Elegi Seorang Single Mom

Oleh: Ainag Inairah

Tak berlebihan jika orang mengatakan ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Pertolongan Allah dimudahkan, terlebih melalui para pemburu pahala ramadan. Dari makhluk-makhluk yang tergerak hatinya, Allah menurunkan rahmad-Nya.

Seorang sahabatku semasa sekolah menengah pertama, yang berasal dari salah satu kota yang pernah kutinggali beberapa tahun, bercerita kepadaku. Kami sudah bertahun-tahun terputus komunikasi, tak berjumpa puluhan tahun, sampai aku tergerak untuk mencari kabar tentangnya. Hingga ia menceritakan kisah ini.

Sahabatku ini, sebut saja namanya Nining. Ia seorang ibu tunggal dengan tiga anak yang masih sekolah. Suaminya, seperti cerita di sinetron atau novel-novel yang sedang digandrungi selera pasar masa kini, meninggalkannya karena terpikat perempuan lain yang lebih muda dan cantik.

Nining tak hanya harus menanggung biaya hidup anak-anak kandungnya. Namun juga dua orang anak yatim yang merupakan tetangganya. Mereka adalah anak-anak yang diasuhnya saat suaminya yang seorang pegawai perusahaan asuransi ternama, masih membersamai mereka.

Sahabatku ini adalah ibu rumah tangga tulen, tak pernah bekerja, tak punya harta yang berlebih, tak punya keluarga yang bisa mendukung. Kedua orang tuanya telah tiada dan satu-satunya kakak kandung tidak perduli kepadanya.

Setelah hidup sebagai ibu tunggal, kemudahan yang mulanya menghampiri mereka adalah anak-anak asuhnya mendapatkan beasiswa hingga ia tak perlu memikirkan biaya sekolah mereka. Namun ia tetap harus memutar otak bagaimana mencukupi makan dan kebutuhan hidup lain bagi kelima anak yang hidup seatap dengannya.

Sepeninggal sang suami, ia hanya bisa berjualan serabutan. Apapun barang dagangan yang bisa ia jual, akan ditawarkan.  Beberapa kali saat malam hari ia harus mengendarai motor tuanya menempuh perjalanan jauh hanya demi mengambil komoditi dagangan yang murah. 
Ia tinggal tak hanya di sebuah kota kecil, namun juga di pinggir kota tersebut, mendekati wilayah pedesaan. Hingga masyarakatnya juga hidup sederhana, tak membutuhkan banyak pilihan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Disini mau jual apa-apa susah, orang-orang lebih suka bikin sendiri atau makan yang ada saja,” ucapnya di awal kisah.

Saat itu ramadan empat tahun yang lalu. Hari kelima puasa ia nyaris tak memiliki uang sepeser pun. Beras tersisa beberapa kaleng, lauk yang ada hanya tahu, tempe dan beberapa butir telur. Sayur masih bisa ia dapatkan dari memetik tanaman di kebun sendiri.

“Aku sudah menghubungi Ayah anak-anak. Tapi ia bilang tak punya uang. Masa sekedar makan untuk anak-anaknya saja ia tak punya?!”

Sang mantan suami sedang sibuk-sibuknya dengan istri baru, hingga tak lagi hirau dengan perut anak-anaknya. Setiap hari yang bisa ia lakukan adalah menitipkan kue-kue buatannya ke beberapa penjual.

Herannya, di saat biasanya orang-orang akan menyerbu aneka makanan untuk berbuka puasa, tapi tidak pada saat itu. Beberapa hari terakhir dagangannya selalu tersisa banyak. Kata penjual yang ia titipi, pasar sedang ssepi

“Sungguh, aku bingung setengah mati. Apa lagi yang bisa kulakukan.” Demikian ceritanya.

Setiap malam ia mengadukan semua gundah kepada pemilik hidup. Menangis dalam sujud-sujud panjang. Menengadahkan doa agar karunia dilimpahkan. Dibukakan jalan untuk menjemput rezeki. Setelahnya ia menyiapkan makanan sahur bagi anak-anaknya.

Ia pun harus melakukan berbagai cara untuk berhemat. Memotong lauk dalam potongan-potongan kecil supaya jadi banyak, membumbuinya lebih asin dari seharusnya agar anak-anak merasa cukup dengan sedikit saja bagian lauk masing-masing.

Khusus untuk dirinya, ia hanya meneguk teh hangat, agar perut sedikit kenyang tanpa harus diisi makanan padat. Melihat anak-anak yang tetap makan dengan lahap, dan saling bercengkerama, membuatnya masih menyimpan harapan. Pertolongan Allah akan segera datang.

Beberapa hari kemudian saat keadaan benar-benar sudah kritis, ba’dha shalat dhuhur pintu rumahnya diketuk orang. Ternyata rombongan teman-teman sekolah. 

Tak disangka-sangka, teman-temannya ini membawakan bingkisan yang berlimpah. Beras sepuluh kilo, mi instan satu dus, telur dua kilo, sirup, gula, dan beberapa bahan pokok lain.

“Masya Allaah, aku langsung nangis! Mereka memelukku bergantian. Padahal aku tak pernah bertemu dengan mereka bertahun-tahun lamanya…” ujarnya kemudian.

Tak hanya sampai di situ. Ketika mereka akan berpamitan, salah seorang mendekati Nining sambil mengangsurkan sebuah amplop.

“Aku kaget …. Isinya banyak sekali! Lima ratus ribu!”

Ia tersedu-sedu masih dalam pelukan kawannya. Sampai Ilham, si anak bungsu yang ikut menemaninya menerima tamu, memandangi dengan tatapan bertanya.

Aku yang mendengar ceritanya lewat sambungan telepon ikut terharu. Menyesali mengapa tak dari dulu aku tergugah mencari tahu keberadaannya. 

Tak hanya sampai di situ, setelah kunjungan kawan-kawan SMA-nya, qadarullah pintu rezekinya terbuka. Ia sempat berhenti berjualan karena mempertimbangkan produk apa lagi yang lebih laku di pasaran.

“Tiba-tiba saja pesanan malah banyak. Pesanan macam-macam kue, takjil untuk masjid-masjid, sampai nasi untuk berbuka. Tak henti-henti meski aku tak lagi menitipkan jualanku pada pedagang di pinggir jalan.”

Aku ikut lega mendengarnya. Hanya dari jauh aku bisa mendukungnya, karena kami terpisah jarak.

“Dari uang lima ratus itu aku putar lagi keuntungannya. Lalu beberapa minggu kemudian kamu menghubungiku, lewat salah satu kawan sekolah kita. Aku senang sekali! Rasanya itu adalah salah satu ramadan terbaik yang kualami,” ucapnya menyambung cerita.

“Ditambah bantuan modal darimu, akhirnya aku bisa membeli peralatan yang memadai untuk mengolah makanan, dengan tampilan yang lebih baik. Bahkan sekarang aku ditunjuk sebagai ketua kegiatan pemberdayaan para perempuan di kampungku.”

Rasanya yang akan membuat kita semakin bersyukur adalah bila keberadaan kita memberi manfaat dan keberkahan bagi orang lain. Apalah makna pencapaian diri, jika kita tak punya arti sebagai perantara rahmad Allah.

“Aku selalu mendoakan kamu dan anak-anakmu,” ucapnya sering kali kepadaku, “Kamu adalah salah satu sahabat terbaikku, yang tak lekang oleh waktu….”


Penulis adalah seorang ASN di Kementerian Keuangan RI. Penggila novel yang jumlahnya ratusan, dan memenuhi rak buku yang menjulang hingga harus menggunakan kursi untuk meraih rak tertingginya. Menulis adalah panggilan hati, sebagaimana apresiasinya pada puisi dan seni. Aktif di Komunitas Sastra Kemenkeu, bergabung dengan beberapa grup/komunitas literasi di luar itu,  menjadi kontributor freelance di situs instansinya, serta menulis di mana pun tulisannya diterima. Saat ini berkeinginan menerbitkan buku solo yang bisa dinikmati banyak orang, setelah 7 antologi yang diikutinya.


Photo by Standsome Worklifestyle on Unsplash


One Comment on “Elegi Seorang Single Mom”

  1. Alhamdulillah… Kmu benar2 sahabat yg tak lekang oleh waktu, lbh tepat klo kmu aq sebut sodaraku gan,, doaku selalu untukmu sekeluarga.. Kmu yg sllu ada saat aq dlm kesulitan.. Sukses dan bahagia sllu bwtmu gan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *