Jangan Takut Bersedekah

+6

Oleh: Prasetyaningsih

Ramadan tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Ibu mertua (selanjutnya ditulis ibu) yang biasanya hanya menitipkan dagangan takjil nya, tahun ini mencoba berjualan sendiri di dekat rumah. Memang tidak langsung di pinggir jalan raya, tetapi kami rasa tidak masalah. Ibu berjualan makanan ringan yang biasanya dicari menjelang berbuka. Ada pastel, martabak telur, lontong isi dan terkadang mie goreng dan sejenisnya. Ibu fokus membuat makanannya, aku dan suami fokus membantu memasarkan nya di media sosial.

Banyak yang berkata, “Dagang dalam gang gitu memang nya laku?” Insya Allah, tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah berkehendak. Tugas kita hanya usaha, doa dan yakin saja. Kalau mendengarkan apa kata orang, tak akan pernah habis mereka mencela. Betul tidak?

Ibu membuat makanan sejak pagi hari. Menggoreng dilakukan siang hari. Jadi sekitar pukul 14.30 dagangan sudah siap untuk dibeli. Setelah asyar, aku menunggui dagangan dan suami tetap berpromosi di media sosial. Untuk urusan promosi aku akui memang suami lebih jago. Apalagi kalau diminta membuat video promosi. Kocak banget dia mah. Hihihi

Hari pertama, kedua, ketiga Alhamdulillah lancar. Dagangan ibu habis terjual. Bahkan ada yang ngga kebagian, karena datangnya sudah kesorean. Tapi namanya dagang ya, ada masanya pasang ada masanya surut. Di hari keempat berjualan hujan mengguyur bumi sejak pukul 15.00. Alhasil sudah pukul 16.30 dagangan masih banyak. Padahal biasanya tinggal beberapa. 

“Beh, masih banyak ini dagangan nya gimana?” tanyaku pada suami, berharap ada solusi yang mumpuni. “Sabar aja, ini juga masih dipromosikan”, kata suamiku. Baiklah, memang harus postink alias positive thinking

Tiba-tiba tukang sampah yang biasanya ke rumah lewat. Spontan suami memanggil. “Kenapa dipanggil beh?”, tanyaku. 

“Aku mau sedekah. Bungkusin itu martabak telur sama pastel. Jangan lupa sambelnya ya”. 

Aku pun membungkus apa yang diminta suami, aku tambahkan mie goreng. 

“Kok ada mie nya juga?”

“Iya aku mau ikutan juga ah”

“Ya udah sini aku kasihkan bapaknya”.

Sore itu, dagangan kami tetap belum habis. Tapi setidaknya tidak terlalu banyak. Ya, namanya juga berdagang, kadang untung, kadang rugi. Udah biasa, kata suami. 

Keesokan harinya kami berjualan lagi. Dengan penuh keyakinan, insya Allah laku. Sekitar jam 2 sore, hp suami berbunyi. 

“Alhamdulillah, ada pesanan”

“Alhamdulillah, apa beh, biar dipisahin dulu”

“Martabak 5, pastel 4, lontong 4”

“Siap beh, udah dibungkusin.”

Tak lama kemudian hp nya berbunyi lagi. 

“Ada yang pesan lagi ya beh?”

“Nggak, ini ada sms dari Indosat”

“Yah, udah seneng padahal.” ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Tiiin tiiin tiiin.. Tiba tiba terdengar bunyi klakson mobil. 

“Man, masih ada nggak?”, ucap pengemudi dari dalam mobil.

“Eh, Dedi, masih ini. Mau apaan?”

Tak lama Dedi pun turun dari mobil menuju meja dagangan kami. 

“Bungkus semua deh. Mau buat buka sekeluarga”

“Siap ๐Ÿ‘๐Ÿ‘”

Sore itu dagangan kami habis terjual. Alhamdulillah. Aku banyak belajar dari suami, jangan takut bersedekah. Ngga akan buat kita jadi miskin. Ngga usah malu posting dagangan, yang penting halal.


Prasetyaningsih adalah seorang guru matematika di sebuah SMP swasta di Jakarta. Hobinya baca buku dan menulis. Kenal lebih dekat di IG : @prasetyaningsih86


Photo by abillion on Unsplash

+6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *