Mapag Puasa

+5

Oleh: Emy Srie

Ramadhan datang lagi tahun ini. Alhamdulillah, bisa dipertemukan dengan bulan mulia ini. Bulan ini juga mengingatkan tentang tradisi-tradisi yang biasanya kami lakukan sekeluarga sebelum atau menjelang lebaran nanti.

Dari kecil, aku mengenal tradisi “mapag”. Tradisi ini diadakan satu atau dua minggu sebelum puasa Ramadhan hari pertama dilaksanakan. Mbahe (panggilan untuk nenek) biasanya melaksanakan “mapag” pada hari Minggu. Mengapa mengambil hari tersebut? karena pada hari itu, aku libur sekolah. Jadi, bisa membantu mengantarkan banca’an (masakan yang telah dimasak) kepada para tetangga. Selain itu, jika masakan sudah matang, aku bisa langsung makan.

Pagi hari sekitar pukul enam, Mbahe mengajakku ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak. Ada kentang, bihun, ayam, tempe serta kelapa muda untuk dibuat srundeng (kelapa muda yang diparut memanjang dengan ditambahi bumbu-bumbu kemudian disangrai).

Sekembalinya dari pasar, Mbahe segera mengeluarkan belanjaan. Tak lupa aku turut membantu. Aku segera diberikan tugas untuk memotong tempe dengan potongan memanjang karena akan dibuat oseng tempe. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan favoritku, karena aku bisa makan tempe yang masih mentah. Kata orang-orang makan tempe mentah bisa sakit perut, untungnya hal itu tidak berlaku untuk perutku. Usai memotong tempe, aku diminta untuk memotong kentang untuk dibuat sambal goreng. Sedangkan Mbahe memotong ayam untuk dibuat menjadi ayam semur. Bihun yang dibeli juga dicampur dengan ayam semur agar terasa lebih manis.

Sekitar pukul empat sore, semua masakan sudah jadi. Kami segera membaginya ke dalam beberapa rantang kecil untuk dibagikan kepada keluarga dan juga kerabat sekitar kami. Hal yang paling aku sukai jika mengantarkan banca’an adalah saat diberikan uang kertas sebesar seratus rupiah. Aku bisa dapat hingga lima ratus rupiah. Jumlah yang besar untuk anak usia delapan tahun.

Selain itu, jika Ramadhan hampir berakhir, bisa dipastikan bahwa aku akan mendapat jatah baju lebaran paling banyak dibandingkan sepupuku yang lain. Mengapa demikian? Karena aku adalah anak yatim piatu sejak usia delapan tahun. Di usia delapan tahun, ayahku menyusul ibu ke surga. Ibu sdendiri meninggal saat usiaku dua tahun. Jadi, hingga saat ini, untuk mengingat bagaimana wajah ibu, aku merasa kesu;itan. Kalau pun ingat, itupun hanya dari foto saja.

Ada satu hal lagi yang paling berkesan jika Ramadhan tiba, yaitu kembang api. Mbahe selalu membelikanku kembang api yang panjangnya sama dengan panjang tanganku. Bisa kalian bayangkan? Panjang banget kan. Tidak hanya satu, Mbahe pasti membelikan empat kotak sekaligus.

Satu kotaknya berisi delapan buah kembang api yang digunakan selama satu minggu. Jadi, jika Mbahe membelikan empat kotak, berarti itu untuk empat minggu selama bulan Ramadhan.

Benar-benar Ramadhan yang menyenangkan untuk dikenang. Tradisi mapag dan juga kembang api begitu membekas dalam ingatanku hingga kini.


Photo by Maarten van den Heuvel on Unsplash

+5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *