Ramadhan, Catatan Ceramah Terawih dan Pisang Ambon

Oleh: Arman Tirtajaya

Siang itu Pak Guru Arifin sedang memberikan tugas untuk kegiatan belajar di bulan Ramadhan. Beliau mengingatkan agar selalu mengisi buku kegiatan Ramadhan yang disediakan oleh sekolah. Beliau juga menambahkan agar selama bulan Ramadhan kami harus dapat berpuasa sampai tamat tanpa bolong-bolong. Kegiatan belajar di sekolah diganti dengan kegiatan Ramadhan waktu itu. Besok adalah hari pertama puasa. Murid-murid kelas IV bersiap-siap untuk besok. Kami pulang ke rumah lebih awal waktu itu. Saya pulang jalan kaki bersama Endang, murid baru dari Tasikmalaya. Endang mengajak saya bersama-sama ke mesjid Al-Hidayah besok untuk mencatat ceramah di buku kegiatan Ramadhan. Ceramah diadakan setelah shalat Isya’ dan sebelum shalat tarawih.

Hari ini adalah hari pertama shalat tarawih. Rumah Endang berada di blok G, sebelah barat komplek. Mesjid Al-Hidayah berada di blok E dekat rumah saya, sebelah timur komplek. Rumah saya selalu dilalui oleh orang yang pergi ke mesjid sehingga Endang pun yang menjemput saya. Sepanjang perjalanan yang tidak terlalu jauh itu, Endang bercerita bahwa ayahnya akan mengirimkan seorang pelatih silat untuknya. Dia akan berlatih pencak silat di rumah sambil ngabuburit. Endang mengajak saya untuk ikut. Besok saya ditunggu olehnya pukul dua siang. Tak terasa sudah sampai mesjid yang dituju. Kami mendengarkan ceramah terawih dengan saksama. Kami berusaha mencatatnya sambil terkantuk-kantuk karena menurut kami ceramah terawih itu panjang sekali sehingga membosankan. Walhasil, kami tidak berhasil mencatat keseluruhan isi ceramah terawih tersebut. Kami sepakat untuk menyempurnakannya besok sebelum kami berlatih pencak silat.

“Jangan lupa besok bawa bukunya!” Endang mengingatkan.

“Ya, kita kerjakan bareng-bareng!” tegas saya.

Hari pertama puasa terasa lama sekali. Sepertinya detik jam dinding di ruang tamu berjalan sangat lambat. Bosan. Tetiba ada ide untuk berkunjung ke rumah Endang lebih awal dari yang sudah disepakati. Ternyata kebosanan menghinggapi Endang juga.

“Beruntung kamu, Man! Aku juga tadinya mau ke rumahmu,” Endang menjelaskan.

“Wah, kalau begitu, kita kerjakan sekarang saja tugasnya. Bukunya sudah kubawa,” saya usul.

“Siip, ayo!” Endang setuju.

Lalu kami mulai mengerjakan catatan ceramah terawihnya. Sejak pukul 10.00 kami mengerjakan tugas tersebut sampai waktu shalat Zhuhur tiba. Kami tidak ke mesjid karena di rumah Endang ada mushola. Selepas shalat, kami saling memeriksa catatan ceramah terawih. Ternyata banyak yang harus dikoreksi sampai-sampai kami hampir bertengkar karena kami ingin catatannya terlihat apa adanya sesuai dengan kenyataannya. Akhirnya, kami sepakat bahwa catatan yang kami tulis tidak usah sama. Terus terang saya agak kecewa pada waktu itu hingga lelah rasanya badan ini. Ketegangan terus mereda. Endang sudah seperti sedia kala malah Endang mempersilakan untuk duduk di ruang tamu. Saya perhatikan rumah Endang sepi seperti ditinggalkan para penghuninya kecuali Endang saja sendirian. Entah apa yang menghinggapi jiwa kami saat itu: Endang tawarkan pisang ambon. Rasa lelah dan kecewa hilang karena melihat pisang ambon di meja.

“Ini kayaknya enak,” sahutku menjawab tawarannya.

“Iya neeh,” Endang menegaskan.

Kami makan pisang ambon itu. Perut kosong terisi sudah. Kami ingin makan pisang lagi tapi Ibunya Endang keburu datang.

“Wah ada pisang ambon ya!” kata Ibu Endang.

“Iya, Bu. Terima kasih! Tadi aku dan Arman makan bareng,” tukas Endang.

Mata Ibu Endang menyiratkan keheranan. Beliau segera mengambil pisang ambon yang tergeletak di atas meja untuk dipindahkan ke dapur.

“Hari ini hari pertama puasa,” Ibu Endang membuat pernyataan.

Pernyataan ini membuat kami tersadar bahwa sedari tadi kami seharusnya masih berpuasa dan tidak makan pisang ambon itu.

“Eh iya, Bu,” saya menanggapi. “Tapi tadi kami benar-benar lupa bahwa hari ini hari pertama puasa.”

“Iya, Mah. Astaghfirullah,” tanggap Endang.

“Puasa kami batal, Bu?” saya bertanya.

“Asal tidak disengaja,” kata Ibu Endang. “Kamu bisa lanjutkan puasanya.”

Ibu Endang menyuruh saya segera pulang karena pelatih pencak silat yang dijanjikan ternyata tidak bisa hadir. Saya pulang membawa catatan ceramah terawih hasil diskusi bersama Endang. Sepanjang perjalanan pulang saya berpikir ternyata emosi yang meluap-luap pada saat diskusi tadi bisa membuat saya tidak sadar kondisi berpuasa. Sejak saat itu saya mencoba untuk tidak marah atau meluap-luapkan emosi pada saat Ramadhan karena takut membatalkan puasa.


Photo by Diane Alkier on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *