Belenggu Setan

Oleh Lilik Istianah

Satu hal yang saya rindukan dimasa kecil adalah mendengar cerita atau dongeng dari nenek. Saat Ramadan seperti ini, sehabis sholat terawih bersama, saya dan beberapa saudara  berkumpul di kamar nenek. Di sana kami menggelar tikar sambil tiduran dan siap mendengar cerita dari nenek. Jika cerita sudah usai kami pun tidur bersama di tikar dibawah  ranjang nenek dan siap dibangunkan kala waktu sahur tiba. Sungguh ini pengalaman ramadan yang tak terlupakan bagi kami hingga dewasa.

Banyak cerita nenek yang membekas dalam benak saya, ada cerita kisah para nabi, kisah orang solih, kisah tentang lailatul Qodar dan banyak lagi. Salah satu cerita tentang Ramadan yang begitu melekat adalah cerita tentang bagaimana Allah memberi keutamaan di bulan Ramadan. Isi pesan  yang melekat dari cerita itu adalah “Saat Ramadan setan itu dibelenggu, dirantai”.

Pikiran kecilku membayangkan bahwa Allah punya penjara besar, yang ketika Ramadan, setan-setan itu dimasukkan ke dalamnya, kaki-kakinya dirantai sehingga tidak bisa berkeliaran bebas menggoda manusia yang sedang melaksanakan ibadah Ramadan.

Namun seiring berambah usia, saya justru mulai mempertanyakan, “Mengapa masih ada saja kejahatan di bulan Ramadan padahal katanya setan dibelenggu? dan mengapa juga ada orang yang ketika Ramadan rajin ibadah tapi saat Ramadan usai dia kembali malas?” .

Saya mulai berfikir dan menganalisis dengan sederhana ala remaja. Mungkin yang dimaksud setan adalah hawa nafsu yang menguasai diri kita. Maka, ketika orang berpuasa dan dalam keadaan lapar,  ia akan dengan mudah mengerem atau menurunkan hawa nafsunya. Berbeda kalau dalam kenyang, orang akan kelebihan energi sehingga lebih beringas dan hawa nafsu mudah menyala.

Ketika saya bertambah dewasa, saya semakin mengerti bahwa makna belenggu adalah terkungkungnya nafsu kita karena lapar. Tak hanya itu, suasana lingkungan yang mendukung, juga semangat beribadah di bulan Ramadan yang tinggi membuat kita bisa mengendalikan diri untuk tidak bermaksiat kepadaNya.

Keadaan lapar saat puasa juga bisa menjadi alasan mengapa setan enggan untuk mendekat, dan secara otomatis kita bisa aman dari godaannya. Berbeda dengan orang yang tidak berpuasa, nafsunya akan sulit dikendalikan dan setan mudah sekali menguasainya.

Dari sini saya jadi tahu bahwa jika kita mendekat pada ketaatan yang datang adalah ketaatan juga, dan begitu sebaliknya. Dengan puasa, kita mendekat pada ketaatan, mencari keridhoan dan jalan ketakwaan. Berbeda ketika kita mencari atau mendekat pada kemaksiatan, maka kemaksiatan dan jalan kesesatan yang akan kita dapatkan.

Maka, benarlah yang dinasehatkan Buya Hamka “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”.

 Nah, sekarang pertanyaannya apakah hawa nafsu yang bermakna setan dalam diri kita siap kita belenggu atau kita lepas begitu saja? 


Photo by Mitch Rosen on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *