Maling Sandal Saat Taraweh

+1

Oleh: Lia Nathalia

Memang suasana Ramadhan dua tahun ini terasa tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya ketika pandemic Covid-19 belum melanda dunia. Aturan untuk melaksanakan protokol kesehatan, termasuk menjaga jarak, membuat ibadah taraweh di bulan suci ini juga terpengaruh.

Banyak orang kemudian memilih untuk bertaraweh di rumah bersama keluarga saja.

Padahal, taraweh bersama di masjid selalu menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu tiap Ramadhan, lengkap dengan segala cerita yang menyertainya, termasuk kekonyolan-kekonyolan seperti di masa kanak-kanak yang kerap terjadi.

Masih jelas di ingatanku tiap Ramadhan, yaitu ajakan kakak-kakak tetangga dan sepupuku untuk bertaraweh ke masjid terdekat di daerah Cilincing, Jakarta Utara beberapa decade silam.

Sebagai anak yang lebih kecil, tentu senang saja diajak ke masjid ramai-ramai oleh para kakak yang tampak antusias.

Mereka antusias  bukan tanpa sebab. Malam-malam taraweh adalah malam-malam perburuan. Iya, kami berburu sandal baru, tiap ke masjid untuk taraweh.

Dengan langkah pasti, tiap malam di bulan Ramadhan, apalagi pada hari-hari awal bulan suci, dengan rajin kami datangi masjid terdekat. Dan kemudian, kami akan bergegas pulang mendahului jemaah lain, bahkan sebelum salam pada rakaat terakhir.

Tujuannya, supaya tidak ramai orang. Bukan itu saja, mudah bagi kami untuk melihat sandal mana yang bisa kami bawa pulang menggantikan sandal butut yang sengaja kami pakai dari rumah.

Tidak peduli apakah sandal itu kebesaran dari ukuran kaki-kaki kami yang belum cukup umur, karena rata-rata sandal yang berhasil kami bawa pulang adalah sandal orang dewasa.

Dalam perjalanan pulang dari masjid, masing-masing kami berlomba pamer sandal yang berhasil dibawa pulang.

Tak semua perburuan sandal kami di malam-malam Ramadhan sukses. Ada pula apesnya.

Bagi yang apes karena buru-buru menyambar sandal terdekat karena takut ketahuan, biasanya pulang dengan sandal yang butut pula.

Yang mendapat hasil kurang beruntung, pastinya menjadi target bulan-bulanan kawan lainnya.

Saya yang saat-saat itu masih baru beranjak dari usia balita, masih bingung melihat kecepatan para kakak berburu sandal saat kaki-kaki kami menginjak batas di luar batas suci masjid.

Di dalam pandangan anak kecil seumuranku saat itu, gerak mereka ibarat super hero Flash dan Superman yang dikenal oleh anak-anak di kala itu.

Rasanya saat itu, kaki saya selalu terinjak-injak dan sebelum sempat mencari sandal yang bisa dieksekusi untuk dibawa pulang, tangan kecil saya sudah digeret kakak-kakak untuk segera pulang.

Dengan berlari kami kemudian meninggalkan masjid. Sampai pada jarak yang dirasa sudah aman, barulah kakak-kakak mulai menakar peruntungan perburuan masing-masing.

Saya bersyukur, setidaknya tak ada satu pun sandal orang di masjid yang berhasil saya gondol pada masa itu. Walau demikian, mengingat kejadian itu, saya masih merasa malu.

Saya selamat, tidak pernah jadi maling sandal di saat taraweh di bulan Ramadhan.

*) Penulis adalah jurnalis dan aktivis khusus isu-isu pengungsi negara asing dan budaya. Pendiri thebigdurian.news ini adalah pemimpin redaksi pada jurnalcakrawala.news dan aktif bersama SUAKA untuk isu pengungsi, di LBH Perisai Rakyat sebagai paralegal dan di LBH IWO sebagai anggota Dewan Pengawas. Di Ikatan Wartawan Online (IWO), ia menjabat bendahara umum. Ia telah menulis beberapa buku diantaranya Backpacker With Kebaya (Why Not?) bersama Denik, Kebaya Indonesia dan I am an ASEAN Child (Aku Anak ASEAN). Lia adalah salah satu pendiri komunitas Perempuan Berkebaya, paguyuban Chattra Kebaya, komunitas Serumpun Bakung yang bergerak di bidang budaya dan literasi.Ia dapat dihubungi melalui IG: @bakung_putih.


Photo by Toa Heftiba on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *