Muslihat Wudhu

+3

Oleh Fandi Yusuf

“Ayo… kita minum dari keran di Mushollah,” ajak seorang kawan berusaha meyakinkan aku. Hari itu memang sangat terik dan seperti kebanyakan anak-anak lain, meski sedang berpuasa dan terik siang hari, kami tetap main di lapangan. Tentu saja itu seolah memberikan karpet merah bagi rasa haus di tenggorokan.

Sempat ragu pada awalnya tapi rupanya dorongan rasa haus lebih kuat mengalahkan rasa takut. Akhirnya aku mengikuti langkah kawan-kawanku menuju Musholla.

Tiba di Mushollah, kami sudah tahu tujuan kami. Tempat Wudhu. Sengaja kami membagi tugas agar sebagian berjaga di luar. Memberi tanda jika ada orang lain yang datang. Kemudian bergantian memasuki tempat wudhu.

Glek..glek..glek.

‘’Aaaahhh….segarnya.”

Dahaga di tengah terik hilang seketika saat aku membuka mulut lebar-lebar di bawah keran musholla yang mengalirkan air deras. Segarnya. Ketika ada orang lain datang, kami dengan cepat berpura-pura wudhu dengan penuh penghayatan. Aku rasa orang dewasa yang melihat kami sebetulnya sudah paham muslihat semacam ini. Mungkin mereka pernah melakukannya juga saat masih kecil.

Sejurus kemudian kami berpura-pura menyelesaikan wudhu dan memasuki ruang sholat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sambil menahan tawa kami saling meledek satu sama lain.

“Eh lu minum yang paling banyak ya?” tuduh kawanku.

“Engga kok, cuma dikit.” Kataku membela diri.

“Yaaaah, tanggung tau. Padahal minum banyak aja sekalian. Maghrib masih lama….hahaha.”

Benar juga, kenapa tidak terpikir minum lebih banyak. Pikirku menyesal.

Untuk setiap perbuatan salah -terutama yang disengaja- selalu ada rasa penyesalan. Sepanjang sisa hari aku merasakan gelisah luar biasa. Pulang ke rumah, aku menghindarai berbicara dengan siapapun. Takut jika ada yang curiga dan muslihat wudhu di Musholla akan terbongkar. Aku segera masuk kamar dan pura-pura tidur hingga Maghrib.

Akhirnya memang tidak ada yang mengetahui kejadian muslihat wudhu itu. Tapi aku masih ingat betul jika rasa bersalah bertahan lebih lama dibandikan dengan dahaga haus yang hilang setelah minum air keran Mushollah. Selama beberapa hari setelah kejadian itu, aku merasa sangat gelisah. Dihantui rasa bersalah dan takut muslihatku terbongkar.

Muslihat wudhu tersebut adalah salah memori yang paling melekat dalam ingatan Ramadhan masa kecilku. Momen tersebut tentu lucu jika dilihat dari sudut pandang orang dewasa. Hal yang dimaklumi sebagai kenakalan anak-anak. Namun, mengingat momen tersebut saat dewasa, aku menyadarinya sebagai sebuah pembelajaran.

Ketika terbukti salah, orang bijak akan memperbaiki dirinya sendiri dan orang yang bodoh akan terus berdebat. Demikialah ungkapan terkenal dari Ali bin Abi Thalib. Percayalah bahwa dihantui rasa bersalah itu sungguh menyeramkan. Maka seperti ungkapan Ali bin Abi Thalib tersebut, Ramadhan telah memberikanku pembelajaran seperti halnya pada banyak manusia lainnya. Pembelajaran agar aku yang bodoh ini bisa menjadi orang bijak yang akan memperbaiki dirinya ketika melakukan kesalahan.

Semoga Ramadhan kali ini kita akan berhasil menjadi orang bijak yang terus memperbaiki diri dan melepaskan diri dari muslihat yang membuat kita merasa bersalah.


Photo by Dorsa Masghati on Unsplash


Fandi Yusuf adalah seorang penutur kisah melalui goresan garis dan kata. Karena setiap garis memiliki makna dan setiap kata memiliki arti. Ingin melihat garis dan kata yang dituturkannya, silahkan berkunjung ke IG: @yusuffandi.

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *