Dusta Ramadhan di Masa Kecil

Oleh: Efrie Leistarie

Saat Ramadhan, ada kejadian konyol yang membuat saya malu banget. Kisah konyol ini menjadi pelajaran untukku. Tiap kuingat kejadian itu yang teringat adalah wajah Bapak yang kecewa pada anaknya. Bapak selalu mengingatkan anaknya agar selalu jujur. Oh iya. Waktu  itu masih sekolah dasar kami memanggil Abi dengan panggilan Bapak. Barulah ketika saya masuk pesantren, panggilan Bapak berubah menjadi Abi. Termasuk panggilan untuk Mamak menjadi Ummi.

Entah kesambet apa saat itu  sehingga aku melakukan sebuah kebohongan, aku beli permen yang lagi tren pada masa itu. Permen tidak boleh dimakan sampai azan magrib berkumandang. Kusimpan permen itu di lemari baju. Begitu selesai mandi sore.  Terdengar rayuan penggoda setan untuk memakan permen. “Ayo makan aja permennya, ga ada yang lihat”. Berulang bisikan itu datang. Dengan rasa penasaran. Aku pun mengambil permen dan memakannya sebutir. Yes. Ternyata misi penggoda berhasil.

Magrib pun tiba. Permen yang tadi kumakan, aku ambil lagi. Berbisik dalam hati. “Besok lagi ah kaya tadi. Jadi enak. Kuat puasaku seharian.” Seperti tak terjadi apa-apa. Aku berpikir. Ga ketahuan ini yang penting. Kusembunyikan rahasia yang telah kulakukan sepanjang hari. Keesokannya pun aku puasa kembali. Setelah sahur, seperti biasa aku dan teman-teman keluar rumah. Menghirup udara segar. Sekedar keliling-keliling. Menghindar tidur setelah subuh. Biar rezekinya tak dipatok ayam. Begitu alasannya. Padahal ya, buat senang-senang.

Setelah berlalu jalan-jalan pagi, aku pulang dan melanjutkan mengisi tabel harian yang ditugaskan sekolah. Tak ingat hari ke berapanya. Lagi-lagi kutulis apa adanya dengan bumbu kebohongan sedikit. Termasuk mencentang puasa di hari sebelumnya. Ups. Masih kusimpan rahasia itu. Waktu terus berlalu hingga sore. Tak ada gadget saat itu. Hanya ada televisi dan mainan lainnya. Aku lebih senang melakukan aktivitas bermain. Ada monopoli, ular tangga, karambol. Paling tidak permainan yang di luar rumah kubatasi saat siang. Panas banget.

Untuk menahan rasa haus siang hari. Ada saja yang dilakukan aku dan adik. “Pergi mandi sana. Atau guyur kepalanya sama air. Jangan diminum ya.”  Begitulah yang disarankan oleh bibiku. Ternyata apa yang dikatakan bibi benar. Setelah guyur kepala. Maka rasa haus pun berkurang. Setelah rambut kering, diulanglah aksi tersebut. Bapak pun menegur, “jangan begitu. Itu namanya mengurangi pahala puasa. Tanda tidak sabar akan ujian.” Baiklah. Kami pun menuruti nasehat Bapak. Walau sesekali kami masih melakukannya setelah minta izin.

Misi rahasia makan permen kulakukan lagi. Kali ini kulancarkan di waktu sore. Tak ada yang lihat. Rumah sepi. Adik-adik masih main di luar. Begitu permen akan dimakan.  “Hey, lagi apa kamu?” sontak kagetlah aku mendengar suara Bapak yang melihat anak perempuannya ketahuan makan permen. Waduh. Bakalan dimarahi aku. Kutundukkan kepala isyarat penyesalan di hadapan Bapak. “Bawa sini, apa yang kamu pegang itu”, perintah Bapak. Di saat itulah kumerasakan rasa penyesalan yang mendalam. Bapak menasihati dan memintaku agar tidak mengulangi.

Sejak itulah, aku menjadi takut untuk berbohong. Bapak bilang, jika kamu berbohong maka akan datang kebohongan pada dirimu. Sekali bohong, hilang rasa simpati orang ke diri kita. Ingat ya. Ada Allah yang mengawasi kita. Ya Allah. Jadi malu sekali. Kejadian itu menjadi pelajaran yang tak terlupakan. Semoga Allah menjauhi kita dari sifat yang buruk.


Photo by Keren Fedida on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *