Thank You, Mom!

+9

Oleh: Arman Tirtajaya

Aku masih duduk di bangku SMA waktu itu. Hari-hari Ramadhan pertama kali di SMA berjalan seperti biasa dengan jadwal pelajaran yang dipadatkan. Hari-hari Ramadhan dilalui dengan belajar di kelas dan di rumah. Belajar di sekolah setengah hari, aku pergi dan pulang naik bus Damri. Sungguh suatu kebiasaan baru yang harus dihadapi hingga kekonyolan itu datang dan saatnya kurasa mengucap syukur.

Seperti biasanya aku pulang sekolah pukul 11.30 dan tiba di rumah pukul 12.15. Perjalanan dari sekolah sampai ke rumah hanya 45 menit, rute Jalan Gardujati sampai terakhir ke pool bus Damri di Jalan Kopo. Kutaruh baju seragam dan tas sekolah di gantungan baju. Setelah shalat Zhuhur, aku meneruskan bacaan Quranku hingga mataku ini terasa lelah dan terlelap. Mataku tak kuasa menahan kantuk. Setelah ganti baju, aku rebahkan badan di atas kasur. Waktu menunjukkan pukul dua siang: waktu yang enak untuk tidur.

Mataku semakin berat untuk dibuka. Tiba-tiba aku jatuh dalam buaian mimpi indah. Tidurku nyenyak sekali sampai-sampai tak terdengar suara apa pun. Aku terbangun karena mimpi buruk. Alhamdulillah. Waktu menunjukkan pukul empat sore tapi sensorku menyatakan ini sudah pukul 04.00 dan aku harus segera ke sekolah. Tak terdengar suara kakak atau adik atau pun suara Ibuku sendiri, aku bergegas ke kamar mandi. Bolak balik ke kamar mandi, tak satupun olehku terdeteksi dimana keberadan keluargaku yang biasanya berkumpul di ruang keluarga.  Ah, mungkin mereka semua sedang berada di luar rumah. Aku tak ambil pusing. Aku berganti pakaian. Bergegas aku ke meja makan untuk sahur. Sesampainya di meja makan tidak ada satu pun makanan. Tiba-tiba ibuku dari arah dapur menyapaku.

Sahur heula atuh,” ibuku menyuruh makan sahur dulu.

“Sudah kesiangan, Mah! Gak usah, ini minum aja,” aku bergegas ke ruang tamu.

Aku mulai curiga karena tak ada seorang pun yang mengikutiku duduk bersama di meja makan untuk santap sahur.

“Mah, kakak dan adikku kemana ya?” tanyaku. “Masih tidurkah?”

Sekonyong-konyong kakak perempuan dan kedua adikku muncul dari kamar masing-masing.

“Kenapa jam segini pakai seragam? Mau buka puasa bersama di sekolah?’ kakakku heran melihat aku dengan seragam sekolah.

“Lho, kok jam segini kalian baru pada bangun?” aku balik tanya. “Sebentar lagi waktunya Imsak!” aku mulai mengingatkan.

“Istighfar, Ade!” kakakku mengingatkan. “Kamu tuh sehabis shalat Zhuhur tadi ketiduran sampai lewat waktu shalat Ashar.”

”Iya, sekarang mah waktu menjelang buka puasa,” timpal sang adik perempuan.

“Apa?” kataku kaget. “Astaghfirullah!”

Ternyata aku benar-benar tertipu oleh waktu. Ketika bangun aku merasa bahwa sekarang adalah waktu bangun untuk sahur. Tidur selama dua jam karena terlelap sekali seakan tidur sepanjang malam sampai waktu sahur.  Seisi keluarga menertawakan kekonyolan ini.

“Mamah sudah tahu bahwa kamu tidur melewati batas waktu yang dibutuhkan,” Ibuku berkata.                             

“Tapi Mamah tidak beritahu kamu karena ingin agar kamu sendiri yang sadar.”

“Iya, Mah! Terima kasih!” kataku berterima kasih.

Aku kembali ke kamar dan berganti pakaian lagi. Untungnya ada yang mengingatkan. Jika tidak, mungkin aku sudah ditertawakan banyak orang karena melakukan hal konyol itu. Di kamar aku beristighfar dan segera mengambil air wudhu untuk shalat Ashar.

Sejak kekonyolan waktu itu, aku jadi berhati-hati jika ingin tidur selepas shalat Zhuhur karena dapat menyebabkan kegilaan yang disebabkan tidur melewati waktu shalat Ashar. Sampai sekarang aku senantiasa menjaga waktu tidur siangku di bulan Ramadhan juga di bulan-bulan lainnya. Selidik punya selidik ternyata tidur selepas waktu shalat Ashar adalah hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW karena akan mendatangkan kerugian yang besar.


Photo by Phil Hearing on Unsplash

+9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *