Ramadan, Doa, dan Itikaf

Oleh : Wiekerna Malibra

“Apakah pernah ada yang merasa, diri begitu penat dan lelah menghadapi hari yang tampak suram di mata?” 

“Adakah yang pernah merasa putus asa dari apa yang diharapkan terjadi tapi ternyata tak kunjung jadi nyata?” 

“Apakah ada yang punya masalah, maaf, dengan penantian dan jodoh?” 

Jika YA jawabannya, maka saya adalah termasuk salah satu di antaranya. 

Saya pernah begitu galaunya menghadapi hari-hari menjomblo. Maksudnya menantikan jodoh mbloo. Jodoh alias tambatan hati untuk menjadi pasangan hidup saya, setelah masa lajang yang ternyata sangat panjang untuk saya lewati. Dia yang datang dari ridho Illahi. Dia yang entah dimana…wahai Robbi?!

Padahal selama ABG atawa remaja, saya tak pernah nakal. Tak pernah pacaran. Karena Ayah saya termasuk Orangtua yang galak. Pernah suatu sore sewaktu saya masih SMP, ada seorang teman lelaki datang mengantarkan surat. Katanya dari dia untuk saya. Tapi…ternyata…Ayah saya dari dalam rumah melihatnya dari jendela. Ayah lantas keluar dan mengambil surat dari teman lelaki itu dan kemudian membacanya keras-keras. Malu gak siih kalau kamu jadi aku dan dia?!

Dan sejak itu saya tidak mau lagi dekat dengan satu teman lelaki. Maksudnya biar tidak terjadi apa-apa. Agar kejadian memalukan itu tidak terulang lagi. Peralihannya…saya jadi suka main dengan beberapa teman lelaki, yang asal aja, gak dibawa serius. Pertemanan hanya sebatas urusan sekolah. Urusan pelajaran, bahas peer, ulangan, ekskul. Penampilan saya pun nyaris tomboy. Lebih suka kaos dan celana panjang. Biar gak tampak cantik dan modis, tapi manis mah teteup…ufs… 

Kembali ke soal “Jodoh”. Orang yang saya harapkan menjadi jodoh saya adalah yang seiman seagama, sependidikan formal, sepekerjaan yang aman, sependapatan bulanan yang mapan, sepengetahuan kawan dan orang tua, setampan yang saya harapkan, sebaik-hati dan setia, sehidup semati?!

“Ada gak?!”

“Banyak.” 

Tapi masalahnya ada gak, “stok yang saya harapkan itu, “ada – tersedia” untuk saya”. Yang ternyata setelah saya makin dewasa, kog jadi hilang manisnya dan body pun out of body pulak

Sampai tiba pada suatu bulan Ramadhan, beberapa orang kawan kerja mengajak saya  itikaf di Masjid. Tujuannya?! Mensucikan diri dengan beribadah dan berdoa yang lebih intens di 10 malam terakhir. Berharap agar doa dan permohonan kita dikabulkan Allah. 

“Ya Allah…Ya Pemilik semua raga manusia, semua ruh manusia, kasihanilah hamba…..yang fakir dan miskin…yang sepi dan sendiri…” seperti itulah doa yang saya lantunkan kehadirat Allah di malam-malam sepi terutama di malam 10 hari bulan Ramadhan sewaktu menjalani itikaf di Masjid. 

Alhamdulillah setelah 3x itikaf akhirnya Allah SWT menjawab doa saya. Entah bagaimana mulanya, saya bertemu dengan orang lain yang benar-benar baru saya kenal, di sebuah organisasi. Dan entah bagaimana mula dan ceritanya tapi alur hidup mengalir begitu saja. Tiba-tiba saja dia tertarik pada saya dan berikrar mau menikahi saya. Dan ternyata hingga saat ini (semoga sampai nanti), dialah jodoh yang saya nantikan selama ini. Orang yang kriterianya telah saya mintakan pada Allah. 

Butuh 3x itikaf Ramadhan untuk saya jalani. “Tidak semudah dan secepat seperti di sinetron ya?!” Tapi benar-benar butuh waktu. Butuh proses untuk doa saya dikabulkan.


Photo by Element5 Digital on Unsplash


Wiekerna Malibra bergabung dengan FLP Jakarta tahun 2008. Puisinya dimuat di LINIFIKSI dan Jejak Publisher. Puisi Antologinya: Tahun 2018:“Cinta Di Bumi Raflesia” dan “Kutulis Namamu Di Batu”. Tahun 2017: “The First Drop Of Rain”, “Perempuan Memandang Dunia”, “Roncean Syair Perempuan”, “Antologi Puisi Rindu” dan “Gempa Pidie 6,4 SR. 05.03 WIB”. Tahun 2016: “Kumpulan Puisi Kopi 1,550 mdpl”, “Tifa Nusantara 3: Ije Jela”, “Cimanuk, Ketika Burung-Burung Kini Telah Pergi”, “Puisi Peduli Hutan” dan “Arus Puisi Sungai”. “Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut”, 2015. “Puisi Kartini 69 Perempuan Penyair Indonesia”, 2012. Kumpulan Puisi TKI 2012, dan 4 kumpulan puisinya dimuat www.kompas.com (2010-2012). Antologi Cerpennya “Wak Ali dan Manusia Lumpur”, FLP Jakarta, 2016. Cerpen lainnya di Majalah Sekar dan Story juga dalam KumCer Anak. Juara III Lomba Cerpen QLC Trenggalek 2010. Juara I Lomba Cerpen Inaugurasi Pramuda FLP Jakarta 2008. Resensi: Novel Casuarina, 2009 dan “Munir, Cermin Yang Mewariskan Keberanian”. Esai Antologi: “Guru Kehidupanku”, 2011 dan “24 Jam Sebelum Menikah”, 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *