan upaya pelipatgandaan potensi. Sebenarnya ada beberapa hal dalam The Law of Attraction yang dapat memperkaya trik berdoa dalam Islam. Beberapa dari kita selama ini berdoa dengan mengandalkan haqqul yaqin didasari dalil naqli, seperti firman Allah:

Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Dengan tambahan pemahaman tentang The Law of Attraction, maka dalil naqli akan bergandengan dengan dalil aqli, yang akan memperkokoh keyakinan akan keterkabulan doa dari Allah SWT. Bahwa ada mekanisme, proses alam, pengaruh gelombang pikiran dan perasaan dalam keterkabulan doa. Selain catatan bahwa kedekatan dengan Sang Pencipa semesta merupakan hal urgen yang harus diperhatikan.

The Law of Attraction sepintas juga mengajarkan bahwa manusia bertanggungjawab dalam kehidupannya, karena manusia menuai apa yang ia pikirkan dan rasakan. Sehingga tidak patut dan tidak bermanfaat meyalahkan kondisi, lembaga, orang lain, dan Tuhan berkaitan dengan kemalangan nasibnya. Maka muncullah dalam benak mengkaji lebih lanjut bahwa Inni Inda Zhoni Abdy, “Aku dalam prasangka hamba Ku”. Kerja keras, didukung dengan kerja yang cerdas, ditambah dengan doa yang memelas, tentunya sudah sangat cukup menjadi asbab Allah mempermudah dan berkenan mengijabahi semua hajat. Tetapi dari The Law of Attraction muslim diingatkan kembali untuk mempondasi semua doa dengan keyakinan penuh atas kemahakuasaan Allah mengabulkan segala permohonan. Dan salah satu sebab attraction atau doa tidak terjawab adalah mempertanyakan kemampuan, tingkat kemungkinan, kapan, bagaimana bisa keinginan ini terjadi sebagai bentuk-sekali lagikesangsian akan kemahakuasaan Allah mengabulkan segala permohonan.

Banyak artikel dan video di Youtube tentang bagaimana menanggapi prinsip “law of attraction” ini, termasuk penjelasannya menurut Islam, dan topik ini jadi menarik karena aku pribadi juga memahami dan mencoba mencari hubungannya dalam Islam. Lalu, bagaimana bisa prinsip law of attraction tidak sesuai dalam Islam? Jawaban paling simple adalah sebagai berikut: “Allah adalah Dzat penentu semua hal yang terjadi di Dunia ini, dan semuanya terjadi atas izin-Nya, bukan semesta, bukan dirimu, bukan orang lain”. Jangankan dalam Islam, dalam semua agama juga meyakini bahwa Tuhan lah yang memiliki kuasa atas segala hal yang terjadi di Dunia ini.

Pada prinsipnya law of attraction itu adalah segala hal terjadi berdasarkan pikiran kamu. Kamu berpikir baik atau buruk, A atau B secara konstan, maka itulah yang kamu dapat. Lantas bagaimana kita bisa memahami prinsip law of attraction ini dalam pandangan Islam? beberapa dalil yang coba aku kumpulkan menghasilkan beberapa pemahaman sebagai berikut:

  • Prasangka ke Allah Aku (Allah) berdasarkan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila dia berbaik sangka, maka dia akan mendapat kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan datang. (HR. Ahmad)

Hadis diatas sangat bisa meluruskan pemahamanmu bahwa kamu seharusnya bukan yakin kepada hal yang abstrak ataupun semesta. Berbaik sangka kepada Allah adalah hal yang sangat dianjurkan dalam Islam, dan sebaliknya, berburuk sangka kepada Allah sangat dilarang. Sehingga saat kita memiliki cita-cita dan sebuah tujuan yang baik, maka cara terbaik adalah berdoa dan meminta kemudian yakin bahwa Allah akan mengabulkan, dan menghilangkan segala keraguan kepada-Nya.

  • Hanya Tuhan Tempat Meminta Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya PASTI akan Aku perkenankan bagimu”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembahKu akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Ghofir, 60)

Sangat jelas bukan? kemana lagi kita meminta selain ke Allah? tidak ada tempat lain dan tidak ada harapan lain, murni ini adalah tahapan “meminta” dalam mewujudkan sebuah keinginan dan cita-cita. Tuhan sendiri yang berfirman, PASTI AKAN KU KABULKAN” lantas alasan apa lagi yang membuat kita masih tidak meyakini hal itu?

Sisanya adalah berusaha mendapatkan yang tentu didampingi rasa pecaya diri dan yakin, tapi bukan yakin pada hal yang abstrak dan gak tau kemana, apalagi alam semesta. Padahal siapa juga yang menciptakan alam ini kalo bukan Allah. Keyakinan hanya ditujukan kepada Allah.

  • Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu. (QS. Yasin, 82)

Intinya dari ayat ini bisa menjelaskan jika kita mempercayai suatu hal, tentu itu akan sangat mudah bagi Allah untuk merealisasikannya buat kita. Sebaliknya jika kita tidak percaya dan bahkan salah prinsip yang kemudian menyebabkan kita meyakini hal yang salah, bisa jadi juga hal buruk menimpa kita, entah peringatan atau azab. Intinya semua yang terjadi, termasuk cita-cita dan impianmu yang tercapai itu 100% karena kehendak Allah, tidak ada yang lain.

Sebenernya masih banyak banget ayat-ayat di kitab Al-Quran yang bisa memberi penjelasan terhadap prinsip ini. Beberapa lainnya yang tidak aku kutip disini adalah QS Hud ayat 6, QS AT-Talaq ayat 3, pembaca dapat membacanya sendiri di Al-Quran. Bagaimanapun jika kamu menggunakan prinsip itu secara mentah, menurut aku itu tidak sesuai. Salah satunya karena prinsip itu sangat mengesampingkan Tuhan, seolah-olah semua berdasarkan keyakinan diri dan semesta memberikannya, padahal jelas semua atas kehendak Allah yang Maha Kuasa. Namun, nyatanya jika kita mau menelisik lebih dalam lagi sebenarnya secara tidak langsung pemahaman ini justru memberi bukti kebenaran Al-Quran dan Islam, bahwa semua tujuan, cita-cita, harapan, jika kita fokus, yakin, Istiqomah dan Terus berdoa, maka gak ada yang gak mungkin terjadi.

Bekasi, 26 April 2021


Photo by Katrina Wright on Unsplash

+6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *