Tawa di Rakaat Akhir

Oleh: Pipit Fitria

Saat yang paling dinantikan dari datangnya bulan Ramadan adalah saat berbuka puasa. Seperti bertemu dengan kekasih yang sudah lama dirindukan kedatangannya. Tentu dengan segala perhelatan persiapan untuk menyambutnya. Bahkan sejak waktu azan itu berkumandang, dapur sudah berbau asap. Mamak sudah sibuk menyiapkan menu berbuka puasa dari takjil hingga makanan berat. Tidak tertinggal kolak yang menjadi andalan setiap berbuka puasa.

Bagiku yang aktif berkegiatan di Musala Assalam Desa Suranenggala Cirebon, berbuka puasa bersama keluarga hanya dilakukan di awal Ramadan saja. Setelahnya aku menyiapkan menu buka puasa di musala lengkap dengan mukenah corak batik yang kubawa hingga datangnya Salat Tarawih.

Jam dinding sudah menunjukkan waktu berbuka. Kami pun bersiap untuk membatalkan puasa dengan menu takjil yang sudah disiapkan. Berhubung hobiku adalah makan, aku pun langsung menyambar menu kolak yang sudah menyapa sejak aku menyiapkan.

Menu takjil dan makanan berat yang kusantap sebagai amunisi untuk menghadapi Salat Tarawih yang bacaannya panjang. Musala kami bertarawih 11 rakaat dengan 3 witir. Bukan suatu hal yang aneh jika bacaan setiap rakaatnya itu dilantukan dengan bacaan panjang.

Kondisi Tarawih menjelang detik-detik penghabisan itu jamaahnya sudah mulai berkurang. Entah ini sebuah sunnatullah atau memang kebetulan, sebab jamaah hanya padat ketika di awal Ramadan saja. Selepasnya mereka sudah sibuk dengan baju lebaran, sehingga sudah malas datang ke musala atau masjid. Masjid dan musala pun kembali sepi, kembali seperti biasa. Ini sungguh menyedihkan bagiku.

Salat Tarawih itu digelar dengan khidmat. Sepertinya memang bukanlah sebuah kesengajaan. Dengan kepolosanku, aku melakukan hal konyol yang membuat sebagian mereka menepuk jidatnya. Entah apakah ada nyamuk atau aku melakukan kekonyolan lagi.

Ketika Tarawih memasuki rakaat ke 6, sujud pun dilakukan terasa panjang. Sebab musala kami tidak mengejar kecepatan melainkan dilakukan dengan santai tetapi benar bacaan Al-qurannya. Berbeda dengan kebanyakan musala lainnya yaitu dengan 23 rakaat dan dilakukan dengan kecepatan.

Memulai sebuah drama kekonyolan ketika salat adalah saat tangan dan lutut kananku menekan mukenahnya pada sujud dalam rakaat ke-6. Ia yang lebih dahulu sujud dibanding aku. Tentu saja, mukenahnya masuk ke area sujudku. Ketika ia bangun dari sujudnya dengan semangat, sontak ia pun langsung terjengkang. Tarikan itu menyebabkan rambutnya menyembul di balik mukenahnya yang berpeniti.

Ia tahan dengan mencoba sabar menarik mukenahnya yang tersangkut itu. Sayangnya, aku belum juga bangun dari sujud dan tak menyadari tarikan itu. Entah saking khusyuknya atau memang sengaja.

Sudah 3 menit berlalu, aku baru bangun dari tempat sujudku. Doa sujud itu sudah cukup aku ucapkan. Akhirnya, tekanan mukenah itu terlepas. Apa yang terjadi dengan teman sebelahku itu? Ia terjengkang kembali hingga ambruk dari tempat salatnya. Aku baru menyadari, tingkahnya membuat fokusku terganggu. Ada sedikit tertawa yang kutahan. Sementara aku belum menyadari bahwa tingkahnya itu karena ulahku.

Berhubung tingkah teman sebelahku itu begitu berisik, akhirnya satu jeweran itu mendarat di telinga mungilku. Seorang ustaz yang sudah lama memperhatikan tingkah konyol kami menjewer aku dan teman sebelahku yang dinilai tidak khusyuk dalam salat. Kami pun lalu bersegera membenahi barisan dan salat dengan khidmat.

Tarawih itu sudah selesai dilakukan hingga witir pun berakhir lalu sang imam pun mengakhiri salat dengan salam. Aku yang dibuat penasaran dengan ambruknya temenku itu, akhirnya mengajukan pertanyaan.

“Mel, tadi kenapa kamu terjengkang ya?” tanyaku dengan menahan tawa.

“Kamu tanya kenapaaa?! Sakit tahu kupingnya!” tukasnya gemas dengan mengelus telinganya yang dijewer sang ustaz.

Sementara dua temenku yang lainnya menepuk jidat dan meledak dengan tawanya. Aku semakin bingung. Mengapa mereka melihatku dengan tawa. Apakah aku berbuat salah?

“Emang kamu kenapa Mel bisa terjengkang? Mukenahmu keinjek kaki sendiri?”

“Tanya tembok sajalah. Tangan dan lututmu itu yang nakal.”

Aku pun terkekeh. Aku baru menyadari bahwa batalnya salat Mella adalah karena ulahku yang tak sengaja menekan mukenahnya. Kejadian itu tidak hanya sekali, tetapi Mella seringkali menjadi korban. Hanya saja, ia seringkali lupa bahwa salat berdekatan denganku akan terjengkang dan terjengkangnya ia adalah sebuah kekonyolan yang terulang.


*Pipit Fitria, seorang penyuka sastra yang memiliki hobi membaca dan browsing ini lahir di Cirebon pada tanggal 10 Februari 1996. Aktivitasnya sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta yang ada di Cirebon, SMK PUI Cirebon sekaligus operator yang sedang merambah ke dunia tulis-menulis. Keinginannya untuk menulis sempat ia wujudkan di tahun 2019, meski di tahun ini harus dengan pandai mengatur waktu di sela-sela kegiatan nyata. Penulis dengan nama pena Fitria Abdella ini memiliki cita-cita agar menjadi penulis produktif yang terus menebar manfaat. Semoga keinginannya terwujud. Ia dapat dihubungi melalui; Email : pipitfitria074@gmail.com


Photo by CALEB SHAVER on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *