Cara Mempermalukan Diri Sendiri: Tidur Saat Tarawih

0

Oleh Lisvy Nael

Saya selalu yakin jika obat terbaik untuk lapar adalah makan. Sedangkan obat kantuk ya tidur. Nah, seringkali kalau saya lapar lalu makan yang timbul kemudian adalah ngantuk. Masalahnya  kalau siklus ini terjadi jelang salat tarawih, itu agak berbahaya. Well, saya nggak tau cerita ini bakal lucu atau enggak, yang jelas sih berhasil bikin malu. Hehe.

Sebagai seorang muslim, momen ramadhan yang datang setahun sekali ingin selalu dimaknai secara maksimal dong: ibadah lebih diperketat mulai salat fardu tepat waktu, berjamaah dan kalau bisa selalu nambah sunnah. Nah, sunnah yang sangat khas dan selalu ingin kita kejar salah satunya adalah tarawih. Siapa coba yang mau menyia-nyiakan tarawih cuma karena ngantuk? Saya jelas nggak mau.

Sebelum cerita tentang tarawih dan kantuk, saya ingin cerita dulu tentang kebiasaan pelor alias asal nempel langsung molor. Kalau diingat-ingat dan dipikir ulang, ternyata memang saya termasuk orang yang ngga bisa tahan kantuk. Bahkan waktu ada detlen kerjaan tinggal dua jam tapi ngantuk parah, saya akan set timer 10-15 menit untuk napping. Dulu di kelas juga nyempetin napping 5-10 menit di kelas. Ngumpet dibalik buku yang diposisikan berdiri.

Nah, saat kuliah pun sama. Misalnya saat ada tugas makalah, besok tenggat waktu pengumpulan, malam sebelum D-day baru mulai mengerjakan alias SKS (sistem kebut semalam). Ya… jangan heran kalau di tengah makalah tentang politik Rusia ada nyempil kalimat macam, “Hasil suara pemilihan dimanipulasi dan disabotase nanti nunggu semua kumpul baru pergi. Nggak boleh….” Seriusan, paginya pas baca ulang setelah di-print bingung sama maksud kalimat begitu. Tapi yo wes, bahno! Haha.

Well, mundur jauh lagi saat masih sekolah di tingkat SMP. Ada kejadian lucu tentang kantuk dan tarawih. Kisah memalukan yang kalau diingat-ingat masih punya daya konyolnya buat diketawain. Kejadiannya di masjid yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari rumah, tapi berkat kejadian itu, satu minggu saya nggak muncul di masjid saking malunya.

Seperti kita tahu, ada perbedaan amaliyah salat tarawih. Satu kelompok salat tarawih dengan jumlah rakaat 11 dan kelompok lainnya 21 rakaat. Umumnya, dua kelompok berbeda ini akan memilih salat di masjid berbeda. Tetapi tidak di dusun saya, kami salat bersama di satu masjid yang sama.

Cara kerja dua kelompok ini adalah, ustad yang memimpin salat tarawih 11 rakaat akan terlebih dahulu mengimami. Jamaah yang tarawihnya 21 juga ikut di belakang imam dengan taat. Nah, saat witir, kelompok yang salatnya 21 rakaat akan rehat sejenak. Menunggu kelompok saya selesai salat, barulah mereka melanjutkan tarawihnya.

Bagian memalukannya terjadi saat saya salat witir rakaat ke dua di masjid. Ketika bangun dari sujud, masjid tempat jamaah perempuan yang tadinya hapir empat shaf sudah lebih longgar, hanya satu shaf. Ibu-ibu juga senyam-senyum ke arah saya.

Ternyata… saya sujud saat witir rokaat kedua dan terbangun saat rakaat ke 14 jamaah salat tarawih 21 rakaat. Jadi, saya ketiduran saat sujud sodara-sodara… tidak ada yang membangunkan saat witir selesai. Karena itu, saya merasa malu sampai ke ubun-ubun.

Di lain waktu, pernah juga saat tahiyat, tibat-tiba saya jatuh ke depan. Tersungkur. Ketiduran. Karena malu, saya langsung memijat pelipis. Pura-pura kalau saya kena migraine dan gak bisa fokus. Padahal… ya itu, ketiduran.

Photo by Kinga Cichewicz on Unsplash


Lisvy Nael, tante rumah tangga asli Brebes yang mencoba untuk terus berkarya. Dapat dijumpai dalam berbagai platform: Podcast Relaksasi Rasa (Lisvy Nael), YouTube Lisvy Nael, atau website lisvynael.com

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *