Secepat Kilat

+7

Oleh: Iecha

Imam baru saja memulai salat. Takbiratul ihram-nya lantang terdengar oleh telinga kami. Orang-orang berdiri, meratakan dan merapatkan saf mereka, kemudian khusyuk meresapi bacaan imam.

“Masbuk?” tanyaku.

Cicih dan Lela—dua temanku—mengangguk.

Kami masih duduk manis di atas sajadah, bersandar ke tembok sambil menikmati udara malam. Obrolan kami sedang seru-serunya. Kami mengawali dengan pembahasan tentang siapa teman kami yang cocok menjadi Suneo dan Giant dalam serial Doraemon. Kami sudah mendapatkan Nobita. Aku memilih menjadi Dorami daripada harus ikut berperang lawan Cicih dan Lela memperebutkan karakter Shizuka.

Surah Al-Humazah dilantunkan imam dengan merdu sebelum rukuk. Kami hanya mendengar sekilas, lalu melanjutkan pembahasan. Masih rakaat pertama, masih jauh perjalanan hingga salam.

Tempatku salat ini bukan di mushala. Mustahil kami bisa ngobrol santai jika ini mushala. Ini adalah aula senam yang berada di rumah orang paling kaya di se-gang. Konon, berdasarkan yang aku dengar, pemilik rumah masih memiliki hubungan kerabat dengan pembesar negeri.

Kami memilih tempat ini bukan tanpa alasan. Di kampungku, banyak yang menggelar salat Tarawih berjamaah. Ada masjid besar di pinggir jalan raya. Kami tidak Tarawih di sana karena bacaannya panjang-panjang dan ada ceramah. Di mushala dekat pasar malah salatnya dua puluh tiga rakaat, masih ditambah ceramah. Di TK ujung jalan, Tarawihnya memang hanya delapan, tapi ada ceramah.

Berbeda dengan di rumah orang kaya ini. Tarawihnya delapan, tanpa ceramah, bacaan surahnya pun selalu sama tiap hari: dimulai dari Al-Humazah, hingga berakhir di Al-Masad. Tiga ‘qul’ dibaca untuk salat Witir. Formasi salatnya 4-4-3. Selesai salat, imam—yang sepertinya sudah kontrak eksklusif tiga puluh hari—duduk manis menunggu anak-anak menyodorkan Agenda Ramadan mereka.

Oh, ada lagi yang membuat kami suka Tarawih di sini: tiap pertengahan Ramadan pemilik rumah membagikan makanan. Biasanya mereka membagi makanan dalam kotak. Isinya kue-kue mahal. Jika yang mereka bagi mie seduh kemasan, itu artinya ada pembagian mie seduh lagi di malam ke dua puluh satu.

Satu hal penting yang juga menjadi landasan kami enggan berpindah tempat Tarawih adalah ibu-ibu di sini tidak ada yang peduli kalau kami ngobrol sepanjang orang salat. Posisi kami yang berada di depan ruangan—sepertinya kamar—agak terpisah dari jamaah. Hanya saat awal Ramadan saja kami harus berbagi tempat dengan jamaah lain.

“Aku udah sampe level 15,” cetus Lela.

Oke, pembahasan sudah bergeser dari Doraemon ke Mario Bros. Kami memainkan game itu di Nintendo. Lela dan Cicih main di rumah Bebi, sementara aku di rumah Marisa, teman sekolahku yang kaya raya. Aku tidak ikut pembahasan sebab mereka tidak tahu kalau aku juga main. Ini rahasia terbesarku. Kalau mereka tahu, pasti akan minta ikut ke rumah Marisa lalu membandingkannya dengan rumah Bebi.

“Bismillahirrahmaanirrahiiim.” Suara imam singgah telingaku lagi. “Li iilafi Quraisyin.”

“Eh, udah ‘li ila’!” seruku sambil segera berdiri.

Dua temanku ikut berdiri, merapikan sajadah, kemudian takbiratul ihram. Sudah rakaat ke tiga dari empat rakaat awal rangkaian Tarawih. Sebentar lagi imam akan rukuk. Waktunya kami berdiri dan salat. Pst, jangan buru-buru menyangka kami hanya salat dua rakaat. Rakaat kami kumplit, hanya saja masbuk.

Bagi orang-orang kebanyakan, menjadi makmum masbuk tentu karena terlambat ikut jamaah karena baru datang atau baru kembali dari berwudhu. Saat bergabung dengan jamaah, mereka langsung mengikuti rakaat salat imam dan berdiri lagi usai imam salam untuk mengganti rakaat yang kurang.

Namun, buat kami, masbuk adalah mengerjakan tiga rakaat—yang tidak kami ikuti tadi—secepat kilat, lalu bergabung dengan jamaah lain di rakaat keempat. Entah seperti apa bacaan kami, entah terbaca semua atau dominan wasweswos. Yang jelas, aku selalu terengah saat masuk rakaat keempat.

Meski begitu, tidak ada kata kapok. Tiga puluh hari Ramadan, tiga puluh Tarawih dan Witir yang kami lakukan seperti itu: menjadi makmum masbuk. Kebiasaanku itu berakhir saat aku SMP, di sebuah pesantren di Jakarta Selatan. Tarawihku tertib, mengikuti imam sejak awal sampai salam.

Banyak pelajaran agama yang aku terima di sekolah. Salah satunya Fiqh. Pelajaran yang kemudian aku geluti hingga bangku kuliah ini sering membuatku tersenyum bodoh sendiri. Terasa seperti ditabok bolak-balik jika ingat kelakuanku dulu, dan—tentu saja—definisi masbuk versi aku dan teman-teman. Entah bagaimana Tarawih mereka, semoga saja tidak lagi masbuk secepat kilat seperti waktu bocah dulu.


Photo by Jean Gerber on Unsplash

+7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *