Gara-Gara Ngga Pernah Masak

Oleh: Prasetyaningsih

Aku adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sedari kecil aku tuh jarang banget ngerjain pekerjaan rumah tangga. Mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel apalagi memasak. Sampai dibilang anak manja! Ya mau bagaimana ya. Memang jarang diberikan arahan untuk itu. Hehehe.

Pokoknya tinggal bersama ibu tuh enak. Mau makan tinggal makan. Mau sekolah baju udah rapi tinggal pakai. Sampai SMP kurang lebih seperti itu. Begitu aku datang bulan untuk pertama kali, itulah kali pertama nyuci sendiri. Ya kali, bekas darah ibu yang nyuci? Duh bisa diledekin terus sama kakakku!

Karena ngga pernah kerja berat, saat mau kuliah di Solo mulai lah keluarga khawatir. Bisa nggak kamu nanti nge kos sendirian? Ya memang ada mas ku yang kebetulan kerja di Solo juga. Tapi kan nggak mungkin satu kos sama kakak laki-laki. Dengan pedenya kujawab, “Bisa dong Bu. Kan kalau makan tinggal ke warung. Nyuci baju sama nyetrika kan udah bisa”.

Iya sejak SMA baru lah agak bisa ngerjain pekerjaan rumah. Kok bilangnya agak? Karena masak masih ngga bisa. Hahaha. Toh nanti di Solo bisa beli di warung. Pikiriku saat itu.

Mas ku diminta ibu cari kos-kosan yang ada ibu kos nya. Jadilah aku nge kos di rumah Mbak Narti. Alhamdulillah beliau baik. Bahkan menawarkan, “Mbak Ning, kalau mau masak, pakai aja kompornya”. Dengan sopan aku jawab, “Iya mbak, nanti kalau mau masak”. Padahal dalam hati, aduh mbak mau masak apa. Aku nggak bisa masak. Hihihi.

Pengalaman konyol ini aku alami saat mau berbuka puasa dengan teman satu kos. Saat itu, dia mengajak masak bareng buat berbuka. Ya yang simpel aja, katanya. Aku iyakan ajakannya, toh aku hanya diminta masak nasi. Ah, gampang lah. Astaghfirullah sombong benar aku waktu itu ya.

Selepas asyar kami mulai mempersiapkan menu berbuka. Teman kos memasak sayur dan lauk dan aku memasak nasi. Pukul 16.00 teman kos ku itu bilang, “Sana masak nasi dek”. Aku jawab “Sudah di cuci kok mbak berasnya. Nanti saja jam 5 masaknya, biar pas buka nasinya masih hangat”.

Jadi, masak nasinya pakai magic com model lama yang hanya bisa buat masak nasi tapi tidak bisa menghangatkan. Aku pikir cara nya sama dengan yang ada di rumah. Colok listrik, beres deh tunggu matang. Pukul 17.00 magic com nya aku colokkan ke listrik. Lalu kami santai di depan televisi.

Duk Duk Duk.. Allahuakbar Allahuakbar.. Alhamdulillah azan magrib sudah berkumandang. Kamu berbuka dengan minum teh hangat. Tak lama kemudian kita ambil piring untuk makan. Begitu kubuka magic com nya apa yang kami lihat? Nasinya belum matang! Alias masih berupa beras terendam air!

Waduh, kok bisa ya? Kemudian temanku bertanya “Tadi tombolnya kamu cetrekin nggak?” Aku jawab dengan polosnya, “Ngga mba, emang harus ya? Bukan tinggal colok aja?”. Sontak temanku geleng kepala sambil menahan tawa. “Ya iya atuh. Ini kan model lama, jadi nyetrekinnya manual. Ngga pernah masak ya?” Duuh malu banget dibilang begitu. Entah sudah semerah apa mukaku saat itu. Sejak itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus bisa masak!

Jakarta, 18 Maret 2021


Photo by Rohan G on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *