Iklan Sirup dan Azan Magrib

Oleh: Mita Hidayanti

Ramadan dan masa kecil, dua momen yang menyenangkan. Ramadan, momen yang tiap tahun dinanti, selalu ada cerita di bulan mulia itu. Sementara itu, masa kecil adalah hal yang jika bisa ingin selalu diulang. Itulah sebabnya paduan kedua momen itu terasa manis untuk diputar kembali dalam kenangan.

Puluhan tahun lalu, aku dan kedua kakakku merupakan bagian dari mereka yang disebut anak-anak. Keseruan kami belajar berpuasa di masa anak-anak, memiliki banyak kisah seru. Jarak usia yang tak jauh, membuat masa  kami belajar berpuasa hampir bersamaan. Cara belajar kami pun hampir sama, yaitu terkadang sahur di jam lima atau enam pagi jika kesiangan, berbuka di tengah hari, memperbanyak tidur agar kuat hingga magrib atau berlama-lama saat mandi agar tetap segar.

Satu hal yang disepakati oleh seluruh anak yang berpuasa adalah bahwa saat yang paling dinanti ketika puasa adalah ketika azan magrib berkumandang. Hal itu bertambah menyenangkan bila menjelang waktu berbuka puasa telah terhidang beraneka macam makanan dan minuman di depan mata. Kala itu, rasa tak sabar menanti azan magrib berlipat ganda.

Aku dan kedua kakakku termasuk penanti setia azan magrib. Kami biasanya menanti kumandang suara yang dirindu itu di depan televisi. Kegiatan kami adalah menonton acara televisi, walaupun sebenarnya berfokus pada  menunggu azan magrib tayang di televisi kesayangan kami.

Untuk makanan favorit untuk berbuka puasa, satu menu spesial yang kami sukai adalah sambal kacang buatan mamah. Kami tak masalah jika gorengan, lontong atau mie bihunnya beli, asalkan sambal kacangnya buatan mamah. Dahulu, setengah jam sebelum azan, mamah sudah menata makanan dan minuman yang menggugah selera, dan tentu saja sambal kacang menjadi bintang utamanya. Kenikmatan makanan yang tersaji membuat fokus kami adalah kapan azan magrib berkumandang?

Detik-detik menjelang waktu berbuka menjadi lebih berat karena iklan di televisi lebih banyak menayangkan makanan minuman yang membuat perut semakin lapar. Tiga bocah -aku dan kedua kakakku- yang setia di depan makanan dan televisi, akan saling menggoda satu sama lain agar tak kuat dan membatalkan puasa. Tentu saja, semua bertahan, siapa yang mau kalah jika finish sudah di depan mata? Buat apa membatalkan puasa, jika magrib tiba sebentar lagi?

Riuh canda, saling goda, membuat kami tak fokus dengan tayangan televisi. Sedang asyik bercanda, tiba-tiba terdengar lantunan suara ‘Allahu Akbar Allahu Akbar’ dari layar kaca. Saat itu, tanpa pikir panjang, kakak tertuaku langsung meneguk es yang sudah disediakan mamah dan segera mengambil gorengan tambah sambal kacang. Namun, baru saja ingin melahap makanan istimewa itu, teriakan mamah terdengar. Mamah menunjuk layar kaca dan menjelaskan bahwa yang tadi terdengar bukan azan magrib, tetapi tayangan iklan sirup yang ada cuplikan azannya. Tak ayal, kami semua menertawakan  A’ Iyan -kakak sulungku- karena sudah tertipu iklan. Dengan menggerutu, kakakku itu meletakkan kembali piring yang sudah dipegangnya. Rasa kesal tampak jelas di wajahnya, karena minum padahal waktu berbuka tinggal sebentar lagi. Dia kesal karena batal di detik akhir menjelang berbuka. Mamah menenangkan dengan menjelaskan bahwa puasanya tak batal karena minumnya tak sengaja. A’ Iyan mengucapkan hamdalah, wajahnya kembali semringah. Sejak saat itu, kami selalu memastikan bahwa yang terdengar adalah kumandang azan magrib sesungguhnya, bukan bagian dari iklan.

Kejadian tertipu iklan sirup itu menjadi bahan ledekan bahkan hingga kini, berpuluh tahun kemudian. Kenangan yang manis, seru dan lucu. Kenangan yang terus kami ceritakan, hingga ke anak-anak kami.


Photo by frank mckenna on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *