Buka Puasa Hanya Dengan Segelas Air

Oleh: Nia Hanie

Bicara tentang pengalaman konyol yang terjadi di bulan Ramadan, saya merasa sulit menemukannya. Tapi sepertinya ada cerita yang menurut saya cukup konyol yang terjadi pada seorang kenalan saya.

Sebentar, apa definisi konyol sebenarnya? Setelah saya merujuk pada KBBI versi daring, saya menemukan arti kata konyol adalah tidak sopan, tidak berguna, agak gila. Dari pengertian itu sepertinya kisah yang akan saya tulis ini lebih dekat kepada pengertian “agak gila”.

Jadi, kisahnya terjadi di Ramadan tahun lalu. Kenalan saya, Sri (bukan nama asli) tinggal bersama ayah dan saudari-saudari tirinya. Ada satu saudari tirinya, sebut saja Ika (bukan nama asli) yang nampaknya tidak merasa cocok dengan Sri.

Suatu hari di Ramadan tahun lalu, Sri memasak untuk keluarga. Pada jam buka puasa, mereka sekeluarga duduk bersama untuk berbuka. Mereka memakan beberapa hidangan yang tersaji. Tidak begitu dengan Ika. Ia hanya meminum air saja. Sri dan anggota keluarga lainnya sudah menawarkan Ika hidangan lain karena memang sudah dihidangkan sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Akan tetapi tak satu pun hidangan yang disentuh oleh Ika.

Sri tahu bahwa Ika tidak suka padanya, jadi Ika tidak sudi memakan masakan Sri. Setelah berbuka hanya dengan air putih, Ika pun salat magrib dan langsung tidur. Keluarga sudah berusaha membangunkannya untuk makan, tapi ia tidak mau.

Hingga datang waktu sahur. Ika bangun dan hanya minum air putih tanpa makan apa pun, lalu kembali tidur. Tentu saja anggota keluarga yang lain sudah menyuruhnya makan. Apa boleh buat, Ika bersikeras tidak makan. Ia pun tetap melanjutkan puasa hari itu.

Keesokan harinya, Ika terlihat lemah. Ya, tentu saja. Dua hari ia tidak makan. Akhirnya ia pun jatuh sakit, terbaring lemah di tempat tidur. Ya, dia sakit. Tapi sakitnya dibuat sendiri, akibat ulahnya sendiri. Akhirnya ia pun berobat dan tidak puasa beberapa hari.

Ika rela tidak makan dan membiarkan dirinya sakit. Apakah itu tidak konyol? Mana ada orang yang ingin sakit? Tapi dia malah mendatangkan sendiri sakit itu dengan tidak makan beberapa hari. Kekonyolan yang tidak akan pernah saya lakukan. Kalau saya jadi Ika, sudah pasti saya tidak akan menyia-nyiakan hidangan berbuka puasa yang tersaji di atas meja.

Apakah hubungan sesama saudari tiri memang selalu tidak akur? Ah, menurut saya itu tidak benar. Ada saja hubungan saudari tiri yang terjalin baik dan saling mendukung satu sama lain. Hanya saja itu tidak terjadi di keluarga Sri. Mungkin di keluarga lainnya justru terjalin harmonis. Kembali pada diri sendiri bagaimana kita bersikap dalam menghadapi keluarga baru. Harus pandai-pandai menyesuaikan diri.

Jangan karena kita tidak suka pada seseorang, akhirnya kita menzolimi diri sendiri, menyiksa diri sendiri. Semoga Ika tidak mengulangi kegilaan itu lagi dan semoga hubungan Sri dan Ika semakin membaik. Aamiin.


Photo by 21 swan on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *