Surau Kelok

Oleh Nanang FS

Ramadhan bagi anak-anak seusiaku waktu itu, dimana pun berada pasti menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Selain sebagai bulan penuh ibadah, bulan penuh ampunan, dan bulan yang lebih baik dari seribu bulan, Ramadhan juga sebagai bulan yang penuh permainan. Mulai dari subuh sampai selesainya Tarawih, biasanya kami mulai dari sebuah masjid yang disebut oleh orang-orang tua kami sebagai Surau kelok.

Entah siapa yang pertama kali memberi nama Masjid tersebut Surau Kelok, padahal di papan nama masjid tetulis nama Masjid Muhsinin. MUHSININ dalam bahasa Arab artinya perilaku seseorang yang senantiasa berbuat IHSAN atau KEBAIKAN. Ihsan ini sendiri mengakar pada kata Ihsana, ahsana, yuhsinu yang artinya kurang lebih adalah kebaikan. Dan nama itu adalah doa, dengan harapan orang yang selalu memakmurkan Masjid Muhsinin akan menjadi manusia yang Ihsan. Aamiin. Termasuk aku tentunya, Aamiin hehehe… sebab sejak kecil saat belajar mengaji dan mengenal Masjid ya di masjid itu.

Masjid atau Surau bagi orang Minang sama dengan langgar atau tempat ibadah di daerah lain seantero nusantara. Surau Kelok sebagaimana kami menyebutnya, terletak memang di sebuah kelokan jalan di Kelurahan Padang Baru. Jamaah Surau Kelok berasal dari berbagai kelurahan sekitar Padang Baru. Ada jamaah yang dating dari Balanti, Alai, Ampang, dan Jati, daerah yang  sebenarnya lumayan jauh dari Padang baru.

Lukisan/NFS

Lalu apa daya Tarik Surau Kelok itu?

Anak-anak seperti saya, pada era 80-an mainnya memang jauh-jauh. Kalau gak jauh, ya bukan main namanya heheh…  Jika Ramadhan tiba, setiap kelompok bermain atau gank kecil-kecilan pasti sudah merencana road show Ramadhannya. Safari Ramadhan, istilah orbanya bagi pejabat. Nah, Surau Kelok menjadi salah satu Masjid favorit di Kota Padang saat itu. Favorit bagi anak-anak dan juga para pejabat yang ingin menghantarkan berbagai bantuan entah dari mana. Surau Kelok berada di tengah kota yang dekat kemana-mana, maksudnya menjadi pusat tujuan yang memudahkan kami untuk memilih arah perjalanan Ramadhan kami.

Setiap Ramadhan, Surau Kelok selalu menghadirkan khatib-khatib pilihan dan favorit se Kota Padang. Bagi anak-anak sekolah yang dapat tugas mencatat ceramah, mendapatkan tanda tangan ustadz favorit menjadi kebanggaan tersendiri. Bahkan, sering juga ada buku-buku catatan ceramah dititipkan ketemannya hanya untuk mendapat tanda tangan ustadz dan stempel Surau Kelok yang legend itu, setidaknya bagi saya.

Selain nuansa religi dan indahnya kebersamaan Ramadhan, di Surau Kelok juga mangkal satu gerobak sate favorit, namanya Sate Itjap. Orang-orang mengenalnya Da Cap, satenya enak dan gurih. Walau saat berbuka perut sudah dijejali berbagai kuliner berbuka, rugi rasanya jika setiap malam tarawih tidak mencicipi Sate Itjap. Bahkan, anak-anak sampai antri untuk dapat menikmatinya. Yang paling dicari adalah ripik ubi balado dengan siraman kuah sate dibungkus dengan daun pisang yang sudah disangai, kami menyebutnya sate carocok. Bungkus daun pisang yang dibentuk segitiga seperti cerocok. Hmmm, nikmatnya…. Ngences aku membayangkannya.

Selain Sate Itjap di samping Surau Kelok juga ada sebuah supermarket ala sekarang, namanya Kadai Ayah. Saya menyebutnya supermarket karena memang isinya sangat komplit dan bagi anak-anak seperti kami jajan di kadai ayah juga salah satu agenda wajib saat itu. Komplit dah pokoknya.

Satu hal yang mungkin tidak akan terlupakan bagi kami yang menjadi jamaah cilik tetap di Surau Kelok adalah sosok Inyiak atau kakek yang selalu dengan setia menegur, mengatur, dan menasehati kami jika mengganggu jalannya ibadah tarawih. Inyiak, begitu kami menyebutnya bahkan sampai akhir hanyatnya aku ga sempat mengetahui nama beliau. Inyiak yang menjadi garin Surau Kelok seumur hidupnya itu adalah sosok yang turut membangun karakter anak-anak Surau Kelok. Tak akan ada tanda tangan ustadz tanpa melewati aturan disiplin Sang Inyiak. Inyiak sudah menjadi kakek bagi kami jamaah Surau Kelok, sosok yang sangat ramah dan disiplin. Al Fatihah untuk beliau, semoga semua kebaikan dan amal ibadahnya menjadi amal jariyah yang tak putus-putus. Aamiin.

Surau Kelok atau Masjid Muhsinin sekarang telah berubah menjadi Masjid dengan bangunan modern. Entah bagaimana keramaian Surau itu sekarang, sebab sekitar sepelemparan batu saja dari Surau Kelok telah berdiri Masjid Raya Sumatera Barat. Dimana di tanah Masjid Raya itu pula aku dibesarkan dan memulai langkah Ramadhanku menuju Surau Kelok.

Depok 17 April 2021


Photo by Darrell Chaddock on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *