Kenangan di Meja Makan

+3

Oleh Anamira

“Mas, ayo bangun, sahuuur, nanti keburu imsak..!”

Begitu cara Bapak atau Ibuku membangunkanku. Setiap malam di Bulan Ramadhan. Sesekali sambil mengelus-elus kepalaku atau punggungku. Nyaman sekali rasanya mendapat elusan dari mereka yang tersayang itu.

Sesudah itu aku segera bangkit menuju meja makan. Terkadang aku masih malas untuk bangun. Bahkan tak jarang kubawa guling kesayanganku sampai di meja makan. Tapi sering juga aku bangkit dari tempat tidur dengan bersemangat karena mencium aroma masakan Ibuku.

Ibuku berusaha selalu memasak untuk makan sahur. Alasannya kalau buka terkadang kami sudah cukup kenyang dengan berbagai kudapan yang ada. Seringnya bahkan kami tidak makan nasi. Tapi untuk sahur, ibuku ingin selalu menyajikan menu yang fresh untuk kami. Supaya puasanya semangat katanya.

Menu yang tersaji di meja makan kami tergolong sederhana. Salah satu menu sahur favorit saya adalah Sayur Bening Bayam dan Tempe Garit lengkap dengan Sambal Terasi. Menu yang sederhana itulah yang selalu membuat kangen dan menjadi kenangan tersendiri. Bagiku menu yang sederhana itu menjadi sangat nikmat karena ada bumbu cinta yang ditambahkan.

Aku tahu ibuku harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan menu sahur kami. Bahkan tak lupa menyempatkan untuk salat tahajud. Itulah mungkin salah satu sebab yang membuat masakan ibuku menjadi nikmat rasanya.

“Ah, Ibu, doa terbaikku untukmu selalu..”

Semoga Allah merahmatimu dengan limpahan kasih sayang-Nya.

“I love u so much, Ibu”


Meja persegi itu akan selalu menjadi kenangan indah yang dirindukan. Terbuat dari kayu Mahoni. Warnanya coklat mengkilat. Empat kakinya berwarna putih. Ada lima kursi dengan warna senada yang mengelilingi. Sederhana saja. Tidak mewah.

Sore itu selepas berbuka dan salat maghrib, perutku terasa tidak nyaman sekali. Rasanya ingin muntah. Kurasa aku kekenyangan.Aku sih tidak mengindahkan nasehat Bapak dan Ibuku tadi.

“Berbukalah secukupnya”.

“Perut kita ini punya kapasitas terbatas”.

Nasehat-nasehat sederhana yang akan selalu terkenang itu kerap kami dapatkan saat berada di meja makan.Setelah kami besar baru kami tahu petuah-petuah yang dulu Bapak Ibu sampaikan di meja makan. Iya di meja makan. Ternyata itu adalah satu momen kebersamaan yang sangat indah untuk dikenang. Terlebih saat Bulan Ramadhan. Bertambah-tambah istimewanya.

Bukan karena menu yang tersaji. Tapi lebih kepada nilai-nilai yang kami dapatkan saat makan bersama.

Ada banyak pendidikan berharga yang Bapak Ibu sampaikan secara tidak langsung. Tentang adab makan, tentang rasa syukur, tentang kepedulian terhadap sesama dan pelajaran hidup lainnya.

Satu ketika, saat berbuka, ternyata ada lauk dan sayur yang sama sekali belum tersentuh. Karena kami sudah kenyang dengan makan buah dan beberapa kudapan. Maka Bapak pun memintaku juga adikku untuk membagikan nasi lengkap dengan lauk dan sayur tadi kepada mas-mas yang sering bersih-bersih poskamling di depan rumah kami.

Sepertinya sederhana sekali. Tapi dari situ kami banyak belajar. Cara Bapak menumbuhkan kecerdasan spiritual anak-anaknya. Kreatifnya Bapak mengajari kami, bahwa ada banyak sekali peluang berbuat baik di sekitar kita. Tidak usah jauh-jauh. Bapak seperti hendak memberi tahu bahwa ini adalah masa dimana detik demi detiknya adalah peluang pahala berlipat. Jangan sia-siakan.

Meja persegi berwarna coklat mengkilat itu memang sangat sederhana. Tapi berbagai peristiwa yang ada di dalamnya menjadi sangat indah untuk dirindukan.

*) Terinspirasi dari kisah bocah laki-laki yang kini sudah beranjak besar.


Photo by Hermes Rivera on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *