Ramadan Bersama Keluarga

+17

Oleh: Nur Afilin

Dari sekian memori masa kecil saat bulan Ramadan, bisa jadi kenangan saat di Tangerang lah yang paling berkesan. Ya, dulu kami sekeluarga tinggal di Perumahan Bumi Pasar Kemis Indah, Kabupaten Tangerang, Banten. Kebanyakan penduduk di sana dan sekitarnya biasa menyebut kompleks kami sebagai BTN. Bisa jadi itu karena perumahan kami adalah salah satu produk KPR bank BUMN tersebut. Aku masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu dulu.

Kembali ke soal kenangan Ramadan masa kecil di Tangerang. Bisakah kalian menebak mengapa aku sangat terkesan? Keluarga, itulah jawabannya. Di sanalah pertama kali dalam hidupku merasakan latihan serius beribadah di bulan Ramadan. Tentu warna-warni rasanya. Aku yakin kalian pun tak sedikit yang punya pengalaman serupa ketika pertama kali latihan puasa, tarawih, tadarus, dan sebagainya. Eits, meskipun kebanyakan tulisan ini terindikasi curcol kalian akan dapat hikmahnya nanti di akhir, lho! Jadi, selamat menyimak.

Kira-kira ketika itu aku masih kelas 3 SD. Itulah pertama kalinya aku dapat buku Kegiatan Bulan Ramadan dari sekolah. Entah apa yang merasukiku saat itu, aku sangat termotivasi mengisi seluruh halaman dalam buku legend itu. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya tujuanku yang masih lugu hanya satu, yaitu mendapat nilai tertinggi di kelas. Alhasil, aku sukses mengisi tuntas buku tersebut. Bu Guru pun memberikan nilai yang memuaskan.

Siapa orang di balik “kesuksesan” Ramadanku saat itu? Tidak lain ialah seluruh anggota dalam keluargaku. Bagaimana tidak, masing-masing mereka punya andil dalam menyulut semangatku untuk “ibadah”. Begitu yang akhirnya berhasil kusimpulkan setelah tumbuh dewasa.

Orang pertama dan paling utama tentu saja Mae (sebutan untuk ibu). Tangan dingin dan hati lembutnya berhasil meyakinkanku untuk berpuasa sejak azan Subuh hingga Magrib. Beliau juga punya jurus andalan untuk memotivasiku: memberi uang jajan lebih sehabis berbuka puasa.

Orang kedua tapi tak kalah hebatnya ialah Abah (begitu kami memanggil ayah). Beliaulah orang pertama yang mendidikku untuk tertib mengikuti Salat Tarawih dari awal sampai akhir. Ya, meskipun aku jadi malu sendiri jika ingat bagaimana cara Abah dulu menertibkanku yang awalnya suka bercanda saat salat berjamaah di masjid.

Berikutnya, kedua kakakku, Mas Nung dan Mas Ozim. Keduanya sukses memberikanku contoh yang baik dalam berpuasa, tarawih, dan tadarus. Sayangnya waktu itu aku belum berpikir untuk bertanya kepada mereka: Apakah motivasi ibadahnya itu juga demi mengisi Buku Kegiatan Ramadan?

Terakhir namun bukan yang tak bermakna tentunya, ialah kedua adikku, Iis dan Yayah. Mereka memang tidak lebih baik dariku dalam hal mengerjakan ibadah di bulan Ramadan. Wajar saja mengingat mereka masih berusia sekitar 4-5 tahun ketika itu. Tapi, jangan ditanya seperti apa puasa mereka! Khususnya Iis yang lebih tua daripada Yayah, sudah biasa puasa full (bukan setengah hari) selama Ramadan. Hanya Yayah yang kadang “bolong” puasa karena terprovokasi teman-temannya yang tidak puasa. Tetap saja aku salut kepadanya yang kecil-kecil cabe rawit, eh, kecil-kecil sudah mau latihan puasa.

Ringkasnya, kalau kata orang-orang: mestakung. Ya, semesta mendukung. Tak ada lagi alasan untukku saat itu untuk santuy saat Ramadan dengan dalih belum baligh. Apa kata dunia kalau aku yang sudah bukan lagi “anak kecil” (maksudnya kelas 1 atau 2 SD) masih nggak kuat puasa seharian, Tarawih berantakan, dan bolos tadarus?

Kini, dari sekilas kenangan masa kecilku itu banyak pelajaran bisa kupetik. Layaknya buah yang ranum, pelajaran itu harus bermanfaat bagi siapa saja manusia yang mau mencicipinya. Bagiku, pelajaran itu juga amat sayang jika hanya tersimpan dalam sel otak dan album foto yang kian lapuk dimakan zaman. Oleh karena itu, izinkan hamba yang lemah ini (halah!) mencatat, meringkas, dan membagikan pelajaran tersebut dalam satu kata: BERSAMA. Cukup satu kata itu saja menurutku sudah menggambarkan seperti apa seyogianya kita sebagai umat Islam menjalani hari-hari pengabdian kepada-Nya, khususnya di bulan Ramadan yang istimewa. 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim: 6).

Kota Bogor, 5 Ramadan 1442 H


Photo by Kevin Delvecchio on Unsplash

+17

One Comment on “Ramadan Bersama Keluarga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *