Kekonyolan Ramadan Masa Kecil, Mokel dengan Air Tempayan

+65

Oleh: Denik

Membahas masa kecil pasti ada saja kejadian yang dilakukan kala itu, yang membuat kita senyum-senyum sendiri saat mengingatnya kembali.  Entah kejadian lucu, sedih atau hal-hal konyol yang membuat kita tak habis pikir.

“Kok bisa sih gue dulu melakukan hal itu.”

Terkait bulan Ramadan ada nih kejadian yang cukup menggelikan saat awal-awal belajar puasa satu hari penuh. Selama ini kan puasanya setengah hari. Jadi pukul 12 siang boleh makan dan minum. Setelah itu lanjut lagi puasanya sampai sore.

Nah, ketika mulai belajar puasa satu hari penuh barulah terasa sekali godaannya. Sewaktu puasa setengah hari sih tidak terlalu merasakan lapar dan haus. Justru kerap terkaget-kaget.

“Eh, udah zuhur ya?”

Iya, keasikan bermain dengan teman-teman tak terasa sudah azan zuhur. Biasanya saya dan teman-teman bergegas pulang untuk makan serta minum. Setelah itu kembali lagi melanjutkan permainan yang tertunda. 

Namun pada saat saya dan teman-teman mulai berpuasa satu hari penuh. Bingunglah mau ngapain begitu azan zuhur tiba. Biasanya berlarian pulang untuk membatalkan puasa. Sekarang tidak boleh. 

Akhirnya saya dan teman-teman berkeliling main dari satu rumah ke rumah teman yang lain. Entah melihat koleksi mainan milik teman atau sekadar tidur-tiduran di teras rumah teman. Namanya anak-anak. Ada saja kelakuannya.

Dulu lingkungan tempat tinggal saya masih asri. Perkampungan Betawi dengan banyak pepohonan. Hampir setiap rumah memiliki pekarangan. Sawah pun masih bisa dijumpai. Rumah yang ditempati teman-teman kebanyakan masih beralas tanah. Temboknya semi permanen. Setengah tembok setengahnya lagi papan atau kawat. Hanya beberapa saja yang rumahnya sudah gedong. Artinya sudah keseluruhan dinding rumahnya di tembok. Lantainya dari ubin atau diplester. 

Di tempat teman yang rumahnya gedong inilah kami biasanya tidur-tiduran di teras sambil ngobrol. Istilahnya numpang ngadem. Teman yang rumahnya sudah gedong membuat kamar mandi di dalam rumah. Buat kami saat itu terasa “wah” sekali. Tidak perlu repot-repot keluar rumah.

Kebanyakan kamar mandi zaman itu di luar rumah. Tergantung di mana letak sumurnya. Dulu sumber air masih mengandalkan sumur galian. Jadi kalau letak sumurnya ada di tengah kebun. Maka di situlah kamar mandinya. Kalau sumurnya di samping rumah maka di samping rumah pula kamar mandinya. 

Seru juga sih mengingat suasana zaman dulu. Pastinya lingkungan sekitar kami terasa sejuk dan adem. Sebab masih dikelilingi pepohonan besar. Nah, dalam masa belajar puasa satu hari penuh inilah ada kejadian yang saya sebut konyol.

Bagaimana tidak? Jika saya akhirnya tergoda oleh ajakan teman untuk mokel. Yakni membatalkan puasa secara diam-diam karena suatu hal. Berawal dari kegiatan saya dan teman-teman yang bermain ke rumah salah satu teman. Kebetulan teman satu ini tinggalnya hanya berdua dengan Nyai-nya. Sebutan untuk nenek dalam bahasa Betawi.

Ketika siang hari si nyai tidur. Teman saya mengajak kami ke dapur.

“Kalian pada haus enggak sih? Gue haus banget nih?”

“Ya, hauslah,” sahut kami berbarengan.

“Mumpung nyai lagi tidur. Kita minum yuk?”

“Enggak ah. Takut ketauan.”

“Asal jangan berisik pasti enggak ketauan.”

“Ntar ketahuan orang lain pas nyuci gelas di sumur.”

“Enggak usah pakai gelas. Minum air tempayan aja. Jadi enggak perlu nyuci gelas.”

Saya dan teman-teman sempat bengong.

“Air tempayan.”

“Iya. Gue pernah nyobain. Dingin kayak air es.”

Saya dan teman-teman pun mulai tergoda. Membayangkan dinginnya air es. Tempayan adalah wadah besar yang terbuat dari tanah liat. Biasanya sebagai tempat menampung air bersih yang digunakan untuk memasak.  Menurut cerita air dalam tempayan yang tersimpan lama memang lebih dingin dari air biasa. Meski belum pernah merasakan tapi saya percaya hal tersebut. Makanya ketika teman saya bercerita pernah minum air tempayan, saya jadi penasaran.

“Segeeerrrr,” ujar teman saya yang sudah menyeruput air tempayan menggunakan gayung panjang dari batok kelapa.

“Mau pada minum juga enggak? Buruan. Keburu nyai gue bangun.”

Meski awalnya ragu-ragu. Namun karena terdorong rasa penasaran. Akhirnya kami semua ikutan minum air dari tempayan. Satu gayung untuk beramai-ramai. Seteguk atau dua tegukan. Airnya betulan dingin seperti es. Segar terasakan sampai ke tenggorokan. Setelahnya kami melanjutkan puasa sampai sore.

Ya, ampun. Kalau dipikir-pikir, itu kan air mentah ya? Satu gayung beramai-ramai pula. Iiiiih, terima kasih deh kalau sekarang disuruh mengulang lagi. (EP) 


Photo by Vanessa Serpas on Unsplash

+65

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *