Doa yang Bertemu

Oleh: Fandi Yusuf

Juli 2013.

Cahaya redup lampu memantul di dinding marmer yang besar. Membangun suasana syahdu, seolah memang didesain khusus untuk membantu para pencari Tuhan tenggelam dalam kekhusyuan. Ruangannya sangat luas dan dikelilingi oleh banyak jendela berukuran besar. Jendela-jendela itu mengizinkan angin malam menyusup melewati setiap rongganya, membawa kesejukan yang menenangkan bagi jiwa yang mencari ketenangan. 

Karpet besar berwarna kemerahan menutupi hampir separuh ruangan luas itu. Saking besarnya, aku berpikir bagaimana mereka membersihkan karpet ini? Tapi itu bukan pertanyaan yang aku cari jawabannya di ruangan besar yang megah ini. Ada pertanyaan lain yang menganggu sejak lama. Dan aku butuh jawabannya. Segera. Semoga.

Tentu bukan aku saja manusia yang diliputi kegalauan dan berusaha mencari jawaban di ruangan besar itu. Setiap malam pada bulan mulia yang dinantikan ini, manusia-manusia seperti aku berkumpul memenuhi ruangan besar itu. Terutama pada sepuluh malam terakhir. Saat Ramadhan akan pergi dan dijanjikan malam yang membawa jawaban atas doa.

Mereka datang dengan pertanyaannya masing-masing. Dengan kegundahan dan kegalauannya masing-masing. Mengadukan pertanyaan-pertanyaannya pada yang Maha Mendengar. Malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya di ruangan besar itu; aku membawa pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalaku. 

Tuhan yang memberi dan mengambil kehidupan, memberikan rezeki, dan menetapkan jodoh. Kepada Dia, aku utarakan pertanyaan yang dibalut harapan agar aku mendapatkan jawabannya. 

“Ya, Allah. Wanita ini telah memasuki satu ruang di dalam hatiku dan aku tidak ingin dia pergi dari ruang itu. Aku ingin dia menemaniku di ruang itu yang memang telah aku siapkan untuknya. Apakah dia yang telah Engkau tuliskan di kitab kejadian Lauhul Mahfuz? Bantu aku memantaskan diri untuk menemani dia di ruang itu. Yakinkan aku wahai Tuhan Yang Menguatkan hati.” Aku usap kedua tangan di wajah. Dengan penuh harap aku menyampaikan doa ini.

April 2014.

Aku merapihkan jas hitam itu sambil menepuk-nepuk ringan bagian bahu, membersihkan debu yang menempel. 

‘’Sudah rapih.’’ 

Sambil menarik nafas panjang aku berusaha menenangkan diri. Jantungku berdebar sangat cepat. Aku menatap pria berjas hitam di depan cermin sambil mengucap bismillah. Inilah momen yang aku doakan selama ini. Hidupku akan berubah setelah ini. 

“Sah.” Jawab kakakku yang menjadi saksi Ijab Qabul. Serentak suara syukur yang disertai senyuman bahagia terdengar mengisi ruangan.

Wanita yang aku sebutkan namanya dalam doa-doaku di malam Ramadhan itu keluar secara anggun. Mengenakan gaun putih menjuntai. Cantik. Perlahan dia duduk di sampingku untuk bersama kami menerima nasihat pernikahan setelah aku menggenggam tangan Ayahnya dan mengucapkan janji yang menggetarkan Arsy.

Matanya menahan air mata. Mataku menahan air mata. 

“Aku mengucapkan namamu dalam doa-doaku.”

“Akupun demikan. Kuucapkan namamu dalam doa-doaku.”

Doa yang bertemu.

Allah memang pengatur rahasia yang luar biasa. Diam-diam kami saling menyebutkan nama masing-masing dalam doa-doa yang kami panjatkan. Berharap bahwa dia adalah nama yang telah dituliskan di dalam kitab kejadian Lauhul Mahfuz. 

Allah telah mempertemukan doa kami dan mengabulkannya. Doa yang bertemu. Kami mengukir kalimat itu dalam cincin nikah sebagai pengingat betapa Maha Pemurahnya Tuhan atas nikmat yang telah diberikan untuk kami berdua. Menjadi pengingat bahwa tidak ada tempat untuk mengadukan kegundahan dan harapan selain Doa kepada Allah yang Maha Mengabulkan. 

“Perbanyaklah berdoa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR Ath-Thabrani).


Fandi Yusuf adalah seorang penutur kisah melalui goresan garis dan kata. Karena setiap garis memiliki makna dan setiap kata memiliki arti. Ingin melihat garis dan kata yang dituturkannya, silahkan berkunjung ke IG: @yusuffandi.


Picture by Fandi Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *