Ramadhan Manis Asida Oma Kota

+3

Oleh: Lia Nathalia

Ramadhan itu selalu menyisakan kerinduan pada asida buatan oma Kota, demikian nenek cantik berusia awal enam puluhan kami panggil. Entah siapa nama sebenarnya sang nenek, sampai hari ini pun kami tak tahu.

Ya, asida atau asidah adalah cemilan manis seperti bolu yang selalu oma Kota buat ketika kami akan bermalam di rumah pada akhir pekan saat bulan Ramadhan, di mana umat Muslim menyambutnya dengan beribadah puasa selama sebulan lamanya.

Kata oma Kota, asida itu salah satu makanan buka puasa saat bulan Ramadhan asal kampung halamannya di Tulehu, Pulau Ambon, provinsi Maluku.

Menurut berbagai literatur, asida atau asidah dikenal juga sebagai dodol Arab. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa asida menjadi panganan berbuka puasa saat bulan Ramadhan di berbagai wilayah di Indonesia termasuk di beberapa daerah di Pulau Sumatera dan di wilayah Timur seperti di Maluku.

Bedanya asida di yang dibuat di daerah lain selain Maluku berasa gurih dan menggunakan daging dengan vla dari susu.

Sementaraa asida dari Maluku atau dari Tulehu, seperti buatan oma Kota, dibuat lebih sederhana dan manis.

Berbeda dengan dodol umumnya yang menggunakan tepung ketan sebagai bahan dasar, asida hanya menggunakan tepung terigu, air, gula merah, mentega yang dicairkan, bubuk kapulaga dan bubuk kayu manis dalam takaran yang pas. Kapulaga dan kayu manis merupakan ciri khas berbagai kudapan dari Maluku yang terkenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah.

Asida asal Maluku selalu disajikan dengan lelehan mentega dan bubuk gula putih yang membuat rasanya manis dan gurih.

Di kota Ambon, ibukota provinsi Maluku, asida pada bulan Ramadhan biasanya dijual sebagai takjil di beberapa lokasi seperti di seputaran Masjid Al Fatah, yang merupakan masjid terbesar di kota itu, dengan harga yang cukup terjangkau dalam satuan-satuan kecil.

Namun kenangan Ramadhan masa kecil anak-anak ibuku tidak bisa hilang dari saat-saat menantikan waktu berakhir pekan di rumah oma Kota tiap tahunnya. Asida oma selalu terasa lebih enak dari yang dijual umum. Sayangnya hal ini hanya kami rasakan waktu kami kecil, karena setelah mengunjak usia untuk di sekolah menengah pertama, kami harus terpisah dengan oma.

Beberapa kali saya sempat mencoba asida di tempat lain di Maluku maupun yang dibuat warga Maluku di perantauan seperti di Jakarta, namun rasanya tetap belum dapat mengobati kerinduan pada asida buatan oma Kota.

Mungkin karena rasa karena asida oma dibuat dengan campuran rasa sayang pada kami cucu-cucunya, walaupun kami bukan darah dagingnya.

Oma Kota, memang bukan nenek sedarah kami. Ibu kami pun hanya sahabat putri bungsu oma. Kami pun tidak berpuasa saat Ramadhan karena berbeda keyakinan dengan oma sekeluarga, namun itulah bukti toleransi sederhana yang sudah kami rasakan sejak kecil di daerah yang beberapa puluh tahun kemudian pernah mencatat sejarah konflik horisontal bernuansa agama di dalam catatan sejarah bangsa Indonesia.

Cinta oma Kota bagi kami sampai hari ini masih terasa manisnya saat Ramadhan tiba dibalut kerinduan pada asida buatannya.

Benar adanya apa yang disampaikan aktivis hak-hak sipil Amerika, César Estrada Chávez pernah berkata:Orang yang memberimu makanannya, memberimu hatinya.

Ramadhan dan asida oma Kota adalah kenangan indahnya cinta dan toleransi dalam kudapan sederhana.


Photo by jojo (sharemyfoodd) ◡̈ on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *