Asmara Subuh

Oleh: Nanang FS

Ramadhan bagi remaja di Kota Padang sebagaimana Ramadhan di kota-kota lain di Indonesia selalu meninggalkan kenangan. Betapa tidak, setiap kenangan baik tentu akan diganjar pahala, karena kebaikan di bulan yang penuh hikmah itu menjadi pelajaran berharga. Pun kenangan buruk, harus menjadi pengingat untuk tidak diulangi.

Hari-hari selama Bulan Ramadhan merupakan hari-hari yang selalu ditunggu, selain panggilan ibadah juga panggilan jiwa muda yang membara. Aih.

Masjid-masjid dan surau-surau saat Ramadhan penuh oleh jamaah, mulai orang tua, remaja, dan anak-anak. Selain Tarawih, Subuhan di Masjid juga merupakan hal wajib yang rugi jika ditinggalkan. Bukan karena, perintah dan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan Sholat Subuh berjamaah di masjid, tapi juga asbab agenda setelahnya. Ya, asmara subuh.

Malam sepulang sholat tarawih biasanya, anak-anak remaja seperti saya sudah punya agenda, besok akan subuhan di mana dan kemana melakukan “ritual” asmara subuhnya. Oh ya, asamara subuh ini sebenarnya ga ada hubungan dengan hubungan percintaan atau asmara-asmaraan. Hanya saja memang muda-mudi ba’da sholat subuh itu akan tumpah ruah di jalanan, biasanya tujuan mereka ke taplau alias tapi lauik (tepi laut).

Remaja dan anak-anak bergerombol-gerombol dengan kostum pulang dari masjid, yang perempuan masih bermukenah dan yang laki dengan sarungnya. Semua bergerak seolah ada ritual tambahan ke taplau itu. Asmara subuh ini kemudian menjadi tren karena anak masjid kampung lain akan bertemu di taplau itu. Seru. Bermain pasir, dan menikmati debur ombak pantai padang dan pantai puruih di laut yang membentang di sepanjang garis barat pulau Sumatera, yakni Samudera Indonesia.

Nah, lalu apa istimewanya asmara subuh itu dalam perjalanan Ramadhan saya? Selain cerita di atas sebenarnya asamara subuh itu tak ada istimewanya selain banyak mudhorat yang di dapat. Pulang kadang sudah menjelang sore, tergantung seberapa jauh dan seberapa asik bermain. Biasanya yang lelaki pulang dalam keadaan basah, karena main air pasti basah toh.

Apalagi saya dan genk kecil saya, setelah puas main di pantai selalu mengakhiri perjalanan pulang dengan mandi di Banda Bakali dekat Muara Puruih sambil terjun-terjun dari atas jembatan yang lumayan tinggi. Tak ada rasa takut waktu itu. Padahal untuk ukuran anak usia rata-rata 8-10 tahun terjun dari ketinggian 12 meter lumayan menguji nyali. Dalam ritual asmara subuh itu pula saya kemudian menjadi mahir berenang.

Lalu dimana letak konyolnya asmara subuh itu? Lah, ga konyol gimana, wong puasane piye hahaha.

Belum lagi seperti kata pepatah sambil menyelam minum air. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Ya iya, lah ke tepian jika ga ke tepian ya bias kelelep kemudian hehehe…konyol kan?

Pokoknya Ramadhan di Kota Padang saat kecilku memang bulan penuh hikmah.


Photo by irvin Macfarland on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *