Misteri Peci Bolong

OLeh: Andika Arnoldy

“Duar…!”

Mendadak kepalaku rasanya berputar, jantung berdegub, badanku lemas, mataku lalu tertutup. Gontai, dan nyaris jatuh ke tanah dan tak tau apa yang terjadi. Kata temanku, aku pingsan sejenak.

***

Ini adalah peci pemberian mendiang ibuku. Peci yang berwarna krim dan banyak sekali hiasannya itu adalah peci yang pertama ku pakai pada bulan Ramadan sekira tahun 2000 an.

Ini adalah peci kebanggan. Sebab ibuku membelinya langsung di Mekkah saat ikut melaksanakan ibadah Umroh bersama adik dan kakaknya.

Ibadah umroh yang selama ini diidam-idamkan ibuku, sudah lama ia menyisihkan sebagian gajinya untuk berusaha melaksanakan ibadah Haji, meski tidak begitu yakin dengan usahanya karena soal dana, namun Ia tetap berusaha mengumpulkan sedikit demi sedikit uang agar bisa berangkat menunaikan rukun Islam ke 5 itu.

“ Maafkan mama ya anak-anak, dua minggu lagi Insya Allah, mama mau berangkat umroh bersama tante yang tinggal di Jakarta, jadi mama minta maaf kalau selama ini ada salah dalam mengasuh dan mendidik, khawatir kalau di Mekkah nanti mama tak pulang, melainkan hanya nama,” ujarnya yang masih dengan mengenakan mukena putih, usai sholat magrib berjamaah bersama keluarga.

Air mataku menetes tak tertahan. Kepalaku tertunduk. Tersedak. Dan kami benar-benar terharu, hingga ketika ingin bubar sholat kami mencium tangan dan memeluk erat tubuh ibu. Tak terasa, semuanya basah dalam linangan air mata.

“Maaf juga ya ma,”

Tak tau kenapa, air mata yang mentes, tetiba menjadi histeris suaraku mengencang dipeluknya tak ingin melepaskan pelukan itu.

***

Alhmadulillah Ibuku akhirnya pulang dan selamat dan sehat, tanpa kekurangan apapun. Biasalah, kalau orang-orang pulang dari Umroh atau Haji, selalu membawa buah tangan khas. Mulai air zam-zam, kurma, parfum dan lain-lain. Banyak sekali, karena selain untuk keluarga, rencana oleh-oleh ini juga diberikan pada tetangga dan saudara.

“Ini peci ,” lalu Ibuku memasangkan peci itu ke kepalaku.

Aku tak terlalu suka karena modelnya yang norak. Motif peci yang begitu banyak warna-warni dengan warna dasar kream pula. Tapi peci yang berbebentuk bulat itu tetap terpasang di kepala.

Selama ibuku membawa peci itu, tak pernah kugunakan sama sekali. Malu. Nanti diejek oleh teman-teman.

Tapi pernah, peci itu akhirnya ku gunakan pada saat sholat taraweh pada bulan Ramadan. Karena memang tak ada lagi peci lainnya, akhirnya peci itu kupakai pada taraweh pertama.

Sebelum sholat taraweh, aku dan anak-anak ngumpul dan berkeliling untuk memainkan petasan. Petasan yang yang kami letuskan ini suaranya sangat besar sekali. Sangking besar suaranya, Jika terkejut orang yang tidur lalu mendengarkan petasan ini bisa terbangun.

Walaupun dengan perasaan takut dimarahi warga, namun petasan itu tetap kami mainkan, setelah kami ledakan, kami langsung berlari kencang agar tidak diketahui, siapa yang meledakan petasan itu.

Aku mulai menyalakan petasan tapi tidak yang besar, ya seukuran cabe rawit.

Dengan korek api lantas petasan cabe rawit itu seketika memercikan api. Tiba-tiba ada warga lewat dengan menggunakan motor dan melihat ke arahku.

Spontan, petasan itu aku tarok ke dalam peci dan meletakan peci itu ke kepala.

Akhirnya petasan itu meledak.

“ Duar”

Aku tak tau apa yang terjadi kemudian, kata temanku aku pingsan sebentar dan disadarkan oleh warga.

Seketika aku terbangun dan melihat teman-temanku masih di sekelilingku. Saat itu aku sudah berada di rumah.

Dan ya, peciku bolong.

Karena kekonyolan itu, akhirnya peci bolong ini tetap aku gunakan selama ibada taraweh. Makin jadilah temanku mengejek peciku ini. 


Photo by bennett tobias on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *