Terompet Sangsakalaku di Kala Ramadhan

+7

Oleh: Tri Asih

Sayup-sayup terdengar suara merdu dari penyanyi anak yang mendendangkan lagu ”Apa Arti Puasa.” Mendengar syair tersebut, ingatanku menerawang ke masa anak-anak. Puasa menahan lapar. Puasa menahan haus. Dari Subuh hingga Magrib. Ayo, yang puasanya pernah “bolong” tunjuk jari!  Berani berkata jujur, jempol dua untukmu.

Masa kecil di kala Ramadhan, kalau diingat pasti membuat kita tersenyum sendiri. Senyum mengembang seperti roti yang mengembang setelah diberi ragi. Satu hal yang paling kunantikan  di saat puasa adalah suara azan Magrib. Setelah menahan rasa haus dan lapar seharian, begitu mendengar suara bedug bertalu dari masjid, tak perlu menunggu lebih lama langsung menyerbu menu buka puasa yang disediakan oleh ibu. Segelas teh hangat dan es menjadi menu utama bagiku di saat itu. Haus dahaga telah sirna memang terbukti saat minuman itu telah habis. Tak ada lagi rasa gatal atau kering di tenggorokan. Ibarat  berjalan di gurun bertemu dengan oase. Lega … plong … segar sekali.

Tangan dan mulut tak henti-hentinya bekerjasama. Apa yang ada di meja  dengan cepat akan berpindah tempat. Perut mungilku rasanya sudah tak mampu untuk menampung makanan lagi. Namun, mulut ini tak henti terus mengunyah makanan. Efek balas dendam puasa di siang hari. Ibuku sering menasehati, makan itu secukupnya saja. Berhentilah sebelum kenyang. Nasehat hanya kudengarkan saja tanpa melaksanakan nasehat itu. Didengarkan di telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.

Salat Magrib biasanya kulakukan dengan tergesa-gesa. Bayang-bayang makanan yang belum habis membuatku tidak konsentrasi salat. Salat super kilat itu istilahnya. Begitu salat Magrib selesai langsung tancap gas melanjutkan makan yang tertunda. Belum puas rasanya makan  padahal perut sudah terasa kenyang. 

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara azan salat Isya. Ibu segera menyuruhku untuk bergegas menyiapkan mukena untuk pergi ke musala yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Pada saat itu, belum banyak musala berdiri di sekitar rumahku. Satu desa hanya ada tiga tempat yang digunakan untuk salat tarawih. Satu masjid desa dan dua musala milik warga. Jadi kalau mau menjalankan salat di musala harus berjalan kaki lumayan jauh. 

Seandainya tidak ada tugas untuk meminta tanda tangan dari imam yang memimpin salat tarawih, rasanya saat itu malas untuk berangkat ke musala. Demi tanda tangan untuk menunjang nilai tugas agama, dengan semangat yang tidak membara akhirnya kuputuskan berangkat juga. Perutku rasanya agak tidak enak. Kalau orang Jawa mengatakan “sebah” atau kembung.

Malam ini malam Jumat Kliwon. Aku yang agak penakut sering ditakuti dengan cerita-cerita horor di sepanjang perjalanan ini oleh Mbak Ita-Kakak perempuanku. Cerita tentang hantu yang diperankan oleh aktris S, membuatku lebih erat berpegangan pada baju ibu. 

“Sudah, Mbak. Jangan takut! Tidak ada hantu yang berkeliaran selama bulan Ramadhan. Semuanya sudah dikurung,” kata ibuku. 

Mendengar perkataan ibuku, rasa takutku sedikit berkurang. Tak bisa kupungkiri hatiku masih dag … dig … dug. Wajahku mungkin terlihat agak pucat sehingga Mbak Ita semakin puas menetertawakan keadaanku. Perutku semakin terasa tidak enak saat berjalan.

Saat salat tarawih perutku semakin melilit terasa sakit. Tak mau batal salat, sebisa mungkin kutahan agar bisa menyelesaikan salat dua puluh tiga rakaat. Rakaat pertama hingga dua puluh dua masih aman terkendali. Hingga akhirnya pertahananku runtuh juga. 

Perutku semakin tak bisa diajak kompromi. Bunyi terompet kecil dan panjang membuatku malu sekali. Maksud hati menahan agar terompet tidak berbunyi, ternyata oh ternyata bunyinya lebih panjang.

Mbak Ita yang berada di sampingku menahan tawa hingga salam. Akhirnya aku ditertawakan teman-teman. Rasa malu tak terkira saat itu. Terompet Sangsakalaku membuat diriku seakan mengalami kiamat. Seandainya aku punya ilmu menghilang maka dengan sekali menjentikkan tangan, ingin rasanya menghilang pergi dari musala.

Dengan bijak ibu menasehatiku agar aku tidak perlu menahan kalau perut sakit. 

“Itu membatalkan salat, Nak. Lebih baik buang anginnya di luar dan segera berwudu lagi, ” ucap ibuku.

Ibuku paham kalau aku tak berani wudu sendiri karena ketakutan yang tiada terbukti. Takut membawa sengsara. Terompet … oh terompet Sangsakalaku, jangan berbunyi lagi saat salat tarawih di bulan Ramadhan. Suara lengkinganmu tak membuatku terpana dan bahagia, melainkan malu tiada terkira.


Photo by Khamkéo Vilaysing on Unsplash

+7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *