Siklus Tiga Bulanan Menjelang Ramadhan

Oleh: Anita Yulia

Aku menyadari bahwa belajar merupakan salah satu kewajiban yang prosesnya sepanjang hayat dari mulai buaian sampai liang lahat. Pendidikan formal yang lebih dari enam belas tahun aku jalani tetap membuat aku merasa belum bisa apa-apa, masih ada banyak hal yang perlu aku pelajari. Aku memiliki niat untuk melanjutkan ke lingkungan baru yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, namun niat ini hanya niat pada akhirnya Allah SWT yang menggerakan dan memutuskan.

Selama satu tahun terakhir secara kebetulan aku melewati siklus tiga bulanan yang luar biasa dan bermakna.

Tiga bulan pertama di pertengahan tahun 2020 aku pindah bekerja di lingkungan Pondok Pesantren Modern yang memiliki ratusan santri, hingga hiruk pikuk kehidupan mereka menjadi bagian keseharianku. Selain adanya santri-santri, di sana aku ditemani bibi yang baik dan cantik. Bibi menjadi wasilah pertama Allah menyentuh hatiku, karena setiap tengah malam ia pasti terbangun untuk melaksanakan shalat sunah dan sering kali aku terbangun mendengar tangisannya yang aku dengar penuh ampunan dan harapan, ia terjaga sampai waktu subuh. Di awal-awal aku hanya bisa ikut menangis dalam diam dengan posisi masih tertidur, dan baru terbangun diwaktu-waktu mendekati subuh. Hingga malu-malu aku ikut bangun dan shalat disampingnya, dan belajar khusyuk seperti bibi.

Tiga bulan selanjutnya diakhir tahun 2020, rencana Allah SWT padaku berubah lagi karena aku pindah tempat kerja dengan suasana berbeda namun di kota ini aku temui banyak pesantren. Ada tersirat ingat bibi dan khawatir bila tak mendengar suara adzan subuh sedekat dulu karena itu ibarat alarm bagiku, namun ternyata lingkungan tempat tinggal aku pun tak jauh dari Pesantren bahkan aku sebelahan dengan masjid dan suara adzan subuh dekat ditelingaku seakan menjawab harapku.

Awalnya aku merasa perjalanan ini tak begitu banyak merubah hidupku karena suasana dan pekerjaan ini seperti yang pernah aku tangani sebelumnya, namun Allah SWT kembali ambil kendali atas kuasa-Nya. Aku bertemu dengan seorang adik yang baik hatinya, adik yang menungguku setiap malam Jum’at pulang dari masjid sambil membawa beberapa makanan yang dibawa warga. Kita berdua memang tak banyak bicara, tapi aku merasa ada frekuensi yang sama entah apa dan aku merasa bahagia. Pertemuan dengannya mengajarkan aku untuk banyak memaknai hidup, ini pelajaran berharga lebih dari yang aku bayangkan sebelumnya.

Tiga bulan diawal tahun 2021. Ini diluar nalar, karena aku pikir perjalananku akan cukup lama bertahan di satu titik yang telah mampu membuat aku nyaman tetapi, aku rasa ini rahasia illahi. Setelah menjenguk temanku di salah satu pesantren tiba-tiba aku kepikiran kata-kata gurunya untuk riyadoh (latihan) pesantren kilat belajar mengaji dan menjadi santri selama seminggu, setelah berpikir cukup lama aku memberanikan diri mencoba, hingga akhirnya aku betah dan lebih dari satu minggu disana. Aku mendapatkan kobong (kamar santri), belajar mengantri saat ke jamban (kamar mandi), membantu memasak, 24 jam menjadi santri dan inilah kali pertama juga aku bersentuhan dengan kitab-kitab kuning. Banyak hal yang berkesan membuat aku merasa lebih baik lahir batin, nyaman dan penuh harapan. Aku merasa hidup kembali, memang terdengar lebay tapi itulah yang aku rasakan.

Ramadhan tahun ini, tepat setelah tiga bulan perjalanan spiritual panjang itu aku pindah pondok pesantren, bahkan tanpa alasan dan seakan dadakan aku berada di pondok pesantren ini, bekal ilmu dari pesantren sebelumnya menguatkan imanku bahwa segala sesuatu dalam hidup tak lepas dari kuasa dan rahmat Allah SWT yang perlu aku tafakuri setiap waktu dalam hidup. Suasana ramadhan yang menguatkan, penuh kenikmatan, membuat aku yakin dan tak ingin menukarnya dengan apapun.

Ini adalah kisah siklus tiga bulanan yang tanpa sadar akhirnya aku tuliskan, saat mengingat dan mengungkapkan semuanya perasaan tak karuan. Dalam hatiku berbisik “kok bisa ya hidupku seperti ini? Tiga bulanan ini sebuah kebetulan tapi kok penuh pelajaran dan pengalaman ya” lalu aku tersenyum dan istighfar, seraya mengucap Alhamdulillah. Ini bagian hal konyol dalam hidupku, yang tak bisa aku anggap main-main.


Photo by David Monje on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *