Ramadan dan Es Potong

+2

Oleh: Elfia

Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, tadinya keluarga ini lengkap mulai dari ayah, ibu, kakak, adik dan abng. Namun, tahun ini sosok yang membangun kan kami Setiap pagi, memasakan sahur dan berbuka kini sudah digantikan oleh pria tangguh. Sebab tahun lalu, dua hari sebelum hari raya idul Fitri, ibu kami telah di panggil oleh Sang Maha Pencipta. Maka, jadilah tahun pertama ini kami berpuasa tanpa ibu.

Ibadah yang diwajibkan dalam Islam adalah berpuasa di bulan Ramadan. Kewajiban puasa ini didasarkan pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

QS. Al-Baqarah ayat 183

Ayat tersebutlah yang selalu di ulang-ulang ibu kepada ku, sekarang hanya kata kata ibu dan gaya bicaranya yang bisa ku ingat. Di dalam keluarga, aku adalah anak laki-laki sulung dan mempunyai tiga adik perempuan. Mau tak mau aku harus membantu pekerjaan ayah untuk menjaga adik-adikku. Bukan pekerjaan mudah untuk menjalani ini semua, terlebih tanpa ada sosok ibu, di saat yang lain bisa mengutarakan isi hati dengan luwes kepada ibunya, namun tidak bagiku. Sekarang aku sedikit menjadi lebih pendiam tak banyak bergaul dengan teman-teman sebayaku. Ada separoh dari diriku yang telah hilang.

Bulan puasa, bukan bulan yang menjadi titik penghalang untuk melakukan kegiatan sehari-hari, hanya saja tidak sepenuh bulan-bulan sebelumnya. Contohnya saja hari ini, saat terik matahari tepat di atas kepalaku, aku berjalan di tengah aspal hitam ini, sepanjang jalan aku melihat aspal-aspal hitam mengembul seperti panas api yang membara. Kering dahaga mulai terasa di kerongkonga ini. terbayang, meneguk segelas air putih, betapa nikmatnya, Masya Allah.

Aku melewati sebuah warung kecil, dan akupun tau di sana ada berjualan es potong ketan hitam. Ku krocek saku celana sekolah, ada uang Rp2.000, aku langsung menuju warung kecil di seberang jalan tempat ku berjalan.

“Pak ada es potong ketan hitam?” Tanya ku

“Ada nak” tunggu sebentar

Es ini masih di tangan, aku ingin menghabiskan di sawung tengah sawah  tempat biasa aku menghabiskan lelah. Sesampainya di sana aku langsung merebahkan badan, dan bersiap-siap memakan es. Saat aku ingin memakannya, cicak jatuh di badanku, Astagfirullah, tersentak diri ini, apa yang telah aku lakukan. Sia –sia ibu mengajariku kejujuran. Meskipun keluarga tak melihat, tapi Allah maha melihanya. Segera ku lempar es tersebut ke dalam sawah.


Photo by Markus Spiske on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *