Bertemu Bung Tomo

+8

Oleh: Arya Noor Amarsyah

Memang sudah fitrah anak kecil. Bermain. Apa saja jadi mainan. Ada meja ditarik-tarik jadi mainan. Sendok dilempar-lempar jadi atraksi baru. Tapi entah sampai usia berapa, kategori seseorang masih dianggap anak-anak.

Yang jelas, di usia sebaya antara kelas 4-5 SD, ibadah kadang jadi becandaan. Jadi seperti mainan. Termasuk ketika menunaikan sholat Tarawih.

Seperti biasa, saya dan adik tunaikan sholat Tarawih di masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Walau jarak yang ditempuh cukup jauh, tidak jadi masalah. Mungkin karena ada tugas dari sekolah. Saat itu, setiap murid mendapat tugas dari guru agama untuk mengisi sebuah form. Form berisi kolom tanggal, judul ceramah tarawih, penceramah dan tanda tangan penceramah dan stempel masjid tempat ditunaikan Tarawih.

Atau karena dapat bertemu dengan teman-teman sekolah saat tarawih di masjid yang sama. Biasanya kami di masjid Sunda Kelapa bertemu dengan teman-teman satu sekolah. Bertemu Arief dan kedua adiknya. Danny dan kedua adiknya dan Derry.

Kebayang kan bagaimana kondisinya. Arief, Danny dan Derry adalah teman saya seangkatan. Ari adik dari Danny, teman satu angkatan dengan adik saya. Jika Derry datang bersama adiknya, Ferry tentu ‘seru’ lagi. Karena Ferry adalah teman adik saya. Sedangkan Widar (adik Danny) dan Zakir serta Ismet (adik Arief) tidak seangkatan dengan saya maupun adik. Tapi mereka semua satu sekolah dengan kami.

Masjid Sunda Kelapa bagian paling atas, terbagi jadi tiga. Ruang utama, selasar kanan dan selasar kiri. Selasar ini tepat persis di sisi kanan dan kiri ruang utama, yaitu bagian luarnya.

Kami selalu sholat Tarawih di selasar kanan dan kerap di shof pertama. Suatu ketika, khotib dan imam Tarawih adalah Bung Tomo. Pahlawan yang terkenal dengan peristiwa 10 November-nya. Sosok yang selalu diingat dengan teriakan takbirnya yang membakar semangat arek-arek Surabaya.

Bung Tomo tidak tinggi. Tapi suaranya begitu ‘menggelegar’. Sampai-sampai, menurut saya, jika bung Tomo ceramah tanpa pengeras suara pun, masih dapat terdengar jamaah.

Tapi namanya anak kecil, tidak peduli siapa yang jadi imam dan khotib, bercanda dalam sholat jalan teruuus. Setiap imam membaca akhir dari Al-Faatihah dan disusul dengan ucapan aamiin dari jamaah, kami pun mengikuti ucapan aamiin. Tapi, dengan teriakan dibuat-buat dan mengganggu.

Betul saja mengganggu. Buktinya usai sholat Tarawih, bung Tomo menghampiri kami. Dia bertanya, “Tadi yang meneriakkan aamiin keras-keras, kalian yah?”

“Ya ustadz. Ya pak.”

“Besok jangan diulang lagi yah?”

Sudah begitu saja. Bung Tomo tidak marah-marah. Tidak melarang kami untuk sholat Tarawih. Cuma bertanya dan menasehati agar tidak mengulanginya lagi.

Keesokkan harinya, kami kembali sholat Tarawih. Tapi kali ini, terasa ‘alim’. Tidak bercanda, tidak meneriakkan aamiin dengan suara tinggi. Semua berjalan normal.

Sholat Tarawih usai. Bung Tomo kembali menemui kami dan memuji. “Nah seperti ini dong.” Setelah memberi pujian, bung Tomo memberi kami semua sejumlah uang. Masing-masing kami memperoleh jumlah yang sama.


Photo by Pogung Pogung Raya on Unsplash

+8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *