Ramadhan dan Celengan Lebaran

Oleh: Wiekerna Malibra

Alhamdulillah Tahun ini Ramadhan lebih terasa gempita daripada tahun kemarin. Semoga tahun depan Corona benar-benar sirna dari dunia hingga semarak Ramadhan dan Hari Raya kembali membahana di dunia.

Ramadhan, selalu mengingatkanku pada bayangan masa kecil. Ada satu keunikan di setiap bulan Ramadhan dari Ibuku. Yakni setiap menjelang Lebaran atau Hari Raya, Ibuku selalu mengeluarkan celengan simpanan dari dalam lemari dan membukanya di hadapanku. Ibuku selalu mengajakku menghitung receh demi receh dan lembaran demi lembaran dari dalam celengan. Setelah semua uang dari celengan terkumpul dan terhitung, maka Ibuku membagi sama rata hasil uang celengan menjadi beberapa bagian. Alhasil uang yang semula kulihat begitu banyak setelah dibagi beberapa bagian, uangnya menjadi sedikit. Dan salah satu bagian dari yang “sedikit” itu diberikan padaku.

“Ini buat kamu beli baju Lebaran. Dan ini buat saudara-saudara kamu. Mama udah sisihin. Udah siapin. Jadi kalau nanti Uwakmu dan Mamangmu datang minta jatah baju lebaran buat anak-anaknya, ini udah ada uangnya.”

 Aku syok. “Kog bisa?!”

“Kasihan Uwak dan Mamangmu. Kerjanya gak tetap. Kadang kerja, kadang nggak. Yang kasihan anak-anaknya jadi nggak bisa nyalin baju baru Lebaran nanti.”

Aku cuma bisa diam. Dalam bayanganku semula, aku akan membeli beberapa pasang baju dan sepatu juga sandal Lebaran bahkan juga beli tas baru untuk sekolah. Ternyata tidak seperti itu. Ibuku menyiapkan tabungan dalam celengan Lebaran bukan hanya untuk aku, anak satu-satunya, tapi sekaligus untuk keponakan-keponakannya. Dua keponakan dari Mamangku dan dua keponakan dari Uwakku. “Kebayang gak sih kecewa dan sedihnya aku kala itu, kalau dirimu jadi aku?!”

Dan memang seminggu sebelum Lebaran, Uwak dan Mamangku datang beserta anak-anaknya. Ibuku sukacita menyambut mereka dan saat mereka pulang, Ibuku membungkus makanan bukaan hari itu dan juga sekaligus bekal mentah untuk mereka esok harinya. Terakhir, Ibuku memberikan ”uang celengan Lebaran” kepada anak-anak Uwak dan Mamangku. Yang tentu saja disambut gembira oleh Mereka.

Aku hanya bisa ikut tersenyum. Kata Ibuku, “Kalau kamu tidak marah dan rela ikhlas memberi pada saudaramu, nanti kamu dapat pahala tambahan dari Allah bukan hanya pahala puasa saja.” Jadi karena teringat kata Ibuku, maka aku diam saja. Bukan lagi “Pahala tambahan” yang aku pikirkan, tapi saudara-saudaraku yang sebenarnya kekurangan itu. Dan kebiasaan mereka itu terus berulang, bertahun-tahun, hingga aku merasa itu hal biasa dan tak lagi mempermasalahkan uang celengan Lebaran Ibuku.

Belakang hari, bertahun sesudah itu, setelah aku bekerja dan mendapat gaji yang lumayan besar, aku justru menggantikan posisi Ibuku saat menjelang Lebaran, membelikan saudara-saudaraku baju baru. Aku lakukan itu untuk meringankan beban Ibuku dari kebiasaan mereka yang selalu datang dan berharap dapat baju Lebaran.

Ramadhan, dalam ingatan masa kecilku adalah bukan hanya belajar puasa sebulan, tanpa makan dan minum dari pagi hingga petang. Berusaha menahan marah, bersikap baik dan bertutur kata yang baik, untuk tidak membuat kesal apalagi marah orang lain. Tapi yang lebih penting lagi, Ramadhan adalah “memberi lebih” pada mereka yang membutuhkan terutama saudara kita.

“Bagaimana menurut kalian?!”


Photo by Annie Spratt on Unsplash


Wiekerna Malibra bergabung dengan FLP Jakarta tahun 2008. Puisinya dimuat di LINIFIKSI dan Jejak Publisher. Puisi Antologinya: Tahun 2018:“Cinta Di Bumi Raflesia” dan “Kutulis Namamu Di Batu”. Tahun 2017: “The First Drop Of Rain”, “Perempuan Memandang Dunia”, “Roncean Syair Perempuan”, “Antologi Puisi Rindu” dan “Gempa Pidie 6,4 SR. 05.03 WIB”. Tahun 2016: “Kumpulan Puisi Kopi 1,550 mdpl”, “Tifa Nusantara 3: Ije Jela”, “Cimanuk, Ketika Burung-Burung Kini Telah Pergi”, “Puisi Peduli Hutan” dan “Arus Puisi Sungai”. “Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut”, 2015. “Puisi Kartini 69 Perempuan Penyair Indonesia”, 2012. Kumpulan Puisi TKI 2012, dan 4 kumpulan puisinya dimuat www.kompas.com (2010-2012). Antologi Cerpennya “Wak Ali dan Manusia Lumpur”, FLP Jakarta, 2016. Cerpen lainnya di Majalah Sekar dan Story juga dalam KumCer Anak. Juara III Lomba Cerpen QLC Trenggalek 2010. Juara I Lomba Cerpen Inaugurasi Pramuda FLP Jakarta 2008. Resensi: Novel Casuarina, 2009 dan “Munir, Cermin Yang Mewariskan Keberanian”. Esai Antologi: “Guru Kehidupanku”, 2011 dan “24 Jam Sebelum Menikah”, 2009.

One Comment on “Ramadhan dan Celengan Lebaran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *