Raibnya Uang Lebaran

+7

Oleh Rakhmat Wahyudi

Walaupun lahir dan besar di Ibukota, aku masih punya kampung halaman yang setiap tahunnya dikunjungi. Kebumen, salah satu kabupaten di Jawa Tengah, ke sanalah tujuan mudikku. Di rumah mbah uti dan mbah kakung, kami sekeluarga besar berkumpul merayakan hari Idul Fitri. Selepas sholat raya, kami bergegas ziarah ke makam leluhur dan menjalani prosesi sungkeman. Setelah itu, momen yang aku dan para sepupuku tunggu-tunggu pun tiba, pemberian uang lebaran.

Tradisi pemberian uang lebaran memang bukan keharusan. Tidak ada tuntunan yang mewajibkan. Namun, siapa yang tak senang jika diberi kelebihan, begitu bukan?. Diriku senang sekali saat menghitung lembar demi lembar uang lebaran yang terkumpul. Tak jarang pendapatanku di bulan Ramadhan mencapai diatas Rp 500.000, jumlah yang cukup fantastis kala itu. Terbayang mainan dan makanan yang bisa kubeli dengan uang sebesar itu. Rasanya aku jadi orang terkaya di dunia. hahahaha

Hari raya berlalu maka saatnya diriku dan lainnya kembali ke tempat tinggal masing-masing. Cukup lelah setibanya dirumah karena mudik dengan moda transportasi Kereta Api kala itu cukup menguras tenaga. Suka duka mudik dengan Kereta Api seperti pada tulisan ku di Ramadhan Tempo Doele . Namun, ketika ingat uang lebaran energi ku kembali lagi, segera saja aku beranjak mengambil uang lebaran.

Bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah, ampunan dan kebahagian bagi seluruh umat muslim. Tidak sedikit yang sedih ketika bulan Ramadhan berlalu karena banyak pahala yang dapat diraih, begitu mudah meminta ampunan kepada Allah dan berharap dijauhkan dari siksa api neraka. Aku pun turut sedih karena bulan Ramadhan berlalu tetapi dengan alasan yang berbeda, yaitu tidak dapat baju baru, uang lebaran, jajanan yang enak selama bulan Ramadhan. hehe

Teringat di suatu Ramadhan, begitu mudahnya aku menghabiskan uang lebaran. Bak raib diambil pencuri. Entah atas motivasi apa, aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah berinisiatif membelikan jersey klub sepak bola untuk teman-teman main di sekitar rumah. Kami datang ke sebuah toko yang menjual jersey dan peralatan olahraga. Kemudian, kami memilih dan mengambil jersey sesuai dengan klub sepak bola yang disukai. Dengan mudahnya, aku membayar sejumlah uang kepada kasir toko itu setelah kami menyerahkan jersey yang akan dibungkus satu per satu. Tidak perlu waktu lama, uang lebaranku menipis dan hanya bersisa sedikit, yang semestinya digunakan untuk keperluan sekolah dan uang jajanku. Tak ayal, kelakuanku ketahuan oleh orang tua, aku dihakimi layaknya tersangka di pengadilan. Walaupun begitu, bersyukur aku tidak dihukum.

Kala itu aku tergolong muda diantara teman bermain, tidak jarang mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Istilah bully sepertinya tepat untuk menggambarkan kondisi ku. Ada rasa khawatir tidak diajak bermain saat di rumah maupun saat masuk sekolah. Pengalaman yang pernah kualami sebelumnya menjadikan ku berinisiatif membelikan jersey klub sepak bola ke teman-teman. Konyol memang, merelakan uang lebaran demi menghindari perundungan. Bagaimana pun diri kita, pintar, bodoh, tua, muda, tinggi, pendek, dan lainnya tidak boleh menjadikan kita anak yang tumbuh dengan mem-bully atau sebaliknya.


Photo by lucas Favre on Unsplash

+7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *