Alif Lam Mim

Oleh: Iecha

Langkah kami gegas. Sebentar lagi azan Isya akan berkumandang. Seorang bermukena putih dan sarung kotak-kotak cokelat berdiri di tangga turun menuju masjid. Kami harus berhasil melintasi sosok itu sebelum azan terdengar. Sajadah yang tergulung di tangannya akan singgah ke bokong kami jika kami gagal. Memang tidak sakit, tapi malu.

Aku setengah berlari, begitu pun teman-teman sekamarku. Aku tidak peduli dengan perut yang begah usai menyantap makan malam dengan lauk ayam goreng ditambah mie instant yang diseduh temanku. Penting aku tidak digebuk. Urusan nasib makanan di perutku belakangan.

Tepat saat aku menginjak anak tangga ke dua, azan berkumandang. Aku menoleh ke belakang. Novi mendapat hadiah gebuk di bokong. Aku dan teman-teman menambahi hadiah itu dengan tawa, kemudian kami lari ke tempat wudhu sebelum kakak pengurus menangkap kami karena tertawa saat kumandang azan.

Ini bukan Ramadan pertamaku di sini. Tahun lalu, aku sudah menjalani dua puluh hari awal bulan suci di tempat ini. Kalau kalian berpikir aku sedang berada di pesantren kilat, hapus saja kilatnya karena aku ada di pesantren betulan. Tidak seperti Ramadan tahun lalu yang aku jalani dengan galau karena homesick, tahun ini aku sudah lebih enjoy.

Aku keluar dari tempat wudhu tepat saat iqamat berkumandang. Bersama teman-teman, kami mencari tempat aula sisi kiri masjid karena masjid sudah penuh. Hei, sebenarnya bukan itu alasan kami memilih aula. Jika kami berniat salat di masjid, pasti kami akan berangkat lebih awal seperti yang lain. Kami memang ingin salat di aula sebab aulanya terbuka tanpa dinding. Salat di situ sangat nyaman. Kami leluasa merasakan angin yang berembus.

Bruk!

Tiba-tiba satu barisan di hadapanku berjatuhan ke kiri seperti domino. Salat baru dimulai. Aku baru sedekap usai takbiratul ihram. Namun, pemandangan di depanku minta ditertawakan. Sekuat mungkin aku bertahan. Apalagi saat gerutu dari kakak kelas yang persis ada di hadapanku singgah di telinga. Ingin rasanya aku menoleh untuk mencari tahu siapa sosok yang berdiri paling kanan karena pasti dia pelakunya. Aku tidak melaksanakan keinginan itu. Bisa-bisa salatku yang sudah tidak khusyuk ini batal.

Usai salam, tidak ada satu pun yang kasak kusuk mencari tahu pelaku atau melempar tawa yang sempat tertunda. Semua terdiam, seakan khusyuk berzikir. Ini mustahil, batinku. Bagaimana bisa suatu adegan seru terlewat tanpa tertawaan? Pasti ada yang aneh.

Aku mengangkat kepala, menoleh ke sisi kanan. Tepat di ujung aula ada Kak Maya, pengurus asrama, yang berdiri tegak. Wajar kalau saat ini semua memilih memendam tawa. Bisa panjang urusannya kalau ketahuan tertawa. Kami akan dipanggil masuk persidangan dan keluar dengan kertas berisi catatan “kejahatan” yang harus ditandatangani walikelas, juga sejumlah surah untuk dihapal. Dalam suasana Ramadan, pasti akan repot untuk mencari waktu bertemu walikelas.

Usai salat ba’diyah dua rakaat, aku membuka buku Agenda Ramadan bersampul biru yang aku letakkan di bawah sajadah bersama sebatang ballpoint. Sebentar lagi, pengurus asrama putra yang bertugas akan mengumumkan siapa Bilal, siapa khatib, dan siapa imam. Aku tidak ingin terlewat barang satu huruf pun.

Berbicara tentang Agenda Ramadan, aku akui buku agenda ini jauh lebih bersahabat dengan yang aku punya dulu. Pada agenda yang diterbitkan mandiri oleh sekolahku ini tidak ada kolom tanda tangan imam Tarawih. Selesai salat, kami bisa langsung bubar tanpa harus mengejar imam seperti yang dulu sering aku lakukan. Aku bisa mengerti alasan sekolah meniadakan kolom itu. Murid di sekolahku melebihi angka dua ribu. Bisa-bisa imam baru menyelesaikan seluruh tanda tangan menjelang datang waktu imsak.

“Khatib untuk hari ini adalah Al-Ustadz Al-Mukarram Haji Salim S.Ag, dan untuk salat Tarawih akan dipimpin oleh Al-Ustadz Al-Mukarram Taufiqurrahman Lc, Al-Hafizh.”

Aku catat semua pengumuman yang sejatinya berbahasa Arab itu dalam buku agenda. Pengumuman sudah selesai. Khatib sudah check sound. Sebentar lagi aku akan menghujani agenda ini dengan tinta gel dari ballpoint-ku. Aku tentu tidak ingin diganggu oleh lelucon teman-temanku. Aku ingin catatan ceramah Ramadan-ku lengkap, sebab akan aku gunakan lagi untuk kegiatan latihan pidato.

“Imamnya hafizh.”

“Keren ya, udah bisa hafal Al-Qur’an.”

Terdengar bisik-bisik dari sisi kananku. Biasanya, akan berlanjut ke bisik-bisik lain yang membuat suasana aula mirip sarang tawon. Aku enggan menggubris. Yang sudah-sudah, Kak Maya akan datang dan dengungan seketika berhenti. Lalu berlanjut saat Kak Maya kembali beranjak.

Aku kembali menyimak sambil mencatat khutbah yang disampaikan Ustadz Salim. Seingatku, beliau walikelas di kelas Putra, entah kelas berapa. Khutbahnya membahas tiga bagian dalam Ramadan yaitu rahmat pada sepuluh hari awal, ampunan pada sepuluh hari pertengahan, dan dijauhkan dari api neraka pada sepuluh hari terakhir. Beliau menganjurkan untuk memperbanyak itikaf dan salat malam pada sepuluh hari di akhir Ramadan agar mendapat keutamaan.

“Bacaan salat malam sepanjang satu juz dibagi delapan rakaat jika memungkinkan,” pesan Ustadz Salim.

“Tapi, kalo hafizh, pasti bacanya panjang-panjang.” Dengungan di sebelahku kembali terdengar.

“Pasti. Satu juz. Ayatnya yang kita nggak tau.”

“Yah, lama, deh!”

Ustadz Salim menyudahi ceramahnya. Lembar catatan di agendaku pun sudah penuh. Kini waktunya salat Tarawih. Di sekolahku, salat Tarawih dilaksanakan sebanyak dua puluh rakaat ditambah tiga witir. Namun, murid dipersilakan salat delapan rakaat. Syaratnya, tidak membuat gaduh, tidak kembali ke asrama, dan tilawah sembari menunggu untuk mengerjakan witir berjamaah.

Aku berdiri, merapatkan shaf. Kakak kelas di depanku sudah mewanti-wanti pada orang di paling kanan shaf tidak berbuat macam-macam lagi. Aku terkikik kecil, begitu pun teman-teman di sebelahku. Kejadian tadi tentu masih lekat di ingatan dan memancing tawa siapapun. Adegan paling lucunya tentu saja saat kakak kelasku itu berucap tidak jelas sambil mengelus sisi kiri tubuhnya yang menimpa orang lain. Kapan lagi bisa mendapatkan momen aib dari kakak kelas jumawa itu?

Ustadz Taufiqurrahman melantunkan surah Al-Fatihah dengan fasih. Sangat nyaman terdengar di telinga. Suaranya yang berat berwibawa membuat siapapun yang mendengar terbawa suasana dan memilih menikmati bacaannya daripada membiarkan pikiran melanglang buana. Aku pun seperti itu. Telinga dan pikiranku fokus pada surah pembuka yang dilantunkan. Padahal, biasanya pikiranku berkelana dan baru akan kembali saat imam bertakbir untuk rukuk.

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Alif laam mim. Dzalikal kitabu laa roiba fiih.”

Apa?! Al-Baqarah?! Satu juz?! Satu surah?!

Pikiranku tidak dapat kembali berkonsentrasi. Dengungan teman-teman tadi yang justru terngiang, kalau hafizh pasti bacanya panjang-panjang. Aku sulit membayangkan berapa lama salat Tarawih hari ini jika bacaannya satu juz atau malah 286 ayat Al-Baqarah. Hanya saja, nyaliku ciut duluan. Kakiku sudah bisa merasai pegalnya meski aku biasa salat delapan rakaat. Aku harus bagaimana? Mustahil kalau kabur ke kamar. Sepertinya aku harus membatalkan salat dan menikmati bacaan Ustadz Taufiq sambil duduk di tempat wudhu sebelum kakiku menjerit minta pijit.

“Wa ulaaika humul muflihuun.” Ustadz Taufiq menutup ayat lima Al-Baqarah. “Allahu akbar!”

Aku mendengar napas-napas lega terembus dari sekelilingku. Sepertinya juga dariku sendiri. Lekas aku rukuk agar tidak ketahuan khusyukku lenyap. Di rakaat dua dan seterusnya aku berusaha untuk khusyuk dan menikmati salat Tarawih yang dipimpin Ustadz Taufiq.


Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *