Ramadhan, Antara Hadiah atau Janji

Oleh Efrie Leistarie

“Nanti kalau kamu puasa akan diberikan hadiah dari papa dan mama”, begitulah bujukan yang sering terdengar saat jelang Ramadhan tiba. Kebanyakan orang tua pasti ingin buah hatinya turut puasa sebagai bekal di masa depan. Namun, janji tesebut tiada kudengar dari kedua orang tuaku. Pernah sekali iseng ku tanya pada orang tuaku. Mengapa kami tak pernah dijanjikan untuk diberikan hadiah Ramadhan. “Janji itu hutang”, kata Abi. Selain itu, banyak sekali alasan yang disampaikan. Kebutuhan kami sangat banyak saat itu. Nanti jadi kebiasaan pamrih kalau ibadah dijanjikan mendapat ini dan itu. Biar Allah saja yang memberikanmu hadiah. Begitu alasannya. Saat itu aku pun hanya bisa mengangguk saja.

Selain tak ada janji yang terucap, kedua orang tuaku begitu disiplin dalam mendidik keempat anaknya. Masih ingat saat dimana kami balita dibangunkan sahur. Lalu belajar puasa setengah hari. Kami dianjurkan puasa penuh sejak duduk di kelas 1 sekolah dasar. Berasa sekali beratnya puasa saat itu. Kutemui adik-adikku makan dan minum. Kedua orang tuaku selalu menyemangati. Begitu pula dengan adik-adikku yang memulai puasa saat kelas 1. Sebagai anak pertama, aku ikut menyemangati. Kasih contoh gitu ceritanya.

Belajar dari pengalaman kecil, aku pun menerapkan hal yang sama ke Aufa anak semata wayangku. Saat usia setahun, Aufa sudah dibangunkan untuk sahur bersama. Tega banget ya. Ya menurutku bukan karena teganya. Aku dan suami ingin memulai menanamkan nilai religi khususnya Ramadhan sejak dini. Sebelum terlambat.

Di usia dua tahun, Aufa kecil mulai bertanya. Mengapa ia dibangunkan. Jawaban singkat kusampaikan. “Temani Ummi dan Ayah sahur ya. Kalau sudah selesai salat subuh,  Mas boleh tidur.” Proses sahur bersama ini menurutku sangat efektif. Perlahan mulai tertanam bahwa ketika Ramadhan akan ada waktu sahur dan jadwal makan minum berkurang. Aufa termasuk anak yang banyak bertanya.  Dengan banyaknya Aufa bertanya, aku senang karena ia mencari tahu tentang apa yang dilakukan orang tuanya saat Ramadhan.

Awal Aufa melakukan puasa penuh, usianya lebih cepat dari  usiaku. Di usia 4 tahun, Aufa sudah bisa mengikuti puasa sejak bakda sahur hingga magrib. Ingin rasanya menjanjikan sesuatu padanya. Aku ajak suami berdiskusi akan hal tersebut. Ternyata, Ayah Aufa tak menginginkan adanya janji hadiah Ramadan. Biarkan apa adanya. Sangat sama apa yang terjadi saat aku kecil. Jangan membiasakan hal yang bisa merugikannya di masa depan. Jika ada rezeki maka berikan. Berusaha dan berdoa itu yang utama. Begitu alasannya.

Pernah suatu waktu Aufa SD ditanya oleh saudaranya. “Kamu dapat berapa kalau puasa? 10.000 per hari atau 5000? Aku 10.000 puasa, 10.000 tilawah Quran/lembar”. Seketika kulihat wajah Aufa yang mengerutkan alisnya. “wah banyak banget. Aku ga diberikan apa-apa. Katanya puasa itu dijanjikan akan dibalas sama Allah” jawab Aufa semangat. Tak kuduga akan jawaban Aufa. Ia menyampaikan sama seperti yang disampaikan ayahnya. Bahwa balasan bagi orang berpuasa akan diberikan Allah rezeki dan pahala yang berlipat.

Tibalah lebaran datang di waktu pertama Aufa puasa penuh. “Ummi, kenapa Aufa dapat uang lebaran? Katanya puasa itu dibalas sama Allah. Kenapa semua kasih uang ke Aufa?”, kata Aufa saat mendapat uang lebaran dari kakek, nenek, mbah, om dan tantenya. “Iya kan karena kita puasa maka sama Allah diberikan rezeki lewat mereka”, jawabku. “Alhamdulillah ya Mi. Asyik dah kalau gitu Aufa mau terus puasa ah tiap hari biar dapat uang”. Ujar polosnya Aufa. Begitulah fitrahnya anak. Bahwa apa yang dilakukan diapresiasi maka tumbuh motivasi lainnya.

Simpel saja,  renungan buat saya bahwa bulan Ramadhan ada banyak kisah yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran. Untuk memulai mengenalkan Ramadhan ada banyak cara pula yang bisa dilakukan.  Ramadhan pun mengajarkan kita untuk menyesuaikan diri sesuai kebutuhan. Jika ingin mendidik pembiasaan dengan  memberikan penghargaan, berilah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Tak perlu sungkan untuk mengatakan kepada anak akan keadaan yang terjadi. Sampaikan saja apa adanya. Semua pasti memiliki alasan masing-masing. Terpenting yang harus diingat adalah bagaimana ibadah Ramadhan bisa dijalani dengan penuh hikmah.


Photo by Daniel Cheung on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *