Aku dan Ramadhanku

+1

Oleh: Dian Fitri Lestari

Allahu Akbar, Allahu Akbar! Suara Adzan terdengar begitu gagah dari masjid di dekat rumahku. Mama segera mengingatkan ketiga anaknya untuk bergegas Shalat Subuh. Aku selalu bersemangat ketika Adzan Subuh berkumandang, tetapi bukan karna ingin menyegerakan Shalat, melainkan ingin segera bermain bersama teman-teman sepulang dari masjid.

“Dian… Dian… Sholat, yuk!” Teriakan Rahayu dengan lantangnya di depan pagar rumahku. Dengan suaranya yang cempreng itu, bukan tidak mungkin tetangga hingga gang belakang rumahku dapat mendengarnya. Aku segera keluar dari rumah, mengantisipasi agar Rahayu tidak berteriak lagi.

Aku, Rahayu, dan sembilan teman lainnya berjalan menuju masjid setengah berlari. Alfi dan Dharma seperti biasa selalu gaduh di jalanan, memainkan sarung mereka seakan-akan mereka itu Si Pitung yang ahli bela diri. Ya begitulah memang jika bermain dengan anak lelaki, ada saja tingkahnya.

Suara iqomah mulai terdengar, tetapi kami masih sibuk berebut kran air untuk berwudhu. Aku mengajak Rahayu ke toilet saja dari pada menunggu antrean anak laki-laki yang berwudhu sembari bercanda. Rahayu setuju dan kami berjalan ke arah toilet yang berada di sudut masjid. Letaknya yang berada di balik tempat wudhu dan berbatasan dengan pohon besar membuat toilet terasa sangat jauh dan menyeramkan.

“Gelap banget, Yu. Lampunya mati lagi. Aku Takut, Yu.”

“Udah ga usah takut, kita masuk berdua aja. Wudhunya bareng. Shalatnya hampir mulai.”

Bismillah. Aku berwudhu sembari menoleh ke kanan dan kiri, sesekali melihat ke arah atas, kalau-kalau muncul sesuatu yang menyeramkan dari atap toilet yang bolong. Adegan-adegan di film horor seketika terlintas begitu saja di fikiranku. Syukurlah aku sudah selesai berwudhu. Aku dan Rahayu berjalan cepat dan memasuki shaf shalat.

Kami berjalan mengendap-endap diantara khusyuknya para jama’ah berdzikir, segera pulang ke rumah hanya untuk meletakkan alat shalat dan mengambil seperangkat mainan. Tujuan pertama kami adalah Lapangan Sekolah Dasar yang cukup luas dan memiliki pohon yang rindang.

Wangi angin dingin menyejukkan tubuh kami yang bermandikan keringat. Permainan sepak bola memang sangat menguras tenaga, sehingga kami perlu beristirahat untuk mengembalikan tenaga kami. Nekat memang bermain sepak bola di saat puasa, tapi keseruan bersama teman-teman menghilankan haus dan lelah.

Menjelang waktu Dhuha permainan bola berakhir, seperangkat mainan monopoli pun digelar. Bak milyarder kaya raya, aku dan teman-teman saling memperkaya diri dengan membeli hotel dan apartemen di setiap negara. Sesekali merasakan seperti orang miskin dengan banyak hutang dan sesekali merasa seperti narapidana. Pernah suatu saat kami merasa kesal karena dalam beberapa ronde permainan hanya Ari yang terus menerus menang.

Ketika sudah bosan permainan pun berganti. Permainan tepok kartu dan kelereng menjadi pilihan karena tidak menghabiskann banyak energi. Walaupun aku perempuan, aku cukup ahli bermain kelereng, sering kali aku pulang dengan membawa kelereng yang jumlahnya cukup banyak dari hasil kemenanganku.

Pekan terakhir Ramadhan adalah waktu yang paling aku suka, karena kreativitas setiap anak akan terlihat. Setiap anak akan membuat kartu ucapan lebaran yang akan dibagikan pada semua teman kami di RT. Sekitar 20 sampai 30 kartu ucapan kami buat dengan manual. Pensil warna, spidol dan kertas origami menjadi hiasan andalan. Kemampuan menulis indah kami pun diuji. Bangga rasanya ketika kartu ucapanku terlihat cantik dengan tulisan tegak bersambung dan gambar yang indah.

Matahari sudah tegak di atas kepala, waktunya kami pulang. Air wudhu terasa bagai oase di tengah gurun pasir, mengurangi rasa gerah dan haus. Setelah shalat zuhur, aku merebahkan tubuhku di ranjang. Terlelap menghilangkan penat setelah bermain sepanjang pagi. Lelah, tapi menyenangkan. Kerinduan akan masa-sama yang tak dapat terulang hanya dapat aku simpan sebagai memori tak terlupakan. Itulah aku, dan Ramadhanku.


Photo by Jelleke Vanooteghem on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *