Revana

Oleh: Elfia

Aku mulai hari ini dengan membacakan basmallah, semoga kegiatan yang aku jalani diridhai-Nya. Pagi merupakan jalan untuk melihat dunia baru, pengalaman baru dan harapan baru. Hidup harusnya dipenuhi oleh rasa syukur, karena masih diberikan matahari pagi, merasakan hangatnya atas nikmat yang diberikanNya.” Lantas kenapa kita harus bermalas-malasan?

ku ambil tas cokelat yang tergantung disebalah lemari pakaian. Anak tangga kuturuni satu persatu, sembari berdendang, agar hari ini lebih semangat . Sepatu pansus berwarna krem siap di pasang.

Aku adalah seorang pendidik di salah satu sekolah swasta di kota ku, mengajar dan mendidik memberikan kesenangan dan kepuasan tersendiri bagiku.

Tidak pernah terpikir oleh ku, akan menjadi seorang pendidik. Di sini aku banyak belajar baik itu dari guru gurunya, wali murid nya bahkan dari siswa dan siswi ku. Memang betul kata mereka pelajaran berharga tak harus di dapat dari seumuran atau yang lebih tua dari kita.

Dari anak berumur 9 tahun pun aku bisa belajar. Ramadan ceria, Ramadan punya banyak cerita, tapi tidak bagi murid ku yang satu ini. Di kelas dia termasuk siswi yang pendiam, tidak banyak bercerita, kadang saat teman temannya yang lain asyik bermain dia lebih sibuk menggambar di buku tulisnya.

Hari ini praktek berwudhu, sebut saja namanya Revana. Nama yang indah bukan ? Doa yang tersemat dari orang tuanya yang berarti penyayang penyabar.

Di saat aku menerangkan materi tentang berwudhu, ia justru tertidur dengan pulas nya. Apa gerangan sehingga ia tertidur pulas, saat satu persatu murid aku panggil untuk praktek berwudhu. Ia terpaksa aku bangunkan. Ku dekati meja tempat duduknya. Wajah memelas dan rasa ngantuk yang masih berat, ia coba lawan.

“Kenapa kamu tidur di jam sekolah nak” tanya ku padanya.

“Tidak apa apa zah, saya hanya mengantuk” jelasnya pada ku.

Ayo coba kamu praktekkan materi wudhu hari ini, saat ibu menjelaskan kamu tertidur pulas.

“Saya tidak tidur Bu, saya mendengar kan penjelasan dari ibu, hanya mata saya yang terpejam”. Jelasnya padaku

Berdegup kencang jantung ini, ada rasa bersalah. Satu demi satu ia praktek kan dengan tertib. Subhanallah ia mampu mempraktekkan nya.

“Konyol” dalam pikiran ku, geli atau menertawakan diri sendiri. Kenapa menganggapnya remeh bahwa ia tak akan mampu mempraktekkan nya dengan baik.

Dalam hati berkata ” terimakasih nak untuk hari ini, tidak selalu apa yang kita lihat akan seperti bayangan buruk”.

Siswa tidak membutuhkan guru yang sempurna. Siswa membutuhkan seorang guru yang bahagia. Siapa yang akan membuat mereka bersemangat untuk datang ke sekolah dan menumbuhkan kecintaan untuk belajar.”


Photo by Scott Webb on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *