Drama Ramadhan Para Komuter

+2

Oleh Ainag Inairah

Komuter adalah julukan bagi mereka yang setiap hari melaju dari satu kota atau wilayah ke kota/wilayah lain setiap hari, untuk bersekolah, bekerja atau melakukan aktivitas rutin lainnya. 

Aku dan teman-temanku sesama pegawai di sebuah kantor pemerintah menjalani kehidupan sebagai komuter selama beberapa tahun. Dari tempat tinggal kami kota Malang, setiap hari kami melaju pulang pergi ke kota Probolinggo, yang berjarak kurang lebih 150 km.

Rutinitas ini kami jalani sampai mutasi berikutnya, yang hanya Allah dan pihak yang menerbitkan SK mutasi yang tahu, menerbangkan kami entah ke unit kerja atau kota mana lagi.

Kami menyewa mobil hiace yang dibayar bulanan. Titik penjemputan dan penurunan kedua belas penumpang ini pun ada di beberapa tempat.

Dari kota Malang, kami harus sudah berangkat maksimal pukul 05.30. Perjalanan ke kota tempat unit kerja kami berada, rata-rata saat pagi ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Namun saat pulang kami harus menempuh perjalanan sekitar dua jam. Tidak termasuk perjalanan dari rumah masing-masing ke titik penjemputan terdekat.

Saat itu hari pertama ramadan. Kami tetap berangkat pada jam yang sama. Seperti biasa, baru dua kilometer dari titik penjemputan terakhir, masing-masing penumpang sudah terlelap. Terlihat dari bunyi dengkuran yang bersahut-sahutan dari penumpang laki-laki yang dominan dalam rombongan kami. 

Biasanya kami akan tertidur sampai memasuki kota Probolinggo. Lumayan memanfaatkan waktu demi mengurangi penat akibat perjalanan pulang pergi setiap hari yang total memakan waktu 4-5 jam. Tapi pada hari pertama puasa itu rupanya kami tak bisa benar-benar pulas.

Baru sepertiga perjalanan, beberapa di antara kami sudah terbangun. Lalu gelisah. Terlihat dari suara-suara yang ditimbulkan oleh masing-masing. 

“Pak Samuri, tolong mampir pom bensin di depan ya!” seru salah seorang kawan. 

Segera yang lain menyahut.

“Aku juga mau ke toilet dong.”

“Duh, aku juga kebelet…”

“Masih jauh ya?”

Rupanya sebagian besar dari kami sama-sama menahan keinginan untuk buang air kecil. Mungkin akibat sebelum azan subuh kami banyak minum sebagai persiapan berpuasa.

Terlebih ini hari pertama, tubuh kami mungkin masih menyesuaikan diri. Ditambah lagi saat itu udara lumayan dingin, bahkan AC kendaraan yang telah dimatikan tak sanggup menghindarkan kami dari kebelet pipis.

Supir kami adalah bapak setengah baya yang sudah berpengalaman mengendarai mobil penumpang besar. Ia sangat terampil mengendarai hiace yang kami tumpangi, termasuk mengejar waktu supaya kami segera sampai di tujuan dan tidak terlambat absen.

Di jalur perjalanan kami, jika sudah berada di luar wilayah kabupaten Malang, hanya terdapat 2 SPBU yang dilewati. Beruntung belum terlewat SPBU pertama. Begitu sampai, tampak SPBU sepi. Hanya beberapa truk yang parkir di halamannya. Namun saat itu kami tak perduli.

Masing-masing terburu-buru melompat turun dari mobil. Segera berlari untuk berebut sampai ke toilet lebih dulu. Malangnya, pintu toilet terkunci rapat. Setelah menengok ke sana kemari, tak terlihat seorang pun di sana. Sadarlah kami, bahwa tempat ini sudah tidak dioperasikan. SPBU-nya sudah tutup. 

Alhasil kami kembali terburu-buru naik hiace lagi. Meminta pak Samuri ngebut sekali lagi untuk mencapai SPBU kedua.

Alamaaak, makin kebelet lah menahan kandung kemih ini.

Praktis sisa penumpang yang tidak ikutan menahan kencing pun terbangun, karena ributnya kami. Hahaha. Untungnya pak supir tidak ikutan kebelet ya. Ngga kebayang deh.

Begitu kami tiba di SPBU kedua, rasanya masing-masing orang mendadak bisa terbang. Benar-benar sudah di ujung batas menahan hasrat. Lega begitu melihat tempat itu cukup ramai, dan tampak pengunjung hilir mudik keluar toilet.

Masalahnya, kami pun harus antri karena SPBU itu ramai. Terlebih, anggota rombongan kami yang tadinya tidak mengaku kebelet, ternyata ikut antri pula.

Duh.

Wajah-wajah kami yang telah tuntas buang hajat tampak semringah. Seperti telah lepas beban berat yang dipanggul. Kalau saja rekan kami tidak memanggil-manggil mengingatkan waktu yang harus kami buru, bisa-bisa kami lupa untuk segera kembali ke mobil.

Lain hari, kejadian serupa juga terjadi. Saat itu kami sudah berkendara hampir setengah jam, ketika salah seorang kawan kami, sebut saja Rio, tiba-tiba berseru kepada pak Samuri.

“Pak, tolong mampir pom bensin!”

“Lheh, kebelet pipis lagi?” tanya seorang kawan.

“Bukaaan….aku mules nih,” jawabnya sambil meringis.

“Kejauhan kalau di pom. Mampir tempat penitipan motor sebelah sana itu lho, ada kok toiletnya,” usul seorang teman.

Olala….kami pun kembali tak jadi melanjutkan tidur dengan tenang. Ikut-ikutan stres. Karena Rio tampak panik sekuat tenaga menahan selama perjalanan. Beberapa di antara kami jadi ikutan mulas, hahaha.

“Awas, kentutnya pasti bau banget!” Sempat-sempatnya seorang kawan menggoda.

“Jangan sampai keluar di celana, lho Yo!”

Hiiih, kejam banget candaannya. Aku yang mendengar tambah stres, sampai-sampai kucari-cari sabun cair kemasan mungil yang biasa kubawa dalam ranselku, untuk berjaga-jaga bila membutuhkan.

Sebelum mobil benar-benar berhenti di tempat yang kami tuju, Rio sudah bersiap di dekat pintu. Hiace itu berpenumpang penuh, di dalamnya pun sudah nyaris tak ada jarak. Hingga tingkah Rio ini memaksa kami yang duduk di dekat pintu repot memiringkan dan menekuk anggota badan, termasuk aku. 

Ia pun bergegas melompat, tak hirau dengan sabun cair yang kutawarkan. Kami tunggu dengan sabar, sampai ia kembali dengan wajah yang tak lagi memerah seperti tadi, nampak lega luar biasa sebagaimana kami.

Bukankah bahagia itu sederhana, demikian katamu bukan? Hihihi….

“Eh, Rio, udan sabunan belum? Di toiletnya ada?” Aku masih penasaran atas penolakannya pada sabun yang kutawarkan.

“Awas, Ndi, jangan pegang-pegang,” seorang kawan iseng menggoda Andi yang duduk di sebelah Rio.

“Tadi aku sudah pake hand sanitizer kok,” jawab Rio kalem.

Haah?!?! Sejak kapan hand sanitizer berfungsi menghilangkan kotoran dan bau? Setahuku fungsinya lebih ke membunuh kuman, bukan seperti sabun yang membilas kotoran dan bau.

Aku jadi geli membayangkan. Terserahlah, asal jangan dekat-dekat denganku.

Drama lain seputar penumpang hiace saat ramadhan terjadi pada perjalanan pulang.

Saat itu lalu lintas agak macet, hingga kami masih jauh dari titik perhentian di kota Malang. Selama ramadhan, pemilik hiace menyediakan minuman dalam kemasan yang bisa kami gunakan untuk membatalkan puasa ketika mobil belum tiba di tujuan.

Kami pun bersiap dengan minuman di tangan masing-masing ketika dari aplikasi muslim yang terpasang di ponsel terdengar azan maghrib.

Beberapa menit kemudian, tercium aroma yang sangat tajam di dalam kendaraan. Rupanya seorang kawan, Yulian, begitu saja menikmati bungkusan nasi padang yang dibawanya dari Probolinggo.

Di dalam mobil yang tertutup rapat dengan penumpang yang penuh, dalam kondisi letih setelah bekerja seharian, juga lapar karena berpuasa, aroma yang menyeruak dari nasi padang itu sungguh menyiksa.

“Gileee, tahan napa sampai rumah!”

“Yul, mual aku nyium baunya!”

“Ngga bagi-bagi pula!”

Spontan kami saling berseru mengomel. Sampai-sampai pak Sumari membuka kaca jendela di kanan kiri baris terdepan. Ikutan terganggu. Huh.

Belakangan kami tahu, seorang kawan penumpang yang lain, Dini, terpaksa membatalkan niatnya membuka bungkusan nasi di dalam kendaraan akibat peristiwa itu. Hahaha, baguslah, mungkin dia ngeri mendapatkan omelan dari kami.


Photo by rashid khreiss on Unsplash


Penulis adalah seorang ASN di Kementerian Keuangan RI. Penggila novel yang jumlahnya ratusan, dan memenuhi rak buku yang menjulang hingga harus menggunakan kursi untuk meraih rak tertingginya. Menulis adalah panggilan hati, sebagaimana apresiasinya pada puisi dan seni. Aktif di Komunitas Sastra Kemenkeu, bergabung dengan beberapa grup/komunitas literasi di luar itu,  menjadi kontributor freelance di situs instansinya, serta menulis di mana pun tulisannya diterima. Saat ini berkeinginan menerbitkan buku solo yang bisa dinikmati banyak orang, setelah 7 antologi yang diikutinya.

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *