Cerita Dua Dia

Oleh: Lisa Adhrianti

Ini berkisah tentang dua dia yang merupakan sosok konyol dalam hidupku. Konyol karena kehadirannya selalu kutunggu namun dia tidak menungguku dan di saat ramadhan keduanya berulah makin konyol sehingga sempat menggoyahkan keimananku.

Dia yang pertama adalah seorang yang sempat menjadikan aku sangat istimewa, bahkan pernah berkali-kali menjatuhkan air matanya untukku ketika aku sedang tidak  banyak fokus kepadanya. Sosok ini dikenal romantis dan pandai membuatku tersanjung karena menurutku cara romantisnya mengagumkan dan tidak terlalu berlebihan. Terhitung sempat lima kali ramadhan selalu dilalui bersamanya, meski terkadang tidak penuh selalu ada di dekatnya. Bagi kami ramadhan itu adalah saat bisa berkumpul lebih cepat di rumah dan bisa ke masjid lebih sering, namun ramadahan juga membuat kami galau dengan urusan mudik dan waktu mempersiapkan makan sahur bersama. Beberapa kali terkadang kami harus terlewat makan sahur karena terlelap hingga azan subuh berkumandang. Bagiku ini masalah yang masih belum lulus bagi kami dan ketika terjaga biasanya hanya tersisa gelengan kepala dan senyum simpul yang menyayangkan hal tersebut.

Lepas lima kali ramadhan, tepat di 2017 lalu, aku kembali merindukan suasanya ramadhan penuh bersamanya, namun ternyata tidak bisa maksimal karena jarak harus memisahkan kami antar pulau. Meskipun begitu, aku selalu berusaha merencankan ketersediaan waktu penuh menjelang akhir ramadhan untuk fokus melayaninya termasuk di tahun 2017 lalu. Sejak awal merencanakan eksekusi kutemukan dia tidak seantusias biasanya.

“nanti kita sering buka bareng dan sahur lagi dong ni yaaa…?”

“ya belum tentu juga si karena biasanya ramadahan itu kegiatan justru semakin padat si…” jawabnya ringan dan datar.

“usahainlah doong…kan ga selalu ketemu juga dan waktunya juga ga terlalu lama”

“iya..iya…insyaaAllah”.

Ketika tiba waktu yang direncanakan itu, betul saja seperti yang dikatakan olehnya. Aku sibuk setiap hari menunggunya namun ternyata tidak seharipun dia menyediakan waktunya untuk menikmati buka bahkan sahur bersamaku. Semua menjadi seperti asing bagiku dan banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan miring yang mengarah kepada buruk sangka.  Setiap kali ditanya, maka balasannya adalah emosi jiwa dengan berbagai macam alasan. Ramadhan kala itu bagiku adalah ramadhan paling kelabu dalam sepanjang usiaku. Ramadhan yang justru menghadirkan gelisah dan amarah, ramadhan yang paling sunyi, sepi dan aku merasa betul-betul sendiri.

Dia yang kedua adalah sosok yang mampu membuatku bangkit dan bersemangat kembali. Seseorang yang aku kagumi dan dia pun mengagumiku. Seseorang yang hadir dekat sebelum ramadhan di tiga tahun berselang sejak ramadhan kelabu di 2017 itu. Dia yang kedua ini benar-benar suatu keajaiban untukku. Dia mau membersamaiku disaat aku merasa datar saja menjalani hidup ini tanpa target pencapaian apapun. Dia yang sempat berjanji untuk selalu ada bersama menemaniku hingga aku kembali menemukan muara sesungguhnya. Dia yang telah aku percaya namun ternyata juga pergi menjelang ramadhan. Kala itu ramadhan kembali menjadi sangat sunyi bagiku, meskipun tahun-tahun sebelumnya aku juga masih berteman sepi. Sejak itu aku mencoba untuk mengikhlaskan sosoknya karena mungkin Allah cemburu kepadaku, hingga tiba suatu masa di pertengahan ramadhan kami tidak sengaja bertemu kembali. Aku tidak menyangka gejolak kerinduannya ternyata memuncak hingga sesuatu hal konyol dapat dia lakukan di hadapanku.

“hei..ini puasa looh…ga boleh lebai tauk!” protesku.

“hahahahaha…iya nih mungkin karena lama sudah tidak bertemu yaa?” ujarnya.

“nah kamu kemana aja hilang tanpa kabar berita”

“yaa…aku memang begini…perlu dikasih jarak biar aku bisa mendekat kembali”

“hah?? aneh banget sih loe! Menyebalkan” sungutku.

“jadi what’s our next”  tanyaku

“heeem…yaa tidak semudah yang diinginkan” ujarnya.

Respon konyol yang menurutku agak berlebihan dari sosok dia yang kukagumi itu membuat ramadhanku ternoda. Ternoda karena gombalnya sehingga aku merasa berada di titik keimanan paling rendah. Aku masih manusia biasa yang juga terkadang kesulitan untuk mengontrol hawa nafsuku. Aaakh….jika mengingat itu aku tidak ingin mengalami pengulangan kejadian serupa di ramadhan lainnya. Sungguh kedua sosok dia itu sempat mengujiku. Menguji keimanan dan kecintaanku pada Rabbku.

Maafkan aku Ya Tuhaan…Sesungguhnya memang tidaklah pantas ada kecintaan selain cinta kepadaMU saja. Tidaklah ada harapan selain berharap kepadaMU saja….karena pada hakikatnya kita datang dan berpulang sendiri. Pertanggungjawaban kepada Allah Azza Wajalla adalah mutlak milik diri ini sendiri. Ya Ghafur…ampuni hamba.


Photo by Andrew Neel on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *