Buku Ceramah yang Menceramahiku Secara Tidak Langsung

+4

Oleh: Maydina Zakiah

Masih ingatkah kawan, dengan apa yang kamu lakukan di masa kecilmu saat bulan Ramadhan tiba? Di masa kecilku dahulu, ada sebuah rutinitas yang kerap dilakukan di bulan Ramadhan, selain puasa dan shalat teraweh, yaitu mengisi buku ceramah. Masih inget momen tersebut? Sempat mengalami hal tersebut atau tidak?

Yup…mengisi buku ceramah yang didapatkan dari sekolah menjadi pekerjaan rumah rutin tiap bulan Ramadhan menghampiri. Pemandangan seorang anak putri yang membawa peralatan sholatnya termasuk sajadah dan mukena biasa terlihat pada masa itu plus buku ceramah terselip diantaranya. 

Kreativitas, ketekunan, dan kejujuran diuji dengan kehadiran buku ceramah tersebut. Kreativitas dalam merangkum dan berkata-kata dalam tulisan diperlukan, sehingga meski ceramah yang didengar topiknya sama dengan teman lain, terdapat beda dalam ringkasannya.Nggak boleh nyontek yow… Ketekunan teruji manakala kita tetap fokus dan konsisten mendengarkan ceramah tiap hari di bulan Ramadhan plus meminta tanda tangan sang ustadz/penceramah setiap harinya di bulan Ramadhan. Nantinya ringkasan ceramah setiap hari yang kita buat juga harus diketahui orang tua kita, buktinya dengan meminta tanda tangan mereka. Sedangkan kejujuran teruji untuk tidak meniru atau mencontek ringkasan/rangkuman ceramah teman yang lain. Jadi tidak jarang ditemui pemandangan setelah teraweh, ustadz/penceramah diserbu anak-anak kecil untuk dimintai tanda tangan untuk buku ceramah masing-masing dari kami.

Namun tahukah mereka bagaimana perjuangan kami untuk tetap fokus dan tahan mendengarkan ceramah Ramadhan sebelum atau sesudah sholat teraweh? Serangan kantuk dan kelelahan kadang menyerang kami. Belum lagi jika kipas angin mushola mendadak mati. Perlu keteguhan hati dan ketahanan mental yang tinggi dalam menyikapi hal itu. Panas, gerah, ngantuk, dan bosan kadang menyerang kami, terutama jika ceramahnya sangat panjang, menggunakan bahasa-bahasa langit yang kadang tidak kami pahami sebagai anak kecil. Udah harus fokus, jaga mata, dan otak tetap ‘tune-in’, menggunakan bahasa dewa pula. ‘Bagaimana mau menulis ringkasan? Paham aja tidak huehehehe…’Pikirku kala itu.

Dan aku menyiasati kejenuhanku kala itu dengan menggerak-gerakkan jariku membentuk sebuah pola gambar pada sajadah, sembari telinga terus mendengar. Atau mencorat-coret di bagian halaman lain buku ceramah. Mengapa? Sebab kalau mengobrol sama teman di sebelah, nantinya ditegur sama ibu-ibu atau diantara mereka ada yg berkata ‘Ssstt….berisik…diam yaa..dengerin ceramahnya…’ 

Nah rutinitas meringkas ceramah pada buku ceramah kujalani dengan baik bersama teman-teman. Suka atau tidak suka, menyenangkan atau tidak tetap kami jalani dengan penuh tanggung jawab. Entah mengerti atau tidak yang kami dengar ataupun kami tulis. Ada kalanya topik ceramahnya menarik dan mudah dimengerti, tapi juga ada kalanya sangat membosankan dan membuat kami bingung karena bahasannya terlalu tinggi untuk anak-anak seusia kami. Perasaan senasib dan sepenanggungan menyelimuti kami kala itu, memperkuat rasa kebersamaan kami. Hingga pada akhirnya waktu yang dinantikan tiba. Buku ceramah tersebut dikumpulkan. Perasaan dag dig dug serta lega bercampurl.. plus perasaan akan kehilangan momen tersebut mulai datang. Fakta bahwa pekerjaan rumah kami yang dilakukan dengan penuh perjuangan, ternyata terbalaskan dengan nilai yang didapatkan kemudian. Namun di situ juga ku merasa konyol, guruku cuma melihat sekilas isi rangkuman kami lalu kemudian memberikan nilai…hanya sekilas, tidak dibaca seksama per bagian, per hari, per ringkasan. Mungkin aku yang terlalu berekspektasi kala itu. Laiknya anak-anak yang masih berkutat dengan penghargawn (reward) dari sebuah pencapaian, aku kecewa…meski nilaiku cukup bagus. ‘Yah sudah lha…’ pikirku kala itu, paling nggak aku jadi belajar dan berlatih menulis dan mendengarkan. Lalu tahun demi tahun berjalan, setahap demi setahap tugas tersebut dihilangkan…dan mungkin generasi sekarang tidak merasakan pekerjaan rumah atau tugas itu lagi…mengisi buku ceramah Ramadhan dengan ringkasan.

Saat kuberanjak dewasa baru kupahami makna penugasan tersebut…Tentang keikhlasan beribadah dan tentang menanamkan budaya…budaya menulis dan mendengarkan…berkomunikasi …Itulah makna yang terkandung dalam penugasan buku ceramah itu…Rasanya bukan kekonyolan dan kekesalan yang kudapatkan, tetapi pembelajaran…pendidikan secara tidak langsung yang kala itu tidak  kusadari… Aku bisa merangkum buku dan menulis artikel ini…salah satu faktornya bisa jadi karena mengisi ringkasan pada buku ceramah Ramadhan itu. 

Terima kasih guruku…terimakasih pembuat kurikulum di sekolahku dan sistem pendidikan di masa itu…karena kalian, ku bisa menulis…dan menulis tulisan ini.


* Penulis adalah peminat dunia kreatif, kreativitas, inovasi, dan pembelajaran. Pernah menjadi kontributor aplikasi perangkum buku pada sebuah startup rangkuman buku best seller terkait manajemen, marketing, SDM, dsb disamping juga pernah menjadi kontributor pada sebuah web portal industri kreatif. Penulis juga merupakan salah satu founder forum sebuah komunitas pembelajaran kreatif. Lebih lanjut tentang karya dan kiprah penulis dalam komunitas dan profesional bisa dilihat pada https://linktr.ee/maydina 


Photo by Leohoho on Unsplash

+4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *