Kolam Kesombongan

Oleh: Fandi Yusuf

Kolam itu terletak di sebelah Masjid. Tidak ada pembatas pada tepiannya. Di sebelah kiri terdapat kolam yang lebih kecil untuk mengalirkan air dari kolam utama. Ukuran kolam utamanya tidak terlalu besar. Airnya tidak bisa dibilang kotor meski juga tidak jernih. Di depan kolam berdiri bangunan yang digunakan sebagai kamar santri. Kolam itu menjadi bagian dari komplek kecil sebuah pesantren dan masjid di Sukabumi.

Masjid itu tidak jauh dari rumah kakekku. Saat aku masih kecil, setiap akhir Ramadhan kami sekeluarga pulang dari Jakarta ke Sukabumi untuk merayakan Idul Fitri. Sore itu, ditemani oleh kakak sepupu, aku pergi ke masjid untuk Sholat Ashar. Masjid sudah ramai dipenuhi oleh para santri dan warga yang membaur. Mempersiapkan diri untuk sholat Ashar. 

Setiba di masjid, seperti layaknya yang biasa aku lakukan di Jakarta, aku mencari tempat khusus untuk berwudhu. Tidak ada. Ya, tidak ada tempat atau ruang khusus dengan keran-keran air untuk berwudhu. Tentu saja tidak mungkin sebuah masjid tidak memiliki tempat untuk bersuci. Bersuci atau wudhu adalah syarat sah sholat. Tidak mungkin ada sholat tanpa wudhu.

Mungkin tempat wudhu yang kucari tersembunyi di satu sudut yang tidak terlihat. Aku perhatikan sekeliling masjid tapi aku tidak menemukannya. Aku baru sadar rupanya orang-orang berwudhu di sebuah kolam, atau dalam Bahasa Sunda disebut kulah.

Dalam tradisi masjid di Nusantara, kulah atau kolam  sepertinya menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan di masjid. Setidaknya yang aku tahu di daerah Jawa Barat masih banyak masjid atau langgar yang mempertahankan kulah meski sudah membangun tempat wudhu dengan keran air.

Akhirnya aku mengikuti orang-orang yang berwudu di kulah. Mereka berjongkok di tepian kulah sambil mengayunkan tangan, mengambil air untuk berwudhu.  Sebagai anak kecil yang datang dari Jakarta, pemandangan itu sangat tak lazim bagiku. Dengan wawasan yang masih terbatas, awalnya aku merasa bingung kemudian entah darimana datangnya berubah menjadi merendahkan. 

“Repot amat sih ini orang-orang, wudu aja pake di kolam gini terus pake jongkok lagi.” Gumamku merendahkan sambil menggulung celana bersiap untuk wudu.

Dengan menggerutu dalam hati aku berjalan dengan langkah yang cepat mendekati tepian kulah.

Byuuurrr….

Belum sempat jongkok, aku terpeleset dan jatuh kedalam kulah.  Layaknya adegan di film, waktu rasanya menjadi sangat lambat. Aku seolah-olah bisa melihat semua mata tertuju padaku. Orang dewasa terlihat menahan tawa meski aku tahu pasti sulit. Anak-anak kecil lainnya, sudah dipastikan mulut mereka terbuka lebar dan terbahak-bahak. 

Bagaimana menahan malu dalam situasi seperti itu? Tidak ada, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menahan malu. Ada momen-momen dalam hidup yang harus kita ikhlaskan karena memang harus terjadi. Ini adalah salah satu momen itu buatku. Kosombonganku dibayar tuntas oleh Allah, seketika itu juga. 

Maka aku berdosa dua hal pada sore di bulan Ramadhan itu. Pertama tentu karena menganggap aku adalah orang yang lebih baik dan kedua karena merendahkan orang lain. Saat itu, sebagai anak kecil yang memenuhi kepalaku tentu hanya perasaan malu yang luar biasa. Terjatuh di kolam disaksikan banyak orang. Ditertawakan. Mungkin tidak ada yang paling sakit bagi seorang anak kecil selain ditertawakan oleh banyak orang.

Seperti ungkapan terkenal pendiri Apple Steve Jobs, “You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards.” Setelah terjadi maka kita baru memahami pelajaran apa yang dapat kita petik. Maka aku mengingat momen memalukan masa kecil tersebut sebagai cara Allah memberikan teguran dan pelajaran.

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Ibn Atha’illah menuliskan dalam kitabnya yang masyhur Al Hikam bahwa ketika Allah memberikan ujian bagi hamba, maka camkanlah, bahwa sesungguhnya Dia tengah mencintaimu. Dan Dia ingin agar engkau mendekat kepadanya.

Hingga saat ini, aku masih belajar untuk menghilangkan pikiran merasa lebih baik dari orang lain. Dan ini sangatlah sulit. Pikiran semacam ini selalu muncul dan butuh perjuangan kuat untuk benar-benar hilang dari kepala. Jika kita membaca kembali kisah Iblis yang dibuang dari Surga; maka kita akan menemukan bahwa itu semua bermula dari kesombongan Iblis yang merasa lebih baik dari Adam.

Kekasih Rasulullah SWA, Abu Bakar As-Shiddiq pernah berpesan jika setiap segala sesuatu itu ada kelebihannya. Maka janganlah suka meremehkan dan merendahkan. 

Rasanya ini yang harus saya ingat terus sepanjang hidup agar tidak terjatuh pada kolam kesombongan.


Photo by André Ventura on Unsplash


Fandi Yusuf adalah seorang penutur kisah melalui goresan garis dan kata. Karena setiap garis memiliki makna dan setiap kata memiliki arti. Ingin melihat garis dan kata yang dituturkannya, silahkan berkunjung ke IG: @yusuffandi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *