Lomba Nasyid Bukan Ide yang Baik

Oleh: Irfan Fandi

Dari kisah ku sebelumnya Ramadan ku dulu sangatlah berarti untuk ku dengan orang-orang yang tercinta, namun disetiap momen pasti ada yang kurang baik atau nggak banget ya untuk diulangi kembali karena cukup sekali dan itu sudah cukup. (Hehehehehe)

Bulan Ramadan sangat special, karena setiap menjalani bulan Ramadan selalu saja ada hal-hal yang ditunggu yaitu mengikuti perlombaan yang diadakan oleh masjid-mesjid lain yang ada di sekitar wilayah tempat tinggalku. Jika kalian mengikuti tulisan pertama ku mungkin kalian sudah tau perlombaan apa saja yang kami ikuti bersama-sama da berjuang membawa pulang piala kemenangan sebgaai prestasi.

Namun ada hal kejadian yang sangat tidak banget untuk kami ulangi atau bermimpi untuk mendapatkan peluang lagi sebagai pemenang. Lomba nasyid pada masa aku duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ada bebapa undangan untuk  salah satunya kategori nasyid untuk putera dan puteri. Kami berkumpul untuk membahas perlombaan apa saja yang harus kami persiapkan untuk diikuti, kami memutuskan untuk mencoba hal baru dalam kreatifitas aku dan teman-teman.

Untuk perlombaan dibidang lain mungkin kami jangan ditanya lagi kepiawaiannya dalam mengekplore untuk tampil beda, namun Nasyid merupakan hal baru yang belum pernah kami coba dan ini merupakan challenge baru kami dalam mencoba cara baru. Dengan percaya diri yang tinggi membuat kami santai-santai saja tanpa ada beban sedikit pun.

Kami sudah dilatih mental dan pengembangan serta penerapan ilmu dalam belajar. Untuk tampil didepan orang banyak adalah hal yang biasa karena setiap harinya kami masa kecil sudah dilatih dan diasah kemampuan nya untuk bisa tampil didepan oranag banyak, namun untuk kejadian ini kami sangat memalukan dan berusaha untuk tebal muka.

Kami hanya memilih jenis lagu yang cocok dan sudah hafal diluar kepala kami, walau suara hanya pas-pasan tapi dengan adanya percaya diri yang tinggi membuat kami santai saja. Dalam latihan kami tidak ada mendapat masalah signifikan yang berarti berat, hingga tiba waktunya kami untuk perform di lomba itu kami baru merasakan kepanikan yang sangat luar biasa.

Pertama, kami terlalu santai untuk menanggapi perlombaan ini. Kedua, persiapan kami yang menurutku sudah pas dan lengakap, namun nyatanya setelah melihat kondisi lapangan perlombaan kami angat berbeda dengan orang yang ada disana. Setiap peserta kelompok memakai baju seragam yang serasi dan sama, dari warna hingga aksesoris yang dipakainya, kemuadian pembagian sura dan teknik dari peserta lain sungguh luar biasa dan kami tidak ada memikirkan hal sampai ke situ.

Perasaan ingin mundur dan kabur adalah hal yang tepat untuk dilakukan pada saat itu, aku dan teman-teman merasa malu dan beda dari kelompok yang ada. Kakak Pembina remaja masjid menenangkan kami smeua, “Jangan panik, anggap saja ini perlombaan biasa yang kalian jalani sebelumnya” ujar nya. “gimana nggak panik kita jauh dari semestinya bg” sahut salah satu temanku. Jika dibandingkan dengan perlombaan lain ini  sangatlah berbeda, jika lomba seperti adzan, MTQ, Pidato, Penyelanggaraan Sholat Jenazah dan lain-lain itu kami bisa tampil luar biasa karena kami sudah menguasai semuanya dan mempersiapkannya dengan sangat baik.

Nasyid ternyata bukan bidang kami dan kami salah persepsi akan bidang pelombaan satu ini, masjid kami pun untuk pertama kalinya mengikuti lomba ini dan ini mungkin untuk pertama dan terakhir. Penampil pertama sungguh luar biasa penampilannya dengan beranggotakan enam orang dengan pembagian suara yang keren menurutku, mereka seperti acapella yang ada vocal, bass, suara instrument dan lain-lain. Menurutku itu sungguh keren dan luar biasa, dibandingkan kami hanya penampil sederhana dan tampil apa adanya, kami merupakan peserta nomor undian ke 8. 

Keringat dingin dan bolak balik ke toilet adalah pekerjaan kami selama menunggu waktu tampil, semakin dekat nomor undiannya semakin tinggi pressure dan gelisahnya. Kami ingin memutuskan untuk walk out tapi kakak Pembina melarang, “gimana kitahu hasilnya kalo kita belum tampil sama sekali” uajrnya, menurutku dengan kami tidak tampil itu sudah menggambarkan bagaimana jeleknya persiapan dan performance kami pada saat itu.

Tibalah pemanggilan nomor urut 8 tampil di depan pengunjung lomba dan peserta lainnya, sungguh keringat dingin dan menggigil semua lutut u]tidak sanggup berdiri lagi. Banyak hal yang membuat penampilan kami menjadi jelek karena adanya masalah teknis dari panitia yang microphonenya rusak satu dan hingga lengkap sudah kami bernyanyi bersama-sama dengan pakai dua microphone dengan suara apa adanya. Setelah selesai manggung kami serentak dengan buru-buru untuk turun dan langsung pulang tanpa menunggu ini dan itu lagi, tak hayal kakak pembimbing kami tinggalkan ditempat acara lomba.

Ini sungguh penampilan kami yang paling jelek dalam sejarah perlombaan yang kami ikuti, jika ada pelombaan dengan genre yang sama mungkin langsung akan kami tolak dan tak mau lagi untuk ikut berpartisipasi. Kami tidak memiliki keahlian disana, karena ditempat kami mengaji dulu hal ini tidak diajarkan dan dengana danya perkembangan zaman yang cepat berubah maka perlombaan pun mulai bervariasi.

Dari kejadian dan pengalaman diatas kami sebagai Pemuda/I Mesjid Al Hidayah akan lebih berhati-hati dalam memilih jenis pelombaan, pelombaan yang diikuti harus sesuai dengan kemampaun dan keahlian yang sduah kita tekuni. Sampai kami jika memngingat kejadian itu langsung membuat perjanjian, jika kami diuandang untuk perlombaan seperti cerdas cermat islami, Adzan, MTQ dan lain-lain keculai nasyid kami akan mengikutinya karena keahlian dan kemampuan masjid ini hanya bidang islami yang butuh skill matang bukan menyanyi, dari sana kami sangat banyak belajar untuk lebih selektif lagi. Sampai sekarang ada lomba dengan jenis seperti itu maka masjid kami akan menolak dan walk out dari ke ikut sertaan peserta.


Photo by Joao Cruz on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *