Buka Puasa Bareng Teman yang Nggak Ada Akhlak, Saya Ketumpahan Minyak Makanan

+3

Oleh: Firsty Chrysant

Kenangan puasa paling konyol? Hmmm, rasanya banyak dari kita yang melewati hari-hari puasa dengan kenangan-kenangan yang kocak, seru, konyol bersama keluarga dan teman-teman. Dan pastinya unforgetable banget. Saya juga punya kenangan bulan puasa bersama sahabat-sahabat saya yang ngga pernah bisa saya lupakan hingga saat.

Ini kejadiannya pas saya duduk di kelas tiga SMP, tepatnya MTsN sih. Saat itu kami di sekolah mengadakan berbuka puasa bersama. Saya dari rumah membawa makanan pakai rantang isi empat. Anak rantang paling bawah ada nasi yang diisi penuh oleh ibu saya. Lalu di atas nasi ada lauk berupa rinuk. Saya lupa sayurnya apa tapi kalau ngga salah sayur bayam, lalu pada anak rantang paling atas ada agar-agar utukmenu berbuka puasa.

Oiya, rinuk ini adalah jenis ikan-ikan kecil yang ukuran besarnya sebesar beras. Rasanya enak luar biasa, dan salah satu dari dua makanan paling favorit masyarakat di sekeliling Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Salah satu yang paling favorit lagi adalah ikan bilih, ikan khas Danau Singkarak dan Danau Maninjau yang ukurannya kira-kira sebesar ibu jari, atau malah lebih kecil lagi.

Sekolah saya waktu itu ngga ada aula. Jadi kami berbuka bersama dengan masing-masing wali kelas di kelas masing-masing. Dan semua instruksi sekolah disampaikan guru melalui mikropon dari kantor guru. Setelah berbuka bersama, kami disuruh shalat magrib berjamaah di mesjid raya yang kebetulan berada di seberang halaman. Di mesjid ini juga kami setiap hari mengadakan shalat zhuhur berjemaah.

Yang namanya anak sekolah kalau ngga ‘bandel’ kan ngga seru ya. Para guru ‘meghalau’ kami para murid untuk segera shalat berjamaah di mesjid. Masing-masing kelas sepertinya sudah sepi. Tinggal saya bersama teman-teman akrab saya yang masih berada di kelas. Kami berniat kabur dari acara berbuka ini dan akan melanjutkan berbuka bersama serta shalat magrib dan makan di kos HL saja. Sementara di halaman kelas ada beberapa guru yang mengawasi sekolah.

Oiya, saya jelaskan dulu berapa tinggi jendelaya. Deretan kelas tiga yang empat kelas, plus kantor guru dan kantor kepala sekolah lebih tinggi daripada halaman sekolah. Kelas lebih tinggi daripada teras sekitar 15 cm. Dan teras juga lebih tinggi daripada tanah halaman sekolah dua anak tangga yang masing-masingnya sekitar 25 cm.

Tinggi deretan kelas kami dibanding kira-kira 65 cm. Dan di belakang deretan kelas kami, bukan halaman sekolah, tetapi jalan perkampungan berbatu. Tinggi bingkai jendela bagian bawah satu meter dari lantai kelas. Jadi sudah bisa membayangkan tinggi jendela dari jalan kan ya. Sekitar 1,6 meter lebih kurang.

Kami berlima berniat kabur dari sekolah, tapi jendela kelas sangat tinggi. Tapi kami nekat mau melompat dari jendela. Bagaimana caranya tapi? Salah seorang turun dengan memanjat jendela pelan-pelan hingga tiba di bawah. Yang kedua setelah tiba dibalik jendela bergantungan untuk menurunkan bekal makanan kami dan menyerahkanya kepada teman yang sudah tiba di bawah, di jalan.

Yang tersisa adalah saya dan HL, serta rantang makanan saya. Saya naik jendela duluan, lalu menggantung di bawah. Tapi karena pijakan saya ngga pas, saya ngga bisa mengggantung di balik jendela. Saya akhir ‘terlompat’ turun ke jalan dan terduduk. Yang lain tertawa. Emang teman-teman ‘ga ada akhlak’ emang. Untug dulu belum ada istilah ‘teman gada akhlak’ hahaha. 

Lalu HL mengulurkan rantang makanan sayake saya. Itu, teman-teman saya yang lain yang badannya lebih tinggi dari memang dah ‘teman ga ada akhlaknya’ emang. Mereka ngga ada satupun yang mau menyambut rantang saya dariHL. Saya akhirnya yang menjangkau rantang saya dari tangan HL.

Tapi, si HL emang dah, berasa pengen saya getok juga. Saya belum memegang rantang dengan benar, baru yang saya pegang bawah saja tapi ia sudah melepaskan rantang makanan saya. Dan akibatnya rantang saya terlepas dari genggaman saya, dan menimpa ke badan saya, plus sayapun terjatuh karena terkejut. Yang lain menjerit kaget lalu tertawa.

Kaaaan? Teman gada akhlak kan? Berasa pengen cubit kuat-kuat ‘puser’ mereka pakai tang deh, hehehe.

Rantang saya tumpah. Agar-agar dan nasi masih selamat sebahagian karena isinya padat kan. Tapi rinuk dan sayuran saya hampir semuanya tumpah. Sisa sedikit banget. Rinuk ini sebagian tumpah di lengan baju saya. Saya kemudian mencoba rinuk yang tumpah di baju saya. Enak buangeeet. Tapi sisa sedikit banget. Itu masakan buatan ibu saya dengan rasa yang paripurna. Jadi, ketika pas makan bersama di kos HL, saya ngga mau berbagi sisa rinuk sama teman-teman saya yang ‘gada akhlak itu,’ hahaha.

Serius, hingga saat ini saya masih ‘bisa’ merasakan nikmatnya rinuk saya yang tumpah, hahaha. Saya semacam ‘penasaran’ dengan rasa sisa rinuk yang tumpah tersebut. Rasa rinuk yang enak itu kaya menggantung di lidah saya hingga saat ini. Bayangkan, rinuk setengah rantang hanya sisa sedikit bangat, paling dua sendok aja jadi bikin saya ngiler, haha.

Malam itu, kami nginap di kos HL. Saya menelpon ke rumah saya pakai telpon umum koin, dan mengatakan kalau saya ngga bisa pulang, sudah ngga ada angkot lagi. Ibu saya bilang ayah saya yang akan menjemput. Saya langsung matikan telpon tersebut supaya saya ibu saya ngga bisa nanya dimana saya akan dijemput ayah saya, wkwkwkwk.

Besoknya saya benar-benar dimarahin ibu saya karena gada akhlak nginap di rumah kos teman tanpa ijin orangtua. Ibu saya menganggap saya salah pergaulan, karena punya teman yang gada akhlak, hahaha. Ngga tau aja ibu saya 3 orang sahabat-sahabat saya itu, satu orang juara kelas atau paling ngga rangking 2. Satu orang 3 – 4 besar.

Dan yang satu lagi paling nggak 5 besar juga. Saya juga rangking 2, 3, 4 juga udah saya coba. Juara satu aja yang belum, hehehe. Anak-anak pintar semua kan ya, xixixi. Diantara mereka berempat, tiga orang adalah ring 1 persahabatan saya. Hanya satu orang teman akrab tapi bukan ring 1 persahabatan saya.   


Photo by Anshu A on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *