Bomboloni Jam Lima Sore

+3

Oleh: Iecha

Sore ini lebih riuh daripada sebelumnya. Besok lebaran! Kami, sekeluarga besar, sibuk menyiapkan makanan untuk konsumsi saat lebaran. Di depan rumah, Ncing baru saja menyelesaikan kukus mengukus lontong bagol: lontong tanpa isi yang ukurannya jumbo dan dimasak dengan kayu bakar. Tidak usah cari di tempat lain, sebab lontong ini cuma ada di komplek tempatku tinggal.

Ah ya, aku harus memberitahu. Aku tinggal di—sesuatu yang disebut tetangga sebagai—komplek. Ada sembilan rumah di dalam satu pagar. Delapan rumah milik saudara kandung Babe. Hanya satu di dekat pagar yang ditempati orang lain. Satu rumah kosong karena pemiliknya tinggal di tempat lain. Kami terbiasa mengerjakan apapun bersama. Termasuk lontong bagol tadi, Ncing membuatnya untuk rame-rame.

Namun, ada satu orang yang gundah: Mami. Mamiku bukannya tidak antusias menyambut Hari Kemenangan. Lihat saja, di dapurku yang sudah ada sayur godok dan sambal goreng untuk disantap saat lebaran. Meski begitu, tetap saja ada yang mengusik pikiran Mami.

“Kita belum pernah bagi makanan ke tetangga,” cetus Mami.

Aku mengangguk. Selama Ramadan ini, belum ada satu makanan pun yang kami antar ke rumah tetangga—saudara-saudara Babe—untuk penganan buka puasa mereka. Padahal, semua sudah melakukannya. Ncing, yang tinggal di depan rumahku bahkan sangat sering mengantar makanan. Apa saja dia antar: gorengan, burjo, kolak, lontong isi, entahlah apa lagi. Makanan darinya sering ada di tengah kami di waktu berbuka puasa.

“Nggak apa. Orang pasti ngerti,” ucapku, sekadar menenangkan.

“Tapi, pengen bagi makanan buka puasa.”

Mami pasti sudah menyimpan keinginan itu sejak awal Ramadan. Aku juga, hanya tidak mengatakannya. Hari ini Ramadan mencapai penghujung untuk 1441 H. Namun, “hilal” untuk berbagi makanan buka puasa tidak juga terlihat.

“Mudah-mudahan ada rezeki.”

Ucapanku seperti omong kosong. Buka puasa tidak lebih dari satu setengah jam lagi. Apa yang bisa kami harapkan dari waktu sesempit itu? Rezeki datangnya dari Allah, itu yang aku yakini. Namun, berharap seseorang menjadi perantara di jam segini, bukankah pekerjaan sia-sia?

Ramadan ini memang berbeda. Pagebluk datang beberapa bulan sebelumnya, dan mengubah banyak sisi kehidupan. Kami menjalaninya dengan penuh kesederhanaan: tanpa jajan, tanpa sop buah, apalagi martabak. Seingatku, kami hanya jajan cakwe satu kali, itu pun dengan jumlah yang tidak sebanyak biasa.

Bukannya aku tidak ingin memberi uang pada Mami untuk beli makanan, tapi uang tabunganku sudah lebaran duluan: kembali ke titik nol. Sebagai pekerja lepas, penghasilanku memang tidak tentu. Ramadan tahun lalu aku banyak pekerjaan, meski konsekuensinya aku jarang ikut buka puasa di rumah. Namun, Ramadan ini aku selalu buka puasa di rumah. Tidak ada satu pekerjaan pun yang menghampiri. Semua orang dan usaha seakan masih terkaget-kaget dengan datangnya Covid-19 dan harus putar otak untuk survive.

Ah, sudahlah. Masih ada rezeki untuk makan saja sudah bagus.

Percakapanku tentang berbagi makanan buka puasa hanya sampai di situ. Aku beranjak ke kamar mandi. Mami masih gundah, aku tahu. Namun, otakku juga buntu memikirkan solusinya. Untuk membuat camilan sederhana pun tidak ada bahan yang tersedia di rumah.

Usai mandi, tiba-tiba ada yang ucap salam di depan rumah. Tidak mungkin saudara Babe, biasanya mereka langsung membuka pintu dan masuk. Aku dengar suara orang itu bercakap dengan Ncing. Mungkin tamu Ncing yang salah rumah. Hanya beberapa detik, kemudian Ncing memanggil Babe.

“Niiil!”

Aku bergegas keluar, karena Babe lagi salat. Ada seorang remaja tanggung membawa kotak makanan di depan rumah. Aku baru kali itu melihatnya. Sepertinya juga, dia baru pertama kali masuk komplek. Begitu melihatku, dia mengangsurkan kotak makanan itu.

“Buat Pak Daniel, dari Pak Rohib.”

“Pak Rohib yang rumahnya depan masjid?” tanyaku, memastikan.

“Iya.”

“Pak Rohib?” tanya Babe, yang baru keluar rumah, memastikan tidak salah orang.

“Iya. Katanya buat Pak Daniel,”Kata anak itu, memastikan juga tidak salah rumah.

“Oh, makasih, ya.”

Anak itu berlalu. Aku dan Babe masuk rumah membawa kotak yang kami tidak tahu isinya. Pikiran kami sama: kok bisa Pak Rohib? Bapak itu bukan teman Babe yang sangat akrab. Bahkan, seingatku sudah cukup lama tidak saling bertemu atau sekadar ngobrol di luar. Lalu, tiba-tiba kotak makanan darinya muncul di rumah?

“Dari siapa?” tanya Mami, waktu aku masuk rumah.

“Pak Rohib.”

“Kok bisa Pak Rohib?”

Entahlah. Aku juga sedang memikirkan itu dan belum mendapat jawaban.

Dua puluh bomboloni aneka rasa tersaji saat kami membuka kotak makanan dari Pak Rohib. Aku terperangah, kehilangan kata-kata. Mami berkaca-kaca. Dua puluh bomboloni itu lebih dari cukup untuk berbagi dengan tetangga.

Aku segera mengambil enam piring kecil. Mami menaruh dua bomboloni di setiap piring, dan aku langsung mengantarkannya ke rumah tetangga yang masih berada di dalam pagar. Sisa delapan bomboloni. cukup untuk kami berbuka puasa.

Rezeki hari ini, bukan main min haitsu la yahtasib. Kami hanya perlu percaya kalau Allah mendengar keinginan kami, dan menggerakkan Pak Rohib—orang yang sudah lama tidak berinteraksi—untuk  mengirim bomboloni ke sini.


Iecha adalah writer wannabe yang sampai saat ini masih menganggap jerapah adalah hewan cantik. Tidak suka novel Harry Potter, tapi menggemari Dan Brown dan Aoyama Gosho. Masih mencoba-coba menulis. Pernah punya blog tapi lenyap karena lupa bayar. Kunjungi Instagramnya: @chahakim2


Photo by Divani (Diva) on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *