Saking Senang

+2

Oleh: Dini Nurhayati

Ada-ada saja kelakuan yang membuat seisi rumah mengulum senyum jika melihat Yuk Nah. Wanita berusia 60 tahun itu, sudah beberapa bulan ini ada di rumah Bu Narti. Yuk Nah datang sejak sekitar dua bulan sebelum Ramadan tiba. Dia kerabat jauh Bu Narti yang diajak tinggal di rumah untuk membantu mengurus menantu Bu Narti yang baru saja melahirkan. Kehadiran Yuk Nah yang usianya bisa dibilang sebaya Bu Narti menjadi satu kelebihan lain.

Dia bisa jadi teman mengobrol juga untuk Bu Narti. Anak-anak bu Narti sudah dewasa semua dan berkeluarga. Praktis mereka jadi disibukkan dengan keluarga kecilnya masing-masing. Kesibukan para orangtua muda ditambah dengan aktivitasnya yang berbeda-beda, tidak bisa selalu ada jika Bu Narti butuh teman berbincang-bincang. Sekadar untuk mengeluarkan isi kepala, membahas anak-anak, cucu-cucu dan hari-hari di masa pandemi.

Meskipun usianya dibilang sudah cukup sepuh, Yuk Nah masih tetap cekatan mengurus rumah. Bahkan memandikan bayi pun dia masih luwes. Di kampungnya, Yuk Nah memang terbiasa dipanggil untuk memberikan jasa-jasa seperti itu. Membantu tetangga yang anaknya baru melahirkan, hingga bersih-bersih rumah. Persis yang dilakukannya di rumah Bu narti sekarang ini.

Dari ceritanya, Yuk Nah tidak memiliki anak. Sementara suaminya sudah mendahului dipanggil Yang Maha Kuasa 3 tahun lalu. Sejak itu Yuk Nah yang tinggal sendirian, menerima pekerjaan apa saja untuk mengisi kegiatan sehari-harinya. “Yang penting saya ada kesibukan,” katanya, hampir selalu pada setiap orang yang menanyakan mengapa Yuk Nah masih juga ke sana- ke mari.

Sebab diajak Bu Narti, dia mesti meninggalkan kampung halamannya. Dia pikir toh dia tinggal sendirian, tak apalah meninggalkan rumah untuk beberapa waktu yang lama. Lagipula di kampungnya masih ada kerabat, meskipun jaraknya berjauhan, masih bisa Yuk Nah titipi rumahnya. Sekadar untuk membuka-bukakan jendela, setiap pagi. Dan menyapu halaman rumah, kalau daun yang jatuh ke tanah sudah lumayan banyak menutupi.

Yuk Nah yang pandai bergaul dan memiliki sifat ramah pada siapapun, tak perlu waktu lama sudah bisa dekat dengan para tetangga. Tradisi di kampungnya yang masih lestari yaitu saling memberi makanan, dia lakukan di perumahan tempat tinggal Bu Narti. Meskipun tidak selalu berbalas, tetangga yang dia kirimi sesuatu, mengirim balik lagi, Yuk Nah tetap melakukannya.

“Memberi yang diniatkan cuma ingin memberi tanpa ada embel-embelnya itu lebih bikin hati senang.” Begitulah kalimat Yuk Nah terlontar, saat menantu Bu Narti yang diam-diam suka memperhatikan perilaku Yuk Nah, mengomentari.

“Kalau gak dikasih, jangan minta. Kalau dikasih, ya cepat-cepat diterima. Alhamdulillaaah. Begitu, Nok.” Katanya lagi sembari terkekeh.

Ramadan ini hampir setiap hari ada saja kiriman dari tetangga. Sudah ada berbagai jenis penganan yang datang ke rumah Bu Narti. Biasanya yang mengirim secara khusus menyebut nama. Misal untuk Bu Narti, atau untuk menantunya, atau untuk cucunya. Makanan yang sederhana seperti masakan rumah sampai masakan yang terlihat jelas kalau pemberinya memesan khusus di suatu tempat. Belanja online istilahnya sekarang. Termasuk makanan pun sudah bisa dipesan melalui HP.

“Wah, kemajuan zaman bikin tradisi di kampung jadi kelihatan keren, ya Bu?”

Yuk Nah membuka topik pembicaraan dengan Bu Narti, dia mencoba berkelakar.

“Ya, gitulah, Yuk. Zaman modern. Segala-gala pake HP. Jadi kebiasaan Yuk Nah yang datang ke rumah tetangga, termasuk langka di sini.” Bu Narti balas tertawa. “Tapi, ya, Alhamdulillah, jadi dicontoh juga,” lanjut Bu Narti.

Saat itulah, pintu rumah ada yang mengetuk. Ada paket kiriman yang diantar kurir. Bu Narti segera menerimanya. Rupanya itu dari adiknya yang tinggal di Bali. Yuk Nah sampai terbengong-bengong tidak percaya. Dari Bali bisa kirim makanan ke Pulau Jawa dengan cepat pula.

“Wah, sate lilit dan pakaian, Yuk. Ini ada tulisannya.” Bu Narti memperlihatkan kemasan paket. Kemudian dia lanjutkan membuka kardus paket itu. Rupanya ada satu bungkus yang khusus diberi nama Yuk Nah. Wanita itu sekali lagi menunjukkan rasa tidak percaya. Adik Bu Narti tentunya mendapat cerita, jika di kediaman Bu Narti ada Yuk Nah kini.

“Betulan khusus buat saya sendiri, ini, Bu?” tanyanya untuk meyakinkan lagi. Bu Narti mengangguk menimpali. Dan secepat kilat, Yuk Nah buru-buru membawa bungkusan itu ke kamarnya.

“Yuk, yang dibawa ke kamar pakaian saja mungkin. Makanannya simpan kulkas saja.”

“Lho, eh…” Yuk Nah tergeragap. Lalu kembali melangkah keluar kamar sambil tersipu, wajahnya memerah karena malu. “Saking senangnya Bu, maklum, baru tahu jauh-jauh dari Bali bisa sampai sini.”

Semua orang di ruang tengah tertawa melihat tingkah Yuk Nah.[]

**Cerita ini kisah fiksi, yang disadur dari penggalan kejadian nyata


Dini Nurhayati, yang kerap menggunakan nama Dinu Chan di beberapa tulisan dalam genre fiksinya. Kelahiran Bandung, akan tetapi kini tinggal di Kota Cirebon. Penulis dapat disapa di akun media sosialnya seperti FB Dinu Chan dan IG @dinu_chan.


Photo by Nick Karvounis on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *