Semua Karena Cinta

+48

Oleh: Ristanti Anistiya

Senja baru saja menghantarkan hari pada rengkuhan malam dengan hanya beberapa bintang bersemayam cantik di langit malam. Azan Magrib yang mengakhiri ibadah puasa Ramadhan pada hari ini telah berkumandang beberapa saat yang lalu dan deretan sajian untuk buka puasa telah tertata dengan rapi. Lengkap diawali dengan penggugah selera atau orang bule sering menyebutnya appetizer (padahal tanpa ini pun, selera makanku tetap berada pada level yang tinggi) seperti beberapa butir kurma, teh manis hangat agak ke panas, gorengan dengan berbagai varian, kolak pisang dan pasangan kompaknya, biji salak. Ditambah pula dengan menu baru yang ditawarkan penjual makanan takjil hari ini berupa mie golosor komplet dengan sambal kacang dan kerupuk Asoy yang asoy rasanya. Lengkap sudah pasokan takjilku hari ini, sama seperti hari-hari kemarin dan biasanya akan sama seperti ini sampai akhir bulan puasa. Belum lagi bicara hidangan utama atau main course kata orang sono menyebutnya, berderetlah daftar menu yang pasrah menanti untuk disantap, tak cukup dengan ayam goreng serundeng dan sayur sop yang segar, tahu tempe goreng, emping gurih plus sambal yang menantang adrenalin pun turut memeriahkan acara buka puasa dan diakhiri dengan segarnya es buah. Ini baru setitik kenikmatan dunia, pikirku sering kali, bahagianya sudah meluap-luap.

Tayangan bernuansa religi menjelang buka puasa di hampir semua stasiun televisi pun tak mau kalah menyumbang kebahagiaan bagi para pemirsanya. Acara-acara komedi talk show dan reality show tak pernah terlewat menemani momen buka puasaku. Sebagai penyeimbang acara hiburan yang lebih mendominasi, beberapa stasiun TV menayangkan acara ceramah agama dengan mendatangkan para ustaz ternama yang dalam waktu singkat berusaha untuk memerciki rohani para pemirsa dengan nilai-nilai religius.

Sholat Maghrib kutunaikan dengan tingkat konsentrasi yang rendah dan kecepatan yang tinggi karena isi di benakku adalah deretan makanan yang belum beres kusantap. Rasanya kala berjalan terlalu cepat saat kita menikmati apa yang kita lalukan. Jarum jam telah mengingatkan penghuni seisi rumah untuk segera siap-siap ke Mesjid di dekat rumah untuk melaksanakan rangkaian ibadah selanjutnya, sholat Isya dan dilanjutkan dengan Sholat Tarawih.

Dengan agak sedikit enggan karena masih dipenuhi hasrat untuk menikmati waktu dengan menyantap menu yang belum semuanya disentuh sambil mata tak lepas dari sang pembawa acara yang sangat atraktif pada layar kaca, aku beranjak dari tempat duduk untuk bersiap mengambil wudu dan bersiap ke mesjid di dekat rumah.

Dengan badan yang beratnya serasa mendadak bertambah setelah buka puasa tadi, ku ayunkan langkahku menuju mesjid sambil menyisipkan sedikit harap semoga surat-surat yang dibaca oleh Imam sholat Tarawih nanti bukan surat yang panjang. Hatiku rasanya masih tertinggal di rumah dengan semua kesenangan yang belum semuanya kuselesaikan.

Setibanya di Mesjid, beberapa barisan sholat telah terbentuk. Suasana cukup ramai dengan tawa anak-anak kecil berlarian tanpa lelah mengitari orang tua mereka yang menanti waktu Isya tiba.

Azan Isya yang dinanti pun datang menjelang. Kuselipkan diriku di antara para jamaah di shaf agak belakang dan mulai memejamkan mata berusaha menenggelamkan benak dan hati dalam setiap bacaan surat Al Quran yang Imam bacakan. Namun baru saja Imam melantunkan surat Al Fatihah, pikiranku sudah melayang ke berbagai tempat dan mengingat-ingat hal yang sebelum sholat tidak ada di benakku. Teringatlah bahwa aku belum sempat menjawab pesan temanku di Whatsapp yang ia kirim siang ini, teringat pula handphoneku yang belum dicas seharian dan semoga tidak keburu off karena lowbat. Imam lanjut membacakan ayat-ayat dan benakku pun melanjutkan pengembaraannya ke tempat yang lain. Terlintas tugas membuat laporan yang belum kusentuh sedikit pun padahal tenggat waktu pengiriman hari ini.  Ah…gampang malam ini akan kuselesaikan dengan mudah, batinku.

Masih dalam pengembaraanku yang belum usai, namun Imam telah usai membacakan surat Al Fatihah. Aku terkesiap sedikit menyesal tidak menyimak dengan baik. Sambil berusaha menjinakkan anganku yang masih terus liar mengangkasa, aku menebak-nebak surat kedua apa yang akan dibacakan Imam. Dan tetap dengan harapan bukan surat yang panjang supaya sholat Tarawihnya tidak lama. Ayat demi ayat berlalu….namun Imam belum juga sampai pada ujung bacaan. Lama juga ya…batinku mulai tak sabar.

Dan bukannya berusaha mengkhusyui bacaan surat oleh Imam, aku malah semakin berharap agar sholat Tarawih ini segera selesai dan aku bisa cepat pulang melanjutkan santap malam dan nonton TV-ku yang belum rampung. Teringat salah satu sinetron favoritku yang sudah tayang sekarang. Ah…semoga masih keburu. Benak dan hatiku semakin jauh dari memaknai bacaaan ayat-ayat suci yang hanya mampir selewat di telingaku. Dengan waktu yang terasa berjalan lamban, akhirnya sholat Tarawih selesai juga malam itu. 

Dan hari-hari selanjutnya kujalani semua giat dengan ritme yang sama.  Tarawih demi tarawih ku lalui dengan dengan hati yang datar tanpa kesan. Aktivitas yang paling kusuka hanyalah saat Azan Magrib tiba yang menghalalkan disantapnya berbagai menu pilihanku sambil menonton acara TV kesukaanku.

Aku sempat mempertanyakan batinku sendiri, kemana semangat dan kehangatan bulan puasa yang dapat mendekatkan pada Illahi yang ramai digaungkan banyak orang. Aku merasa biasa saja menjalaninya. Tak kurasakan kenikmatan dalam berpuasa dan sholat seperti yang sering disampaikan dalam kajian-kajian. Selama ini kujalankan ibadah yang wajib-wajib saja. Pergi ke mesjid untuk sholat Tarawih pun karena tidak enak dengan keluarga di rumah yang akan mempertanyakan jika aku tidak ke mesjid. Terkadang di saat beraktifitas di hari yang terik yang mengundang rasa dahaga yang sangat, terbersit dalam batin pengandaian jika tidak harus puasa pada hari itu walau cepat-cepat kuhapus angan itu karena masih menyadari itu adalah kewajiban agama yang harus kupatuhi tanpa banyak protes.

Sampai pada suatu sore selepas Ashar di minggu kedua bulan Ramadhan, saat asyik berselancar di media sosial favoritku, tanpa sengaja mataku tertambat pada sebuah postingan, aku bahkan tidak sempat perhatikan siapa yang posting, yang isinya membuat jari-jariku terhenti mengusap layar gawai yang kupegang. Tiba-tiba ada keinginan kuat untuk menyimak lebih jauh isinya. Tulisannya singkat saja tentang sejatinya Allah menciptakan insan ke dunia adalah untuk menyembah-Nya dan Allah telah menjadikan manusia sebagai mahluk yang paling mulia, paling mulia diantara mahluk lainnya sehingga Allah memberi kehormatan dan kepercayaan dengan menjadikannya sebagai Khalifah di muka bumi dan betapa kasih sayang dan pemberian Allah tiada pernah henti tercurah pada manusia setiap saat, setiap waktu. Namun kebanyakan manusia mengabaikannya, melupakannya, meremehkannya, dan… aku adalah salah satunya. Aku tercenung membacanya, hatiku seperti disentil oleh suara yang tak asing dari sanubari terdalamku yang selama ini mungkin telah sering mengingatkan namun selalu kuabaikan dan kubekam suaranya dengan semua aktifitas keduniawianku dan orientasi berpikirku yang belum pada mencari cinta Pemilik hidup dan jiwaku.  

Aku seperti terlempar mundur dalam waktu dan benakku merefleksi semua perilaku dan ibadahku selama ini yang masih sebatas menggugurkan kewajiban dan bukan karena aku ikhlas menerima dan menjalani semua perintah ibadah-Nya dan belum pada tujuan mencintai Robb-ku dan ingin dicintai-Nya. Betapa aku telah lalai dari mensyukuri setiap karunia dan kasih Allah yang meliputiku tiada henti setiap saat. 

Alih-alih, aku malah menjadi manusia yang penuh perhitungan dengan ibadah-ibadah yang kulakukan padahal masih di tingkat yang minimalis. Teringat keluhan-keluhanku saat rasa lelah dan dahaga datang dalam menjalani puasa di hari yang terik. Belum lagi sikap ogah-ogahanku saat menjalani sholat Tarawih dan berharap cepat selesai sehingga aku dapat melanjutkan semua kesenanganku di rumah. Sholat pun ku jalani dengan ragaku saja namun tidak dengan jiwa dan benakku yang sering meninggalkan ragaku sendiri, padahal Allah tengah menyaksikan hamba-Nya yang lalai dari sholatnya ini. Astagfirulloh…Momen buka puasa pun kulewati tanpa hikmat dan rasa syukur dengan semua pemberian-Nya sehingga aku masih dapat berbuka puasa dengan rezeki makanan sangat layak bahkan sering kali berlebihan. Aku melewatkan nikmat Tuhanku yang lain dalam kesehatan ragaku sehingga dapat melakukan semua aktifitas dengan lancar nyaris tanpa kendala. 

Aku disadarkan bahwa semua aktifitas ibadah kujalani dengan berat dan hampa tanpa kesan karena belum ada ikhlas dan cintaku di dalamnya. Aku belum mencintai Tuhanku dengan sebagaimana mestinya padahal Tuhanku selalu mencintaiku, dengan sabar dan penuh kasih menantiku, si hamba yang tidak tahu diri ini, untuk kembali mendekati-Nya dengan cinta. Tuhanku selalu memahami kekurangan dan kelemahanku dan menegurku dengan lembut agar kembali pada-Nya dengan cinta. 

Dan jika Allah telah menghendaki mengucurkan kasih dan petunjuk-Nya, dengan jalan dan cara apa pun yang Ia kehendaki, bahkan hanya dengan melalui posting sederhana di media sosial, hati hamba yang masih remang karena cahaya-Nya yang begitu redup di hatinya dapat tercerahkan untuk menyalakan kembali lilin cinta untuk Robb-nya dalam jiwanya.

Seperti mendapat aliran kekuatan baru, bergegas aku bersiap-siap untuk menanti Azan Magrib dan buka puasa, namun kali ini bukan untuk memuaskan hasrat laparku semata untuk menyantap makanan sebanyak-banyaknya, namun berusaha untuk menjalani buka puasa dengan kesadaran mencintai perintah-Nya. 

Dan kulangkahkan hati dan ragaku menuju Mesjid dengan cahaya hati yang terbarukan untuk berusaha menemui Tuhanku dalam setiap rakaat sholat, menemui Tuhanku Yang Maha Cinta dan mendekati-Nya dengan segenap cinta. Semoga Allah istiqomahkan hamba yang sempat hilang cinta ini untuk selalu mencinta-Nya dalam kesederhanaan dan keterbatasan manusia yang masih fakir ilmu dan iman. Terima kasih atas cinta-Mu, Tuhan Pemilikku.


Photo by Dilara Begüm Kırkoğlu on Unsplash

+48

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *