Ramadhan, Itikaf, Sahur dan Buka Gratis

Oleh : Wiekerna Malibra

Ramadhan 1422 H telah tiba. Tahun 2021 ini, Masjid dan Musholla, kembali dibuka untuk umat Islam mengerjakan sholat tarawih ber-jama’ah dan tilawah Qur’an meski masih dilarang berkumpul. Tetap #JagaJarak 1 meter. Suasana malam bulan Ramadhan di seantero Nusantara pun kembali seperti dulu. Sebelum pagebluk corona datang menyerang bumi.

Bukan hanya suara adzan dan Imam memimpin sholat saja yang terdengar kini, tapi indahnya suara orang mengaji tadarus pun terdengar lagi dari speaker Musholla. Alhamdulillah. Semoga corona benar-benar pergi dari muka bumi agar kehidupan manusia berjalan normal kembali. Bebas merdeka menjalankan ibadah di rumah ibadah masing-masing. Tentunya yang Muslim di Masjid dan Musholla. Tak ada lagi PSBB atau pula PPKM yang harus dipatuhi.

Bicara tentang ibadah di Masjid, ada hal yang tak pernah dapat kulupakan hingga kini. Saat aku masih remaja dewasa tapi belum menikah. Yakni ketika Malam Lailatul Qodar, atau 10 malam terakhir Ramadhan, yang tentu saja Masjid-Masjid terutama Masjid Raya dipenuhi banyak jama’ah yang ingin itikaf. Banyak orang berharap dapat mensucikan diri dari dosa dan kesalahannya dengan itikaf di Masjid. Termasuk diriku salah satunya.

Itikaf atau dalam Bahasa Arab disebut Akafa yang artinya menetap atau mengurung diri. Maka Itikaf secara terminologi artinya berdiam diri di Masjid disertai dengan niat. Tujuannya hanya beribadah kepada Allah SWT. Dengan meninggalkan aktivitas dunia luar, termasuk rumah tinggal. Hanya fokus ibadah kepada Allah saja.

Begitu pun diriku. Selepas sholat shubuh mengaji tadarus, hingga masuk waktu sholat dhuha. Istirahat sejenak, lalu mengaji lagi hingga masuk waktu sholat dhuhur. Istirahat lagi, lalu mendengar kajian hingga masuk waktu sholat ashar dan kemudian mengikuti aktivitas senja hari di bulan Ramadhan bersama Remaja Masjid dimana aku itikaf.

Aku membantu kawan-kawanku yang tergabung dalam PRISMA atau Persatuan Remaja Islam Masjid At-Tin, mengkoordinir takjil dan makanan buka puasa. Kegiatan yang paling aku suka, yakni membagikan takjil gratis pada orang atau penduduk sekitar Masjid. Termasuk pengendara dan pejalan kaki yang lewat di depan halaman Masjid hingga masuk waktu maghrib atau berbuka puasa.

Acara berbagi takjil gratis itu selalu berlangsung meriah. Dikerjakan dengan senang hati dan semangat. Senyum yang selalu ditebarkan pada setiap orang agar yang menerima pun senang. Karena keramahan dan kekompakan remaja PRISMA membagikan takjil, makanan berbuka hingga makanan sahur pada para tamunya maka  setiap tahun jumlah jama’ah itikaf di Masjid Raya itu pun selalu bertambah.

Pengurus Masjid sangat menghormati “tamu-tamunya”, termasuk yang hanya datang 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Tentunya karena banyaknya penyandang dana untuk Masjid itu. Jadi berbagi pada para jama’ah itikaf bukan masalah besar bagi Masjid itu. Sebab, tak sedikit pula orang yang itikaf di Masjid itu karena ingin mendapatkan takjil  dan makanan buka termasuk makan sahur gratis dari Masjid. Karena alasan dana minim alias tak punya uang. Termasuk diriku. Dan ini menurutku, “masa lalu yang konyol”, karena beribadah sembari mencari yang gratisan. Ufs…


Wiekerna Malibra bergabung dengan FLP Jakarta tahun 2008. Puisinya dimuat di LINIFIKSI dan Jejak Publisher. Puisi Antologinya: Tahun 2018:“Cinta Di Bumi Raflesia” dan “Kutulis Namamu Di Batu”. Tahun 2017: “The First Drop Of Rain”, “Perempuan Memandang Dunia”, “Roncean Syair Perempuan”, “Antologi Puisi Rindu” dan “Gempa Pidie 6,4 SR. 05.03 WIB”. Tahun 2016: “Kumpulan Puisi Kopi 1,550 mdpl”, “Tifa Nusantara 3: Ije Jela”, “Cimanuk, Ketika Burung-Burung Kini Telah Pergi”, “Puisi Peduli Hutan” dan “Arus Puisi Sungai”. “Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut”, 2015. “Puisi Kartini 69 Perempuan Penyair Indonesia”, 2012. Kumpulan Puisi TKI 2012, dan 4 kumpulan puisinya dimuat www.kompas.com (2010-2012). Antologi Cerpennya “Wak Ali dan Manusia Lumpur”, FLP Jakarta, 2016. Cerpen lainnya di Majalah Sekar dan Story juga dalam KumCer Anak. Juara III Lomba Cerpen QLC Trenggalek 2010. Juara I Lomba Cerpen Inaugurasi Pramuda FLP Jakarta 2008. Resensi: Novel Casuarina, 2009 dan “Munir, Cermin Yang Mewariskan Keberanian”. Esai Antologi: “Guru Kehidupanku”, 2011 dan “24 Jam Sebelum Menikah”, 2009.


Photo by Rohit Tandon on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *