Aki, Ikan Goreng dan Momen Ramadan Masa Kecil

Oleh: Dini Nurhayati

Masa kanak-kanak dulu, bulan Ramadan adalah bulan paling ditunggu. Momen-momen yang menempel di memori kepala, kebanyakannya hal-hal yang terjadi di bulan Ramadan. Rasanya saat itu sepanjang tahun adalah bulan Ramadan. Iya, bulan Ramadan di masa kecil seperti berlangsung dalam waktu yang saaangat lama. Barangkali penyebab salah satunya yakni saat bulan Ramadan tiba, sekolah diliburkan.

Ada juga pengalaman saat-saat Ramadan harus sambil sekolah. Seperti kebanyakan anak-anak, pasti mengalami yang namanya batal puasa, gara-gara tergoda ataupun digoda teman lain. Minum air dingin ketika jam istirahat menjadi hal yang disesali ketika waktu Magrib tiba. Dan melihat hidangan es campur ditambah sirup, air dingin tadi taka da apa-apanya. Apalagi jika setelah minum yang hanya seteguk dua teguk itu, tidak diikuti makan ataupun minum apa-apa lagi. Sudah hanya minum itu saja. Rasa menyesalnya seperti tidak habis-habis.

Momen yang juga paling dinanti dan membuat senang hati adalah pulang kampung. Berpuasa dan salat tarawih bersama sanak saudara dan teman-teman di desa, entah mengapa saat itu memberikan nuansa berbeda. Aku yang tinggal di kota Cirebon, akan menjadi sangat excited. Tentunya karena secara keseluruhan, tradisi berpuasa di komplek rumah kami dengan di desa memiliki banyak perbedaan. Di kota kediaman, meskipun lebih riuh dari bulan-bulan sebelumnya, rasanya tetap sepi. Di kampung, di rumah Aki yang besar, seluruh keluarga kumpul. Sampai malam masih akan ramai dengan suara-suara.

Saat berbuka puasa, seisi rumah akan berada di ruang tengah. Usai makan takjil, kami yang kanak-kanak langsung menyantap hidangan utama. Seolah perut kami berukuran besar saja. Hampir setiap hari menu ikan ada di meja makan. Dan hal yang tidak bosan dilakukan Aki adalah, menyodorkan padaku sepotong ikan yang sudah dipilihnya. Di masa kanak-kanak, aku memang dikenal susah makan terutama untuk jenis ikan dan daging. Itulah mengapa, Aki, kakekku dari ayah itu, paling perhatian dan paling pertama yang menaruh sepotong ikan goreng di piringku. Aki selalu memilihkan potongan berukuran besar. Bukannya senang aku malah akan tersiksa melihatnya. Aku tidak suka ikan, oh yang betul adalah, aku tidak suka bagian daging ikan yang berwarna hitam itu. Akan tetapi sebab pernah disuapi dan bagian daging yang masuk mulut kebanyakan yang hitam itu, aku seketika mual karena anyirnya sangat terasa di lidah. Sejak saat itu, makan ikan jadi musuh utama. Dan, di rumah Aki, justru aku harus makan ikan selalu dan selalu. Sekarang baru kusadari, betapa perlakuan Aki semata hanya karena sayang dan begitu perhatian. Padaku yang bertubuh paling kecil di antara anggota keluarga yang lain.

Momen berkesan lain menghabiskan Ramadan di kampung adalah apalagi kalau bukan bertemu teman di sana. Jadwal rutin kami, bermain bersama di pagi hari, khas permainan tradisional, seperti main congklak. Atau kalau tidak, hanya mengobrol sambil duduk—bagian ini kalau terlalu banyak orang, nantinya biasanya ada yang marahan, haha, ya khas anak-anak lah. Masuk Duhur, kami akan diminta pulang buat tidur siang setelah salat dulu. Baru ketemu lagi setelah berbuka puasa. Mendekati waktu Isya, teman-teman akan datang beramai-ramai. Setelah itu, kami akan berlarian, berlomba siapa yang paling dulu sampai surau. Lalu saat ceramah sebelum salat tarawih, aku harus berusaha keras membuat catatan di buku Ramadan, sebab ceramah disampaikan dalam bahasa daerah, yakni bahasa Sunda.

Sebab bahasa yang digunakan teman tentunya juga bahasa Sunda, aku malah jadi belajar. Dari obrolan saat bermain yang bisa berlangsung lama, karena diselingi bertanya pada Uwa saat ada kata-kata yang tidak kupahami. Atau dari para orangtua yang berbincang-bincang dengan Uwa, dan di saat bersamaan aku ada di samping mereka. Biasanya logat, intonasi dan gaya berbicaraku akan ketempelan teman-teman dan orang-orang di sana. Hingga berhari-hari, bahasa Sundaku akan tetap bertahan digunakan, selama di kampung.

Nanti begitu kembali pulang, perlahan sebagiannya akan menguap lagi. Meskipun begitu, suasana Ramadan hingga hari lebaran, nada khas kumandang azan dari surau dan langit sorenya yang berwarna jingga cerah akan selalu menempel di benak. Selalu dirindukan setiap Ramadan menjelang sampai kini, bahkan mungkin hingga nanti.[]

Cirebon, April-Ramadan 2021


Dini Nurhayati, yang kerap menggunakan nama Dinu Chan di beberapa tulisan dalam genre fiksinya. Kelahiran Bandung, akan tetapi kini tinggal di Kota Cirebon. Penulis dapat disapa di akun media sosialnya seperti FB Dinu Chan dan IG @dinu_chan.


Photo by Gregor Moser on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *