Malam Ramadhan di Pasar Malam

+10

Oleh: Delfitria

Ayahku adalah seorang pedagang pasar malam. Ia pernah memiliki toko di Tanah Abang. Tapi sepertinya rezekinya tidak begitu mujur sehingga harus gulung tikar dan kembali ke pasar malam. Tentunya pasar yang berbeda setiap malam. Kadang di Jakarta Barat, Jakarta Selatan bahkan sampai Jakarta Pusat. Bagiku, penampilan pasar malam adalah zona aman untuk bercerita. Aku melihat banyak fenomena di sana. Salah satu yang paling ku ingat adalah fenomena Ramadhan di pasar malam. Alih-alih guru ngaji yang memberikan nasihat untuk selalu menghidupkan malam selama Ramadhan, yang ada bagi mereka para pedagang pasar malam adalah cara menyambung hidup esok harinya.

Suara Adzan Dzuhur terdengar di Hari Minggu. Hari Minggu artinya Pasar Malam di Jakarta Pusat. Lokasi yang cukup jauh dari rumah sehingga sebelum Asr kami sudah siap  berangkat. “Nanti Kakak nyusul, yaa!” perintah Ayahku. Ayah benar-benar tidak mengizinkan anaknya di rumah saja. Kata Ayah, anaknya harus belajar mencari uang, salah satunya dengan membantu segala hal di Pasar Malam.

Setelah sampai di lokasi, banyak pedagang lainnya berdatangan dan menempati lapak. Mereka mengangkut barang dagang dengan mobil, motor, bajaj bahkan ada yang menggunakan sepeda untuk sampai ke sana. Rasanya benar, manusia akan mencoba semua hal untuk mendapatkan uang.

Satu per satu lapak didirikan. Beberapa kali ku berkeliling untuk melihat semua pedagang membangun lapak dari ujung pasar ke ujung lainnya. Bagiku yang masih belajar, kegiatan ini menguras tenaga dan hampir-hampir membuatku batal puasa.

Bayangkan! Memasang tenda, menyusun rak dagang, mengeluarkan barang dagangan dan menyusunnya harus kelar sebelum Adzan Asr. Adzan Asr banyak pembeli yang lewat sekadar untuk ngabuburit. Ini peluang, bagi kami. Meskipun banyak dari para pedagang yang bertahan dalam keadaan puasa, namun sebagian lainnya mengumpat di balik tirai warteg. Aku bisa duga, mereka yang berbuka di siang hari penyebabnya adalah karena semalam tidak sempat sahur (baru pulang berdagang) atau perjalanannya sangat jauh untuk bisa ke pasar ini.

Aku teringat dengan ceramah guru ngajiku. Gambaran Ramadhan di mimbar-mimbar masjid terasa sempurna, namun rasanya sangat berbeda jika di pasar ini. Ketika semua orang mendekati waktu berbuka, para pedagang berbuka dengan seadanya, bergantian dengan teman dagangnya. Mereka terburu-buru melayani pembeli yang datang. Ketika waktu Tarawih? Ya, tentu tidak tarawih. Biasanya pedagang hanya shalat Isya lalu kembali ke lapaknya.

Ayah Ibu pun begitu. Hingga akhirnya kami pulang dari Pasar Malam pukul 01.00 WIB, kami melanjutkan dengan sahur karena kalau tidak, kami bisa tertinggal sahur dan tidak bangun. Bayangkan! Pola hidup seperti ini benar-benar menguji batas syukur dan kufur selama bulan Ramadhan.

Aku yang saat itu begitu semangat membangun Ramadhan, selalu meminta jatah Tarawih di Masjid terdekat Pasar. Guru Ngajiku bilang bahwa Shalat Tarawih hanya ada di bulan Ramadhan. Aku tidak mau melewatkan ini. Belum lagi aku harus checklist amalan harian yang diminta sekolah. Itu menjadi alasan yang cukup kuat untuk ikut Tarawih. Meskipun di hati begitu sedih karena  Ayah dan Ibu hampir-hampir tidak merasakan tarawih karena pasar malam.

Terkadang aku berpikir, mengapa, ya, keluargaku tidak punya pekerjaan yang mendukung ibadah di Ramadhan? Mengapa tidak seperti keluarga yang lain? Pertanyaan itu tidak terjawab dari kecil hingga saat ini. Masa-masa yang akan selalu ku ingat hingga kini.

Qadarullahnya, Ayahku tak lagi berjualan di pasar malam karena kondisi pandemi telah menutup banyak pasar beroperasi. Iya, Ayah kehilangan pekerjaannya. Di sisi lain, Bulan Ramadhan ini, kami jadi lebih sering tarawih di rumah bersama. Apa aku akan bilang Ramadhan ini yang terbaik dibanding sebelum pandemi? Tentu tidak. Kita tidak pernah benar-benar tahu ibadah mana yang diterima, bukan?


Photo by Chris Slupski on Unsplash

+10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *