Konyol Kuadrat

+8

Oleh: Cicih M Rubii

Ramadhan bulan penuh ampunan, bulan yang kehadiannya didamba seluruh umat Islam.
Bulan yang mengisahkan perjalanan religi yang unik dan indah. Beruntunglah orang-orang yang
bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan.

Ini adalah malam Ramadhan hari kelima. Selepas taraweh bergegas ku menuju dapur
yang berantakan sisa-sisa kejayaan buka puasa tadi. Beberapa makanan yang berlebih masih
tertinggal di meja makan. Tumpukan piring dan gelas kotor memenuhi bak cuci piring. Setelah
kuteguk sisa es buah, segera kurapihkan semuanya dengan gerakan cepat.

“Mama, sahur nanti pakai soto ayam bisa kan?” ujar anak lelakiku memohon. Aku hanya
tersenyum sambil mengangguk.

Menu makanan yang lezat tapi rumit persiapannya. Daripada aku memasak soto saat
sahur, lebih baik aku cicil dari sekarang sebelum beranjak tidur. Sejam kemudian proyek
pembuatan soto selesai.

Hari sudah beranjak malam, mataku sudah sangat mengantuk. Kurapikan semuan alat dan
bahan yang berserakan. Esok hari aku tinggal bangun pukul setengah empat dan tinggal
memanaskan kuah Soto. Sejak sore tadi aku tak berhenti bergerak, pantas saja badan ini terasa
remuk redam.

Sebelum akhirnya kurebahkan badan, kulirik suamiku yang sedang membaca buku.

“Ayah, udah malam lho. Tar bangunin sahur ya!” ucapku mengingatkan. Lelaki itu hanya
sedikit menganggukkan kepalanya, matanya masih fokus ke lembaran yang dibacanya.

Melihat gawai yang tergeletak di atas meja, aku meraihnya. Tanganku bergerak
membuka chat yang sedari tadi belum kubaca. Dalam sebuah grup WA terdapat dialog seru
tentang kejadian-kejadian lucu saat puasa di masa kecil.

Pengalaman-pengalaman masa kecil yang unik membuat mataku segar kembali. Dengan
posisi tidur miring, aku membaca dengan detil sambil senyum-senyum sendiri.

Sangat lucu-lucu kisah mereka, ada yang lupa minum air habis segelas padahal sedang
puasa, ada yang memang sengaja minum air sungai saat mandi bersama teman-temannya, ada
yang nekat mencuri mangga karena ‘kebita’, bahkan ada yang bangun untuk sahur langsung
makan, tetapi saat dilihat jam menunjukkan ke angka 5.


Bayanganku bergerak ke masa 35 tahun silam. Masa-masa indah berpuasa sebelum ada
gadget. Ketika aku masih di kelas 3 SD dan belajar puasa sehari penuh.

“Neng, parut kelapa ini ya!” pinta ibuku. Aku hanya mengangguk lalu menyiapkan
parutan yang terbuat dari bahan kaleng yang penuh kait-kait tajam yang berbaris seperti tentara
sedang upacara.

Sambil memarut, air liurku terbit memandang kelapa setengah muda yang putih dan
empuk. Sisa parutan yang kecil-kecil kelihatannya manis dan lembut sekali.

“Duh, enak banget ini. Sayang sedang puasa!’ keluhku dalam hati. Tak hilang akal,
kukumpulkan bagian-bagian kecil kelapa sisa parutan tadi, kusimpan dalam kantong plastik
bekas gula pasir.

‘Amannya ditaro di mana ya? Kalau di kulkas atau di meja dapur nanti dimakan adik.
Baiklah, kutaro di tempat tersembunyi, lemari baju!’ bathinku girang menemukan solusi atas
permasalahan penyimpanan.

Adzan maghrib berkumandang, menandakan waktunya berbuka puasa telah tiba.
Makanan bukaan yang disipkan ibu sangat banyak dan enak, membuatku lupa harta karun yang
kusembunyikan.

Seminggu setelah kejadian itu ku dengar ibu berteriak, “Ini apa-apaan? Siapa yang
menyimpan makanan di sini?” Tanya ibu sambil menjinjing bungkusan plastik kecil dengan
ujung jari telunjuk dan jempol. Satu tangan kirinya menjepit hidung. Mahluk kecil-kecil putih
bergerak menggeliat diantara kelapa yang sduag menghitam penuh jamur.

Melihat pemandangan seperti ini aku hanya diam. Kemudian mengendap-endap kabur
menuju lapangan melalui pintu samping. Semoga ibu tak akan membahasnya lagi nanti.


Membayangkan puasa di masa kecil membuatku sulit memicingkan mata. Berbagai
pengalaman yang lalu bagaikan slide yang terus berputar dalam memoriku. Kulanjutkan
beraktivitas dengan gawaiku, mengecek telegram termasuk judul-judul drama korea yang
terbaru. Malam beranjak semakin larut, tapi tak juga bisa kupejamkan mata. Butuh beberapa
waktu lamanya sampai kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.

“Allahu akbar…Allaahu Akbar!”.

Aku terlonjak kaget ketika kalimat indah mengalun dari pengeras suara di masjid
kompleks. Refleks mataku melirik jam dinding berwarna putih yang bertengger di tembok ruang
tamu. Suamiku masih terbaring tak jauh dari tempatku duduk kini. Bergegas ku berlari ke dapur,
bahan-bahan soto ayam yang sudah setengah jalan masih tertata di meja makan. kondisinya
masih sama dengan saat terakhir kutinggalkan tadi malam.


Photo by Spencer Davis on Unsplash

+8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *