Membatalkan Puasa

Oleh Firsty Chrysant

Menurut saya, masa-masa bulan ramadhan sewaktu kecil merupakan salah satu masa hadirnya kenangan indah bagi semua umat islam. Karena banyak cerita indah di sana, banyak kejadian-kejadian lucu juga di sana. Da banyak kenangan-kenangan yang tak akan bisa dilupakan begitu saja, yang nantinya menjadi cerita menarik dan bikinketawa ketika diceritakan ketika sudah besar.

Itu pendapat sayaya, karena sewaktu saya kecil sangat banyak kenangan indah masa kecil saya bersama teman-teman saya. Salah satunya adalah yang mau saya ceritakan ini, tentang teman saya yang membatalkan puasanya sepuluh menjelang masuknya waktu berbuka puasa.

Jadi, di seputaran rumah saya di kampung, pada Bulan Ramadhan banyak muncul pedagang makanan dadakan. Ini bukan pedagng dadakan untuk menu berbuka puasa ya. Karena kampung saya bisa dibilang ngga ada penjual makanan berbuka dadakan buan ramadhan. Ya, namanya juga di kampung orang-orang pada masak menu berbuka sendiri.

Nah, yang pedagang dadakan yang saya maksud ini adalah pedagang sore dadakan untuk jajajn tradisional yang bisa dimakan anak-anak. Seperti karupuak leak, timun balado, anyang, angar-agar, bakwan, pastel, tahu balado dan lain sebagainya. Yang menjualnya pun biasanya anak-anak atau remaja. ‘Pasar dadakan ini dijual di persimpang jalan sekitar 50 meter di dekat rumah saya.

Biasanya jam lima sore para pedagang ini sudah mulai menggelar lapakya. Yang beli adalah anak-anak yang belum puasa atau anak-anak yang puasa setengah hari. Kami pun anak-anak yang sudah puasa pun biasanya sudah hadir juga di sana sekadar pengen liat makanannya, meski belum bisa jajan.

Dan biasanya, bagi saya dan anak-anak lainnya yang berpuasa, pemandangan ini menguji iman kami. Bagaimana tidak, sebagai anak-anak yang lagi belajar puasa, deretan makanan itu benar-benar menggugah selera. Rasanya semua makanan itu mau dimakan semua saking terlihat enaknya, hahaha

Nah, rupanya salah seorang teman kami ada yang benar-benar tidak bisa menahan rasa ‘ilerannya’ melihatbanyaknya makanan yang enak-enak terpampang nyata di depan mata. Berkali-kali dia berniat membatalkan puasanya dan mau membeli makanan yang diinginkannya. Berkali-kalipulan teman-teman lain menyuruhnya bersabar. Karena waktu berbuka tidak sampai setengah jam lagi.

Di kampung saya tersebut, bapak marbot mushala sangat rajin mengingatkan orang-orang bahwa waktu berbuka akan segera masuk. Biasanya sejak setengah jam sebelum masukwaktu berbuka ia sudah woro-woro-in kalau sebentar lagi waktu berbuka sudah masuk.

Ketika pak marbot sudah menyatakan waktu berbuka tinggal lima belas menit lagi, saya segera pulang ke rumah. Beberapa saat setelah tiba di rumah saya mendengar orang-orang heboh dari arah perapatan kecil. Saya mau lihat ada apa, tidak diijinkan lagi sama orangtua saya. Saya penasaran banget padahal dengan apa yang terjadi dong.

Setelah selesai berbuka puasa saya kabur ke luar rumah ke arah pasar dadakan. Saya tanya sama teman saya ada kejadian apa sebelum berbuka tadi yang membuat orang pada heboh. Teman saya menjawab kalau si Edi (bukan nama sebenarnya) membatalkan puasanya lima menit sebelum masuk waktu berbuka, hahaha. Teman-teman saya cerita dengan semangat sambil ketawa-tawa ngatai-ngatai-in si Edi tolol, bego, andia, pana, ongok dan sebagainya, hahaha.

Sepanjang bulan ramadhan si Edi kenyang dibully teman-teman atas kelakuannya tersebut. Ia, tentu saja tidak bisa membela diri karena semua anak mengolok-oloknya. Kalau orang dewasa sih paling awalnya saja yang mengolok-olok dia, setelahnya menasehati si Edi. Sedangkan anak-anak, teman-temanmain dia setiap saat membullynya dengan tertawa puas, hahaha.


Photo by Jun low on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *