Ramadhan di Istana Lima Cinta

+3

Oleh: Etika Aisya Avicenna

Awal Ramadhan tahun 2021 ini, Allah memberiku kesempatan mudik setelah 16 purnama tak menjejakkan kaki di tanah kelahiran, Wonogiri. Ada rasa haru bercampur bahagia kala laju kereta semakin mendekatkanku pada kampung halaman. Alhamdulillah, saat tiba di rumah, aku disambut senyum hangat Ibuk -panggilan sayang untuk Ibu-, kakak laki-lakiku dan istrinya, serta saudari kembarku, suami, dan anak sulungnya.

Rasa syukur membuncah dalam dada. Namun, sekuat tenaga kutahan air mata yang sudah hampir menetes, karena ada sosok yang tak kujumpai di dalam rumah penuh kehangatan itu. Dialah sosok Babe, almarhum ayahku yang telah berpulang pada 20 September 2019 yang lalu. Suasana di rumah tak lagi sama semenjak Babe tiada.

Semasa kecil dulu, aku dan Norma menamakan rumah kami dengan sebutan “Istana Lima Cinta” karena terdiri dari 5 anggota keluarga: Babe, Ibuk, Mas Dhody, Norma, dan aku. Aku sangat merasakan suasana penuh cinta di rumah. Ada Babe yang humoris, Ibuk yang sabar, Mas Dhody yang usil tapi penyayang, serta aku dan Norma si kembar yang kompak.

Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika Ramadhan. Saat sahur dan berbuka puasa, kami akan menggelar tikar di dapur. Lalu mengelilingi aneka hidangan yang sudah dimasak sepenuh cinta oleh Ibuk atau Babe. Babe juga jago masak lho, bahkan Ibuk berujar kalau beliau banyak belajar masak dari Babe. Saat sahur dan berbuka itu, kami bercengkerama dengan suasana penuh kehangatan. Babe sering mengisahkan cerita lucu semasa beliau masih kecil. Terkadang kami juga sama-sama khusyuk menyimak ceramah dari radio.

Saat sahur tiba, ketika hidangan sudah siap, biasanya Babe akan membangunkan aku, Norma, dan Mas Dhody. Waktu jelang sahur itu, aku dan Norma tidak dibangunkan lebih awal untuk membantu masak karena Ibuk merasa kasihan dengan kami yang masih kecil dan suka mengantuk saat sahur. Tapi beberapa kali kami juga membantu Ibuk dan Babe untuk sekadar menata hidangan di tikar.

Setelah sahur, kami ke Masjid Al-Ikhlas untuk salat Subuh. Terkadang kalau tidak sama Ibuk, aku dan Norma ke masjid bersama Mbok Pon (tetangga depan rumahku) dan Erna (sahabat kecilku). Seperti biasa, setelah Subuh ada kultum dan pasca itu, kami akan berburu tanda tangan penceramah.

Ketika jelang berbuka, aku dan Norma sering membantu Ibuk meracik bumbu atau sekadar mengupas dan memotong bahan masakan. Salah satu kebiasaanku dan Norma ketika membantu Ibuk mengupas bungkus tempe, kami juga asyik membaca tulisan yang tertera di bungkus kertasnya. Oh iya, salah satu masakan ibuk yang kusuka saat berbuka adalah tempe goreng, sayur asem-asem sayap ayam, dan kolak pisang.

Memasuki waktu Isya’, kami salat Isya’ dan tarawih ke Masjid Al-Ikhlas. Tak seperti anak-anak lain yang suka lari-larian dan ramai di masjid, aku, Norma, dan Erna lebih suka duduk manis untuk membaca Alquran, serta mendengarkan dan mencatat isi ceramah. Hal lucu saat tarawih adalah ketika aku hampir terjatuh karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Waktu itu baru rekaat kedua. Seketika aku kaget dan melanjutkan salat lagi dengan penuh rasa malu.

Suatu ketika, Bu Aini, guru SD untuk mata pelajaran Agama Islam meminta kami mengisi jurnal Ramadhan. Jurnal Ramadhannya bisa beli di koperasi sekolah atau membuat sendiri. Berhubung Jurnal Ramadhan yang dijual di sekolah ternyata kolom isiannya tidak banyak, sementara aku dan Norma suka menulis ringkasan ceramah, akhirnya Ibuk berinisiatif membuatkan kami Jurnal Ramadhan.

Ibuk sangat kreatif. Jurnal Ramadhan yang dibuat Ibuk sangat lengkap. Jurnal karya Ibuk inilah yang menginspirasiku dan saudari kembarku dalam menulis buku “Diary Ramadan”. Alhamdulillah, buku tersebut bahkan terjual ke berbagai daerah di Indonesia. Terima kasih untuk Ibuk yang telah menginspirasi kami.

Tiap selesai Salat Subuh di masjid, aku dan Norma jalan-jalan pagi agar tidak tidur setelah Subuh. Biasanya kami jalan-jalan bersama Erna atau Babe. Pernah suatu ketika, saat aku, Norma, dan Erna jalan-jalan, kami dikagetkan dengan suara petasan. Ternyata ada segerombolan anak iseng bermain petasan dan mengagetkan setiap orang yang lewat di situ. Meski merasa kesal, kami mencoba menahan diri dan menghindari tempat itu di hari berikutnya.

Oh iya, Babe bekerja di Dinas Sosial Kab. Wonogiri. Babe sering mengajak aku dan Norma ke panti asuhan serta panti jompo. Termasuk ketika Ramadhan. Saat di panti jompo, kehadiran kami selalu disambut dengan bahagia. Nenek dan kakek di sana seperti sudah menganggap kami cucu mereka sendiri. Pun saat berkunjung ke panti asuhan. Aku merasa bersyukur masih memiliki keluarga yang utuh di Istana Lima Cinta, bisa merasakan sahur dan berbuka bersama dengan Babe, Ibuk, Mas Dhody, dan Norma sedangkan anak-anak yang sebagian sebaya denganku itu bahkan ada yang tak tahu siapa orang tuanya.

Ramadhan selalu menghadirkan kisah yang tak terlupakan. Meski mungkin ada anggota keluarga yang tak lagi berada di samping kita pada Ramadhan kali ini, semoga tak menyurutkan semangat untuk terus membuat bulan mulia tahun ini menjadi Ramadhan terbaik.


Photo by Christopher Beloch on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *